Idul Fitri di Tengah Pandemi

Ghufron Su’udi SAg
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kec. Gondokusuman Kota Yogyakarta

IDUL Fitri tahun ini dipastikan akan terasa berbeda dibanding tahuntahun sebelumnya. Tidak hanya bagi daerah yang sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), daerah lainnya juga akan ikut merasakan suasana yang sama. Hal itu sebagai konsekuensi dari dikeluarkannya surat edaran pemerintah dari Kementerian Agama Nomor : SE.6 Tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri tahun 1441 H. Juga dikarenakan adanya imbauan dari pemerintah tentang social distancing, yaitu ajakan agar masyarakat menghindari keramaian dan menjaga jarak antar sesama.

Atas dasar itulah kemeriahan dan syiar Idul Fitri baik berupa kegiatan ibadah maupun kegiatan penunjangnya tidak akan terlihat tahun ini. Sesuai imbauan di atas, salat Idul Fitri maupun silaturahmi atau halal bihalal yang menjadi ciri khas hari raya Idul Fitri hendaknya dilaksanakan di rumah masing-masing bersama keluarga. Demikian juga kegiatan takbiran cukup dilaksanakan di rumah masingmasing, karena perayaan takbir keliling sementara ditiadakan.

Meskipun demikian kondisi seperti ini tidak akan mengurangi kekhusyukan dalam merayakan Idul Fitri. Justru dalam suasana seperti ini hakikat Idul Fitri benar-benar akan dapat dirasakan. Idul Fitri sesungguhnya merupakan kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

Puasa yang memiliki arti menahan memberikan dampak bagi yang melaksanakan untuk menahan diri dari banyak hal. Tidak hanya dari perbuatan dosa dan segala hal yang merugikan, puasa juga mengajarkan untuk menahan diri dari segala aktivitas yang tidak bermanfaat.

Hakikat Puasa

Puasa sesungguhnya tidak hanya sekadar meninggalkan makan dan minum, tetapi juga kemampuan menahan diri dari segala perilaku keji dan kotor. Maka hakikat puasa adalah menjaga dan menghindari, menjaga diri dari segala hal yang membatalkan puasa serta menghindarkan diri dari segala perbuatan tidak baik.

Lebih dari itu puasa juga mengajarkan arti penting solidaritas dan kepekaan sosial terhadap sesama. Sebulan menjalankan ibadah Ramadan, nilai-nilai puasa hendaknya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada masa tanggap darurat seperti saat ini. Ketika menjaga jarak dan menghindari kerumunan menjadi salah satu solusi mencegah penularan virus korona, bagi orang yang baru saja menjalankan ibadah puasa pasti akan mudah melaksanakannya.

Puasa telah melatih menjaga dan menghindarkan diri dari segala yang membatalkan. Ini sesungguhnya lebih berat. Puasa juga menumbuhsuburkan solidaritas antar sesama. Saat ini solidaritas tidak cukup hanya diartikan sebagai perasaan setia kawan karena senasib. Tetapi juga bagaimana bersama-sama menjaga untuk tidak menjadikan orang lain sebagai korban kita. Caranya? Dengan menjaga jarak untuk tidak berkerumun dan tetap tinggal di rumah.

Zakat Fitrah

Di setiap akhir Ramadan, orang yang berpuasa diwajibkan membayar zakat fitrah, sebagai satu rangkaian dengan ibadah puasa. Kalau puasa merupakan proses penyucian diri yang berdimensi ketuhanan, zakat fitrah menjadi proses penyucian diri yang berdimensi kemanusiaan. Dalam situasi tanggap darurat seperti saat ini, zakat fitrah maupun zakat mal akan memiliki banyak manfaat.

Keberhasilan menjalankan ibadah puasa Ramadan tidak dapat diukur dari seberapa meriahnya kita merayakan Idul Fitri. Tetapi sejauhmana kita mampu menahan dan menghindarkan diri dari segala hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Derajat takwa yang menjadi tujuan puasa Ramadan dapat kita peroleh tidak hanya didasarkan seberapa kuat kita menahan lapar dahaga. Tetapi dari seberapa besar kepekaan dan kepedulian kita terhadap yang mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. (*)

BERITA REKOMENDASI