Hilal Awal Syawal 1441 Hijriyah

Prof Dr Susiknan Azhari
Guru Besar Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Direktur Museum Astronomi Islam

SALAH satu problem mendasar penyatuan kalender Islam adalah anggitan hilal yang hingga kini belum ada titik temu. Sebagian pihak meyakini hilal itu bersifat empiris dan terukur. Pihak lain beranggapan hilal itu bersifat eksistensialis. Dalam kasus semacam ini tidak mengherankan lahir berbagai pandangan tentang hilal. Misalnya muncul istilah hilal astronomi, ‘hilal syar’i, hilal meteorology. Kesemuanya dalam kerangka mencari makna ‘hilal hakiki’. Di sinilah diperlukan pemikiran yang mendalam untuk mempertemukan anggitan hilal perspektif ilmu rasional dan ilmu agama.

Hilal memiliki fungsi sebagai penentu awal bulan kamariah termasuk penentuan Idul Fitri 1441 H yang akan datang. Sebagaimana diketahui antara ilmu rasional dan ilmu agama memiliki basis epistemologi yang berbeda. Ilmu rasional (kealaman) memiliki keteraturan dan keterulangan yang dapat diamati, diukur, dan dibuktikan. Sedangkan ilmu agama bersumber pada teks (Alquran dan hadis). Dalam konteks ini kemudian muncul istilah ‘visibilitas hilal’ (imkanur rukyat) sebagai jembatan untuk mempertemukan hilal perspektif kealaman dan hilal perspektif keagamaan.

MABIMS

Dalam praktiknya anggitan visibilitas hilal yang dipedomani, khususnya anggota MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapore) masih sering ditemukan tidak sesuai antara teori dan realitas di lapangan. Bukti konkretnya dalam penentuan awal Ramadan 1441 H. Di Indonesia dilaporkan ada beberapa orang yang berhasil melihat hilal, di antaranya Inwanuddin dan Ach Asyhar.

Inwanuddin merupakan salah seorang tokoh yang sering berhasil melihat hilal namun tidak disertai bukti konkret sehingga menimbulkan keraguan. Sementara di Malaysia dilaporkan Angku Bolkhizan Ahmad Thani berhasil melihat hilal. Hasil ini dianggap sebagai rekor baru dunia hilal dapat terlihat pada umur delapan jam. Di sisi lain Brunei Darussalam tidak ada laporan keberhasilan melihat hilal sehingga awal Ramadan 1441 jatuh hari Sabtu (25/4) .

Berdasarkan kalender hijriah yang berkembang di Indonesia (Kalender Muhammadiyah, Almanak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Takwim Standar Indonesia, dan Almanak Persis) ijtimak awal Syawal 1441 H terjadi Sabtu (23/5) pukul 00:41:57 WIB umur bulan Ramadan 1441 H sudah memasuki hari ke-30. Lalu kapan dilakukan rukyat dan sidang isbat? Jika merujuk makna tekstual hadis pelaksanaan rukyat dan sidang isbat akan diselenggarakan Jumat (22/5).

Data astronomis yang dipedomani menunjukkan hari Jumat belum terjadi konjungsi (ijtima’) dan status hilal Syawal 1441 H belum bisa diakui secara syar’i maupun astronomi. Artinya pelaksanaan rukyatul hilal pada hari Jumat hanya semata-mata mengikuti tradisi dan tidak berakibat hukum. Kondisi ini menggambarkan kehadiran Sidang Isbat awal Syawal 1441 H tidak begitu berpengaruh. Karena hasilnya sudah diketahui bahwa hilal awal Syawal 1441 H masih di bawah ufuk dan belum terjadi konjungsi. Sehingga Idul Fitri 1441 H akan dilaksanakan secara serempak hari Ahad (24/5).

Arti Penting

Begitu pula pelaksanaan rukyat pada Sabtu (23/5) Mei 2020 tidak akan berpengaruh dalam penentuan awal Syawal 1441 H di Indonesia. Berbeda dengan negara yang memulai puasa Ramadan 1441 H pada Sabtu, seperti Oman, Brunei Darussalam, dan sebagian komunitas muslim di Australia. Pada Sabtu (23/5) umur bulan Ramadan 1441 masih 29 hari sehingga hasil rukyatul hilal Sabtu memiliki arti penting dan penentu hilal Syawal 1441 H. Sekiranya malam itu ada laporan keberhasilan melihat hilal maka keesokan harinya (Ahad 24 Mei) akan mengakhiri Ramadan 1441 H. Sebaliknya jika tidak ada laporan keberhasilan melihat hilal maka awal Syawal 1441 H di Oman, Brunei Darussalam, dan sebagian komunitas muslim di Australia akan jatuh hari Senin (25/5) *)

BERITA REKOMENDASI