Hormati Guru

Editor: Ivan Aditya

ADA lagu anak-anak zaman dulu tahun 1960-an karya Ibu Sud, dengan judul Pergi Belajar. Lagu itu sangat bagus dalam arti memiliki pesan moral yang terpuji dan mulia. Inilah lirik lagu itu selengkapnya: Oh, ibu dan ayah selamat pagi // Ku pergi sekolah sampai kan nanti // Selamat belajar nak penuh semangat // Rajinlah selalu tentu kau dapat // Hormati gurumu sayangi teman // Itulah tandanya kau murid budiman.

Luar biasa! Dalam lagu itu jelas terasa nuansa hubungan batin antara orangtua, anak, dan guru dari sebuah proses pendewasaan anak pada institusi sekolah dan atau pendidikan. Masih dinyanyikankah lagu itu saat ini? Masih memberi tuntunankah lagu itu untuk menghormati guru kita saat ini?

Saya rasa jawabnya hampir pasti tidak. Anak-anak lebih hafal dan fasih menyanyikan lagunya K-Pop dari Korea. Kita kehilangan marwah masyarakat secara kolektif untuk menghormati guru secara kultural. Kalau hal ini tidak dibangkitkan lagi, pendidikan nasional kita bisa memasuki zona gawat darurat.

Semua orang sukses juga pasti karena lewat sentuhan tangan guru yang selalu sabar dalam mengajar dan mendidik tanpa mengenal lelah, meski kadang juga terpaksa marah. Banyak studi membuktikan bahwa guru memiliki kontribusi yang signifikan dalam pembentukan kepribadian dan prestasi akademik peserta didik. John Hattie dalam penelitiannya menemukan bahwa prestasi siswa ditentukan oleh kontribusi guru sebesar 30%. Selebihnya masingmasing 7% dipengaruhi sekolah, rumah, teman sebaya, dan yang 49% ditentukan oleh karakteristik siswa sendiri. John Goodlad juga menemukan bahwa jika guru sudah masuk kelas dan menutup pintu kelas rapat-rapat, maka mau jadi apakah siswa itu akan sangat ditentukan oleh kinerja guru dalam proses belajar-mengajarnya saat itu. Meskipun demikian, belum ada penelitian mengenai bagaimana cara kita dan juga siswa menghormati guru sehingga para guru merasa terlindungi profesinya secara pasti dan penuh martabat.

Karena itu perlu ada gerakan masif untuk mengajak masyarakat menghormati guru dalam arti profesinya. Guru perlu jaminan hukum yang sanggup melindungi mereka ketika menjalankan profesinya. Mengapa begitu? Karena akhir-akhir ini tidak sedikit guru mendapatkan serangan fisik dan/atau mental ketika menjalankan profesinya. Hal ini muncul karena penafsiran yang kurang tepat terhadap isu HAM dan Undang Undang Perlindungan Anak untuk kepentingan pendidikan.

Kita memang belum memiliki aturan hukum yang secara operasional mengatur bagaimana cara kita harus melindungi guru agar tidak mendapatkan ancaman dalam bentuk apapun. Memang UU Guru dan Dosen sudah mengatur bahwa guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dalam menjalankan profesinya. Secara eksplisit Pasal 14 UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan: Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak: Ayat (1c) memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual; Ayat (1g) memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas.

Pasal ini masih belum bisa memosisikan guru secara terhormat bahkan masih mandul sebagai akibat belum adanya aturan operasional untuk melaksanakannya. Dampaknya, ketika guru melakukan sanksi fisik terhadap siswa selalu dikriminalkan oleh orangtua dan atau siswa. Jalan keluar yang sangat elegan ialah perlunya dibuat aturan operasional berupa Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri agar bisa mensinergikan UU yang terkait dengan HAM, Perlindungan Anak, dan UU Guru dan Dosen. Dengan cara ini guru tidak ragu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh menurut Undang Undang manakala mereka ingin memberikan sanksi fisik kepada siswanya untuk kepentingan pendidikan anakanak.

Manakala UU ini semua tidak bisa memberi penghormatan pada kinerja guru, pendidikan kita dalam jangka panjang tidak berfungsi secara optimal. Ketika guru dalam keadaan takut dari ancaman pihak lain, maka keputusan yang akan diambil oleh guru adalah melakukan pembiaran terhadap peserta didik tanpa mau mengoreksi penyimpangan perilaku mereka demi keamanan pribadi masing-masing. Guru akan cuek, diam seribu bahasa ketika anak-anak kita melanggar norma dan etika. Semoga tidak begitu.

(Prof Suyanto PhD. Guru Besar FE Universitas Negeri Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 25 November 2016)

BERITA REKOMENDASI