Hanya Bertani, Petani Tak Sejahtera

Editor: Ivan Aditya

HARIAN Kedaulatan Rakyat terbitan 25 September 2017 pada halaman 8 mengekspose berita berjudul : Meski NTP DIY Turun; Kesejahteraan Petani Belum Tentu Turun. Hal ini telah diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY JB Priyono di Yogyakarta pada Minggu 24 September 2017.

Nilai Tukar Petani (NTP) DIY sebesar 102, 87 atau mengalami penurunan 0,05% pada Agustus 2017, dibanding indeks bulan sebelumnya yang tercatat 102,92. Penurunan NTP DIY tersebut pada praktiknya jauh lebih besar tetapi dampaknya terhadap kesejahteraan petani perlu dilihat pada pangsa atau share struktur pendapatan rumah tangga petani, baik dari sektor pertanian murni ataupun sektor non pertanian. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.

NTP Formalitas

Barangkali sekarang ini NTP sudah tidak lagi menunjukkan sebagai indikator kemampuan daya beli petani, khususnya petani tanaman pangan. Hal ini terutama disebabkan yaitu bahwa hampir semua petani sudah tergolong sebagai petani gurem atau petani berlahan sangat sempit sebagai akibat dari proses fragmentasi lahan atau pemecahan lahan pertanian secara malwaris yang berlangsung secara terusmenerus. Petani gurem tidak mampu bertani secara komersial atau bertujuan mencari keuntungan, tetapi bertujuan untuk menyediakan pangan terutama beras bagi keluarganya. Hasil produksi pangannya yang kecil tidak mencukupi kebutuhan pangan keluarganya sehingga kekurangannya harus membeli pangan di pasar. Petani memiliki uang untuk membeli pangan dan lain-lainnya karena petani memang harus bekerja di luar pertanian yaitu sebagai pekerja tukang atau buruh apapun.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa hasil usahataninya dari lahannya yang sangat sempit itu hanya menyumbang sebagian kecil dari biaya hidup keluarga petani. Sedang sebagian besar biaya hidup keluarga petani diperoleh dari hasil bekerja di luar pertanian. Hal ini ditunjukkan hasil penelitian saya di daerah Kabupaten Bantul pada tahun 1994 sebagai berikut ini :

Tampak jelas bahwa pendapatan bersih dari usaha tani tanaman padi menghasilkan beras hanya sebesar Rp 148.400 pertahun karena luas lahan sawahnya hanya 0,065 ha (650 m2) sedang hasil pendapatan bersih dari bekerja di luar pertanian mencapai Rp 2.025.371 pertahun. Dengan demikian biaya hidup rumah tangga petani itu diperoleh dari hasil bekerja di luar usaha tani atau sebesar 93,2 persen; sedang pendapatan bersih dari hasil usaha tani sebesar Rp 148.400,- pertahun atau memberikan kontribusi terhadap biaya hidup rumah tangga petani hanya sebesar 6,8 persen.

Penutup

Sekarang ini dan pada masa-masa mendatang sebaiknya sudah tidak lagi menggunakan data NTP sebagai indikator tingkat kesejahteraan petani. Sempitnya dan semakin menyempitnya lahan pertanian milik atau garapan petani itu mengakibatkan semakin kecilnya pendapatan petani dari usaha tani sehingga tidak bisa hidup sejahtera dengan hanya bertani saja.

Adanya harapan besar berupa program Anggaran Dana Desa (ADD) yang tengah direalisasikan sekarang ini dengan alokasi dana sangat besar pertahun itu akan mampu membangun perekonomian pedesaan secara nyata sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat pedesaan, terutama para petani.

(Hatta Sunanto. Magister Ekonomi Pertanian, Konsultan Agribisnis. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 7 Oktober 2017)

BERITA REKOMENDASI