Hilirisasi Batubara, Pengembangan Pemanfaatan Batubara

Editor: Ivan Aditya

BATUBARA merupakan endapan sedimen yang terdiri dari komponen organik dan anorganik, bagian organik disebut maseral sedangkan bagian anorganik disebut mineral. Karakteristik komposisi maseral dan mineral pada batubara akan mempengaruhi kualitas batubara terutama parameter abu, sulfur dan nilai kalori sehingga dapat membatasi dalam pemanfaatannya, sedangkan geokimia batubara merupakan proses pembatubaraan yang terjadi akibat kenaikan temperatur, tekanan dan waktu sehingga persentasi unsur karbon dalam bahan asal pembentuk batubara cenderung meningkat. Proses pembatubaraan ini akan menghasilkan batubara dengan berbagai peringkat yang sesuai dengan tingkat kematangan bahan organiknya yang dapat mempengaruhi pemanfaatannya.

Kebutuhan energi dunia saat ini semakin meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, juga dibarengi dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan semakin cepatnya perkembangan dinamika industri. Di samping itu keberadaan sumberdaya energi minyak bumi yang selama ini banyak digunakan ternyata semakin terbatas bagi beberapa negara mengingat sumberdaya energi ini tidak dapat diperbaharui sehingga menuntut banyak negara termasuk Indonesia untuk melakukan konservasi terhadap pemakaian energi tersebut. Batubara merupakan salah satu sumberdaya energi fosil yang sangat potensial dikembangkan, baik sebagai energi primer maupun pembangkit listrik di dunia menggantikan minyak bumi mengingat jumlah cadangannya yang sangat besar dan harganya murah(Daulay, 2012).

Sumberdaya dan cadangan batubara Indonesia sebesar 149 Milyar Ton, sedangkan yang menjadi cadangan sebesar 37 Milyar Ton. Cadangan tersebut terdiri dari batubara kalori rendah sebesar 39%, kalori sedang 53%, kalori tinggi 7% dan kalori sangat tinggi 1% (Badan Geologi, 2019). Pemanfaatan batubara selama ini sebagian besar untuk energi langsung yaitu sebagai steam coaluntuk sumber panas dalam memenuhi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), sedangkan pemanfaatan batubara sebagai energi tidak langsung dan pemanfaatan untuk yang lain belum banyak dikembangkan. Pengembangan dan Pemanfaatan Batubara sebagai enegi tidak langsung (dikonversi) dan juga digunakan untuk pemanfaatan lain adalah bagian dari hilirisasi batubara atau pengembangan pemanfaatan batubara.

Melalui arah road map pengembangan dan pemanfaatan batubara, Direktorat Jendral Mineral dan Batubara (2021) mempunyai target meningkatkan ketahanan energi nasional dan optimalisasi pemanfaatan batubara di dalam negeri melalui kebijakan pengembangan dan/atau pemanfaatan batubara nasional secara terintegrasi dari hulu ke hilir dengan program optimalisasi pemanfaatan batubara dalam negeri dengan penerapan teknologi ramah lingkungan (Clean Coal Technology) hingga tahun 2045. Program road map pengembangan dan pemanfaatan batubara nasional diarahkan untuk kemandirian energi, pemenuhuan bahan baku industri dan penerapan aspek lingkungan dengan tiga (3) strategi utama yaitu: 1. Penyiapan industri batubara bersih pada hilirisasi batubara termasuk PLTU untuk jangka waktu tahun 2021-2025, 2. Peningkatan pembangunan industri berbasis batubara dan implementasi teknologi batubara bersih pada hilirisasi batubara termasuk PLTU untuk jangka waktu tahun 2026-2030, 3. Industri berbasis batubara sebagai solusi ketahanan energi dan industri nasional dan optimalisasi implementasi teknologi batubara bersih pada hilirisasi batubara termasuk PLTU untuk jangka 2031-2045.

rogrampengembangan dan pemanfaatan tersebut diantaranya adalah pengembangan batubara untuk menghasilkan Methanol dan Dimethyl Ether(DME) melalui Gasifikasi sebagai pengganti imporLiquefied Petroleum Gas (LPG) dan Methanol. Melalui program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemenuhan gas alam dari batubara terutama di regional Sumatera dan Kalimantan. Pengembangan batubara untuk menghasilkan Syngas, Synthetic Natural Gas(SNG), Amonia, dan Hidrogen. Pengembangan batubara melalui Briket Batubara-Biomassa dan Briket Batubara terkarbonisasi untuk PLTU dan Industri Kecil /UMKM yaitu untuk mendukung capaian Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi melalui implementasi co-firing Briket Bio-Coal.

Pengembangan batubara untuk industri metalurgi yaitu optimalisasi pemanfaatan batubara di dalam negeri dalam industri smelter, penyiapan pengembangan batubara untuk menghasilkan Produk Material Maju dan Rare Earth Element (REE),Pengembangan batubara untukMaterial Agro Industri, Penyiapan Infrastruktur Coal Upgrading untuk mendukung ketahanan energi dan Penerapan High Efficiency Low Emissions (HELE) dalam Pembangkit Listrik dan Proyek Hilirisasi.

Dr. Edy Nursanto, ST, MT, IPM
Dosen Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta, bidang konsentrasi Teknologi Pemanfaatan Batubara

BERITA REKOMENDASI