Ibu Budi

Editor: Ivan Aditya

BAGI yang pernah mengenyam pendidikan di era Orde Baru, tentu akan sulit melupakan kalimat: "Ini Ibu Budi". Kalimat tersebut terdapat dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia: Belajar Membaca dan Menulis yang dipakai sebagai panduan belajar membaca untuk semua murid Sekolah Dasar di Indonesia pada masa itu. Ada yang menarik dari kalimat tersebut, yaitu hingga hari ini kita tidak pernah tahu siapa nama asli ibu Budi.

Bayang-bayang

Sebagian besar masyarakat menganggap pengutak-atikan atau bahkan lenyapnya nama perempuan setelah menikah adalah hal sepele. Padahal, kenyataan tersebut justru menunjukkan seorang istri (ibu) yang tidak memiliki eksistensi diri. Eksistensi yang ada padanya merupakan pinjaman dari suaminya. Dalam kondisi seperti ini, seorang istri (ibu) berada di bawah bayang-bayang suaminya. Sejak sejarah penciptaan manusia pun, Hawa digambarkan tercipta dari tulang rusuk Adam. Dengan kata lain, keberadaan perempuan selalu ditentukan oleh laki-laki. Dia diposisikan tidak pernah bisa berdiri sendiri.

Dampak dari pensubdordinatan tersebut adalah pendomestikan ibu. Usai era kebuasan, menurut Frederick Engels (2004), ibu diposisikan tinggal di rumah guna mengurus keluarga. Dengan dalih perempuan lemah, sehingga dianggap sangat berbahaya jika berada di luar rumah, maka hanya suami yang boleh keluar mencari makan. Kondisi ini menyebabkan suami memiliki legitimasi untuk mengangkat dirinya sendiri sebagai kepala keluarga. Dari sinilah keluarga patriarkal muncul, dengan laki-laki sebagai poros utamanya.

Pendomestikan ibu semacam ini sangat terasa pada era Orde Baru. Selain mengurusi soal masak-memasak hingga merawat rumah, ibu juga diberi peran yang telah didomistifikasi sedemikian rupa oleh negara sehingga terkesan mulia, yaitu mendidik generasi penerus bangsa alias anak. Sejak kecil, seorang anak wajib dipersiapkan demi menerima beban tersebut. Dan, kepada ibulah tanggung jawab itu diberikan.

Tak heran, saban Hari Ibu maka seremonialnya adalah ‘membebaskan’ ibu dari pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah. Untuk satu hari itu, pekerjaan tersebut rela dilakukan suami (bapak) dan anak-anaknya. Tanpa disadari, peringatan semacam ini justru kian mengukuhkan domestifikasi perempuan. Hari Ibu pun semakin jauh dari makna yang tersimpan di balik pemilihan tanggal 22 Desember. Yaitu, untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan sebagaimana tujuan yang hendak dicapai oleh Kongres Perempuan I yang dibuka pada tanggal tersebut delapan puluh delapan tahun lampau.

Identitas Pinjaman

Dalam bahasa Indonesia, kata ‘ibu’ banyak digunakan untuk sesuatu yang mulia. Ada kata ibu pertiwi, ibu kota, ibu bumi, ibu sungai hingga ibu jari. Dalam konteks bahasa seperti itu, posisi ibu istimewa. Meskipun kata ‘ibu’ juga dikenakan pada ungkapan ibu tiri, tapi peran ibu tetap penting, terutama dalam kepercayaan masyarakat.

Sejak zaman ibu Budi hingga sekarang, anak sering dipakai sebagai penanda eksistensi ibu. Dengan adanya anak, seorang perempuan merasa dirinya sempurna. Sebagaimana iklan Keluarga Berencana, sebuah keluarga akan ideal bila memiliki anak. Oleh sebab itu, seorang ibu merasa perlu menunjukkan keidealan tersebut dengan cara meminjam identitas anaknya dalam pergaulan sosial. Maka, nama-nama serupa Bunda Syafira atau Mama Devon pun bertebaran di media sosial.

Budi adalah anak laki-laki kebanggaan keluarga. Meskipun berkakak Wati dan beradik Iwan, tapi nama Budi terpilih sebagai penanda eksistensi ibunya. Tanpa Budi, sang ibu bukan siapa-siapa. Itulah mengapa pengarang buku Bahasa Indonesia: Belajar Membaca dan Menulis merasa tidak perlu menyebutkan nama asli perempuan yang melahirkan Budi. Pun, tanpa Syafira dan Devon, bunda dan mamanya merasa bukan siapa-siapa sehingga tidak masalah bagi mereka berkorban nama asli.

Pada akhirnya, sebelum kita mengetahui siapa (nama) ibu Budi, berarti seorang ibu belum mampu berdiri di atas eksistensinya sendiri, yang bukan pinjaman. Maka peringatan Hari Ibu hanyalah perayaan atas pendomestikan ibu dan pengekalan budaya patriarkal yang menempatkan ibu (perempuan) di bawah bayangbayang. Padahal, setiap perempuan adalah ibu, dan setiap ibu adalah istimewa.

(Anindita S Thayf. Novelis dan Ibu Rumah Tangga. Tinggal di Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 22 Desember 2016)

BERITA REKOMENDASI