Hindari Provokasi di Media Sosial

Editor: Ivan Aditya

DALAM Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ulama bertajuk Doa Untuk Keselamatan Bangsa, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak seluruh komponen bangsa agar arif mencermati perkembangan media sosial (medsos) yang dinilai telah berisi ujaran kebencian. Presiden mengingatkan saling hujat, provokasi, adu domba bukan nilai Bangsa Indonesia. Silatnas yang digagas oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu dihadiri 1.000 ulama dari seluruh Indonesia (KR, 13/11).

Penggunaan medsos di tanah air mengalami perkembangan yang sangat pesat. Situasi ini ditunjang oleh karakter masyarakat Indonesia yang dikenal ramah dan mudah sosialisasi. Melihat animo masyarakat pengguna medsos tak dapat dipungkiri perusahaan penyedia jasa medsos global seperti Facebook, Twitter, Path membuka kantor di tanah air. Para pengguna medsos pun lebih mudah berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan dan berbagi pengalaman serta membentuk jaringan.

Membentuk Opini

Selain menjadi ajang menjalin persahabatan, medsos juga dipergunakan membentuk opini publik. Opini yang disebarkan melalui medsos bisa mengubah sikap dan cara pandang seseorang. Karenanya, opini yang dibangun medsos cenderung berbahaya karena penerima informasi sulit membedakan mana berita yang bersifat fakta atau hoax alias berita bohong. Informasi yang tidak benar cenderung ditelan mentah-mentah oleh penerima.

Di tengah penggunaan medsos yang kian meluas dipandang perlu upaya lebih berhatihati mempergunakan medsos. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkapkan pengguna internet di Indonesia mencapai 63 juta orang. Dari jumlah tersebut 95% menggunakan internet untuk mengakses medsos. Sebagian besar pengguna Facebook dan 85% mempergunakan medsos untuk mengunggah status.

Kominfo juga merilis, situs jejaring sosial yang paling banyak diminati yakni Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat ke 4 terbesar di dunia setelah USA, Brasil dan India. Dengan luasnya penggunaan medsos pengawasan terhadap penyalahgunaan harus dilakukan. Pertama, medsos merupakan media komunikasi yang sangat personal. Beda halnya dengan produk jurnalistik konvensional seperti media cetak dan elektronik yang memiliki jajaran redaksi untuk memfilter informasi yang akan ditayangkan.

Di tangan pemilik akun, medsos dapat mengunggah foto, video, berita kapan pun dan dimana pun. Minimnya kesempatan untuk memfilter atau sensor informasi menyebabkan sajian medsos cenderung lebih bebas. Kedua, keterbukaan informasi menyebabkan medsos yang tujuan semula untuk berbagi informasi, menjalin persahabatan disalahgunakan untuk tujuan-tujuan tertentu seperti menghasut, provokasi dan mempengaruhi pihak lain. Bahkan menjadi sarana kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan dalam kampanye pilkada.

Apalagi medsos merupakan sarana jurnalisme warga yang murah bahkan gratis. Namun mempergunakan medsos tetaplah harus memperhatikan kaidah jurnalistik agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Setelah Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) mengeluarkan Surat Edaran No SE/06/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian atau hate speech membuat pengguna medsos harus lebih berhati-hati. SE itu jelas diarahkan kepada pengguna medsos yang melakukan bully, fitnah, penghinaan yang menebar kebencian kepada orang lain. SE itu juga bertujuan melindungi orang lain dari tindak pelecehan kehormatan. Selama ini oknum yang sengaja menebar kebencian masih bebas melenggang tanpa terjerat hukum.

Saling Mengingatkan

Pengguna medsos yang menebar kebencian dapat dijerat dengan Pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik. Karenanya, penggunaan medsos harus lebih bijak agar tidak menimbulkan opini yang menyesatkan. Provokasi di medsos hanya menciptakan keresahan, ketidaknyamanan bahkan sikap saling permusuhan. Terlalu mahal taruhannya ketika kedamaian yang telah dibangun dengan beragam cara rusak dalam sekejap oleh ulah segelintir orang di medsos.

Upaya itu harus dimulai dari komunitas terkecil seperti keluarga, sekolah dan masyarakat, dimana orang-orang dekat diajak untuk mempergunakan medsos untuk tujuan-tujuan yang positif. Diperlukan upaya saling mengingatkan dengan langsung menegur, ketika ada kawan mengunggah berita palsu/hoax atau provokatif. Atau berani menghapus tayangantayangan bernada provokasi. Literasi medsos macam itu sekarang dibutuhkan.

(Paulus Mujiran. Pemerhati Masalah Sosial, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 21 November 2016)

BERITA REKOMENDASI