Hari Wilayah Tropis

Editor: Ivan Aditya

SETAHUN lalu, melalui sebuah resolusi Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 29 Juni sebagai Hari Internasional Wilayah Tropis (the International Day of the Tropics). Wilayah tropis merupakan bagian dari dunia di sekitar katulistiwa dan dikenal sebagai daerah beriklim panas. Wilayah tropis, meliputi kurang lebih 40% permukaan bumi dan merupakan rumah bagi hampir 80% keanekaragaman hayati dunia serta berbagai ragam bahasa dan budaya. Menurut data tahun 2014 kurang lebih 40% penduduk dunia tinggal di wilayah tropis.

Di wilayah tropis yang membentang dari benua Amerika, Pasific, Asia Selatan, dan Afrika terdapat lebih dari seratus negara. Di antaranya termasuk Indonesia dan anggota ASEAN lainnya yang merupakan negara-negara sedang berkembang dan negara-negara tertinggal (Least Developed Countries/LDCs). Karena masih tegolong sebagai negara sedang berkembang dan LDCs, negara-negara di wilayah tropis tersebut masih menghadapai berbagai hambatan guna mencapai indikator keberhasilan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang sekarang sedang dilaksanakan PBB. Keberhasilan pembangunan negara-negara di wilayah tropis akan memegang peran penting dalam pencapaian SDGs.

Orbit Satelit

Negara-negara tropis memiliki potensi kekayaan alam hayati dan non hayati yang sangat besar bagi pertumbuhan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi dunia. Sejak lama wilayah tropis menyediakan bahan-bahan mentah bagi industri dunia. Meskipun kaya akan sumber alam, negara-negara tropis sebagian besar masih mengalami ketertinggalan di banyak bidang. Secara ekonomi, finansial, teknologi dan berbagai bidang lain mayoritas negara-negara tersebut masih banyak tergantung pada negara-negara maju. Negara-negara di wilayah tropis juga sering mengalami ketidakadilan dalam berbagai pengaturan hubungan internasional.

Ketidakadilan internasional misalnya dialami negara-negara tropis dalam pemanfaatan segmen Geostationary Orbit (GSO) yang merupakan kawasan berbentuk cincin selebar 150 Km, setebal 70 Km melingkari bumi pada ketinggian + 35.871 Km di atas katulistiwa. GSO termasuk orbit geosinkron, yakni orbit satelit yang periode putarannya sama dengan rotasi bumi pada sumbunya, sehingga sangat ekonomis dan cocok untuk penempatan satelit bumi. Karena berada di atas katulistiwa dan merupakan sumber daya alam yang terbatas, pada tahun 1976 negara-negara katulistiwa mengklaim kedaulatan atas segmen GSO di atas wilayah mereka, tetapi ditolak negara-negara maju karena GSO dianggap sebagai bagian wilayah angkasa luar sehingga merupakan kawasan bebas berdasar Space Treaty 1967. Karena mayoritas wilayah GSO tetap dimanfaatkan oleh negara-negara maju, negara-negara katulistiwa memperjuangkan klaim right of preservation dan pemanfaatan secara adil atas segmen GSO melalui pembentukan regim hukum sui generis, namun sampai sekarang juga belum berhasil.

Merugikan

Secara ekonomi negara-negara di wilayah tropis juga sering mengalami ketidakadilan. Di masa kolonial, mayoritas negara-negara tropis dijajah oleh bangsa-bangsa Barat dan mengalami banyak eksplotasi secara ekonomi dan sumber kekayaan alam. Usaha untuk memperoleh kompensasi ekonomi atas kekayaan alam bangsa-bangsa terjajah yang telah dieksploitasi bangsa-bangsa penjajah melalui konsep Tata Ekonomi Internasional Baru (Resolusi MU PBB 1974) gagal karena konsep tersebut ditolak negara-negara maju.

Pengaturan hubungan ekonomi internasional pasca Perang Dunia Kedua di bawah sistem ekonomi Bretton Woods (GATT 1947, IMF dan Bank Dunia) yang terlalu liberalis, dengan mengandalkan prinsip-prinsip non diskriminasi, resiprositas, transparansi kenyataannya sangat merugikan negara-negara sedang berkembang dan menguntungkan negara-negara industri maju. Persetujuan WTO yang kini berlaku menggantikan GATT 1947 tidak jauh berbeda dan dapat menjadi ancaman bagi negara-negara tropis.

Globalisasi dan liberalisasi ekonomi dunia yang terjadi sekarang ini menjadi ancaman tidak hanya bagi kelestarian lingkungan alam negara-negara di wilayah tropis, namun juga bisa mengancam kelestarian budaya, adat-istiadat dan bahasa asli bangsa-bangsa tersebut. Oleh karena itu penetapan tanggal 29 Juni sebagai Hari Internasional Wilayah Tropis hendaknya kita respons secara positif melalui berbagai kegiatan yang diarahkan untuk melindungi wilayah tropis dari akibat buruk globalisasi dan liberalisasi ekonomi dunia. Serta ketidakadilan hubungan internasional.

(Triyana Yohanes SH MHum. Dosen Fakultas Hukum UAJY, kandidat doktor Hukum UNS. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 29 Juni 2017)

BERITA REKOMENDASI