Harmonisasi Hubungan Ibu dan Anak

Editor: Ivan Aditya

ANGKA kekerasan terhadap anak setiap tahun mengalami peningkatan. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, tahun 2007 jumlah anak yang mengalami kekerasan tercatat 1.510 kasus. Tahun 2008 angka tersebut meningkat menjadi 1.826. Kemudian tahun 2010 menjadi 21 juta kasus kekerasan terhadap anak-anak.

Dari angka tersebut, dilaporkan, sejumlah 292 anak meninggal karena mengalami kekerasan serta 70% pelaku dari kekerasan tersebut adalah ibu mereka. Seorang ibu secara naluriah, seharusnya menjadi pelindung pertama dan utama kepada anak-anak mereka, sehingga keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan dan pemerintah seharusnya mencari tahu akar permasalahan, mengapa para ibu tersebut melampiaskan kekerasan terhadap anak-anak mereka.

Terdapat beberapa alasan penting, yang sering kali terlewat oleh sorotan masyarakat, para ibu melampiaskan kekerasan terhadap anak di antaranya karena pertama, para ibu secara tidak sadar mengalami stres, depresi dan kecemasan yang bisa disebabkan urusan domestik. Ketidakmampuan Ibu dalam mengkomunikasikan tentang apa yang sedang dirasakan, ditambah dengan ketidakpahaman pasangan terkait permasalahan kejiwaan Ibu, menjadikan para Ibu mencari pelampiasan terdekat yaitu anak.

Kedua, penyebab stres para ibu lebih dikarenakan permasalahan ekonomi. Telah banyak kita saksikan di media, bagaimana keadaan ekonomi mampu mengguncangkan jiwa seorang ibu untuk mengakhiri kehidupan anakanaknya.

Ketiga, Ibu yang melakukan kekerasan kepada anak, tidak memiliki role model dari ibuibu mereka semasa kecil atau dengan kata lain, para ibu yang melakukan kekerasan tersebut tidak memiliki coping positif ketika mereka masih masa kanak-kanak. Keempat, para ibu pelaku kekerasan, memiliki pengalaman kegagalan dalam proses pembentukan bonding attachment pada saat kehamilannya. Para ibu tersebut cenderung kelak menjadi pelaku utama kekerasan terhadap anak-anak mereka (Penelitian Moncher, 1996; Zevalnkink et al, 1999, Alhusen, 2008 dan Hastuti, 2014).

Berdasarkan temuan tersebut, tidaklah berlebihan jika keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan dan pemerintah harus bersamasama meningkatkan upaya promosi peningkatan kualitas hubungan ibu dan anak sejak dalam masa kandungan. Di Indonesia, hasil penelitian tentang bonding attachment pada ibu nifas telah banyak di bahas di media maupun seminar. Tetapi penelitian yang membahas bonding attachment antara ibu dan janin (maternal-fetal attachment) sejak dalam masa kandungan masih sedikit ditemukan.

Teori tentang attachment menyebutkan, ikatan batin antara Ibu dan Janin telah terbentuk semenjak proses kehamilan (Bowlby, 1963). Ibu hamil yang memiliki attachment tinggi dengan janinnya selama kehamilan, cenderung memiliki gaya hidup yang sehat dan positif. Pada Ibu merokok dan pengguna alkohol, secara sadar mengubah gaya hidupnya selama masa kehamilan demi sang buah hati tercinta. Ibu hamil dengan maternal-fetal attachment yang baik mengalami perasaan jatuh cinta pada bayi yang meskipun ia belum tahu jenis kelamin maupun rupanya.

Sensasi tersebut seperti yang dijelaskan Sandbrook (2009), sebagai naluri alamiah untuk selalu melindungi janin dari ancaman sekecil apapun yang nantinya akan berlanjut hingga kehidupan anak di masa selanjutnya. Itulah sebabnya bagi ibu yang secara psikologi mengalami depresi serta merasa tidak bahagia selama kehamilannya secara tidak langsung mempengaruhi personality dari anaknya kelak.

Keterikatan batin yang kuat antara Ibu dan janin, mempengaruhi kualitas hubungan Ibu dan bayi pada masa postpartum. Sebuah penelitian menyebutkan, ibu dengan skor mataernal-fetal attachment yang tinggi pada saat kehamilannya, cenderung lebih aktif dan lebih perduli terhadap bayi nya dibandingkan ibu yang memiliki skor maternal-fetal attachment rendah. Sementara itu, penelitian lain menyebutkan, Ibu yang memiliki maternal-fetal attachment yang baik pada saat kehamilannya, cenderung merasa bahagia dan terhindar dari depresi post partum pada saat masa nifas.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah, maternal-fetal attachment adalah sebuah proses yang harus terus ditingkatkan semenjak kehamilan untuk menjamin kelangsungan hubungan yang baik antara ibu dan anak dimasa yang akan datang. Maternal-fetal attachment mengilustrasikan kualitas hubungan ibu dan anak serta mempengaruhi gaya ibu pada saat ibu mendidik anaknya kelak. Maternal-fetal attachment merupakan kunci elemen dari identitas seorang ibu dan hal ini sangat dibutuhkan ibu dalam menjalani perannya sebagai orangtua.

(Endang Koni Suryaningsih MSc Ners-Mid. Dosen D III Kebidanan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dan peneliti dengan konsentrasi Maternal-Fetal Attchment. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 8 September 2016)

BERITA REKOMENDASI