Ikhtiar Pengamen Jalanan

Editor: Ivan Aditya

MENJADI pengamen tentu bukanlah profesi yang menyenangkan, seringkali muncul dari tekanan hidup dan keputusasaan. Namun tidak demikian halnya dengan Sujud Sutrisno, mengamen adalah sebuah ikhtiar yang suci dan wigati, karena mampu membucahkan kebahagiaan dan tawa bagi orang lain. Dengan berbekal kendang ketipung, ia melahirkan lirik-lirik musik yang lucu dan segar. Mendengarkan lirik-lirik lagu dari Sujud, maka kita dapat melihat gambaran hidupnya yang sederhana dan polos.

Bondet Wrehatnala (2005) menjelaskan bahwa awal pertama kali Sujud meneguhkan hidup sebagai pengamen keliling dimulai pada tahun 1967. Sujud lahir dari ayah seorang seniman karawitan, Wirosumito, yang bekerja sebagai pengamen cokek. Ibunya yang bernama Ruminten adalah seorang pesinden. Sujud, sejak kecil sudah terbiasa ikut orang tuanya mencari nafkah dengan bermain musik karawitan (cokekan).

Karena itu, saat ia memutuskan untuk mengamen, hal tersebut dilakukannya dengan iklas dan tanpa beban. Kelebihan Sujud adalah mampu mengolah lirik-lirik dengan cerdas, kreatif dan tak terduga. Dengan gayanya yang spontan, ia mengolah kejadian hidup sehari-hari menjadi banyolan. Lambat laun, nama Sujud semakin dikenal. Ia pernah mendapat tawaran bermain dalam film berjudul Pelajaran Cinta (1979), berperan sebagai pengamen dengan bintang utamanya Rano Karno dan Lydia Kandau. Wahyu Hidayat (1997), menceritakan bahwa lewat perannya tersebut, Sujud mendapat honor 60.000 rupiah. Jumlah yang cukup banyak bagi Sujud di zaman itu.

Internasional

Kehadiran Sujud justru mampu memukau penonton dengan kopolosan-keluguannya bernyanyi dan kelincahannya bermain kendang, saat terlibat dalam acara bertajuk The First International Drum Festival(1992), sebuah forum internasional yang cukup bergengsi. Permainan kendang Sujud, jika didengar secara sekilas memang nampak asal, namun jika dicermati lebih dalam, ternyata memiliki pola dan hentakan-hentakan yang khas dan unik. Lantunan vokal disertai dengan aksentuasi bunyi kendang, keduanya saling melengkapi dan mengisi.

Barangkali, Sujud adalah satu-satunya pengamen yang memiliki zaman keemasan, dikenal dan diingat sebagai musisi jalanan yang tak lekang oleh waktu. Kehadirannya memberi arti bagi kehidupan masyarakat Yogyakarta. Sujud adalah katalisator yang mengingatkan kita tentang arti kesederhanaan hidup, ia mencerminkan karakter dan ciri orang Yogya yang egaliter dan santun.

Kendatipun berprofesi sebagai seniman jalanan, Sujud beberapakali mencicipi berbagai forum musik bergengsi tingkat internasional. Salah satu di antaranya adalah forum Asian Composer League di Yogyakarta (1998-1999). Dalam forum itu Sujud bersanding dengan komposer dan musisi-musisi Asia. Sujud bersama Sapto Raharjo juga pernah tampil dalam gelaran bertajuk Spektakuler Elektro Orchestra Multi Media Amazing Gray (2002).

Penghargaan

Karena ketekunan dan konsistensinya terhadap profesi, Sujud mendapatkan beberapa penghargaan. Di antaranya penghargaan untuk pengabdian pada Peringatan 10 windu Tumbuk Ageng Sri Paduka Pakualam VIII tahun 1988, penghargaan pengabdian profesi yang disematkan Keluarga Artis Muda Yogyakarta (Kampayo) pada tahun 2001. Pertengahan Juli 2002, Blass Record Yogyakarta secara independen meluncurkan album perdana Sujud yang bertajuk Kendang Tunggal Sujud Sutrisno yang berisi 23 lagu non-stop (Pandhuagie, 2002).

Kini sang pengamen itu telah pergi untuk selamanya pada usia ke-65 tahun karena penyakit yang didera. Kepergian Sujud adalah duka bagi dunia musik tanah air. Bagaimana tidak, di kala kehidupan kita disesaki dengan berita-berita seputar gosip musisi dan artis Ibukota, Sujud memberi penyegaran dan ruang berkontemplasi. Bahwa di antara sudut Kota Yogya yang semakin sempit dan padat, lewat lirik dan permainan kendangnya, Sujud telah menjadi ‘monumen pengekalan’, kreativitasnya sebagai seniman telah melampaui batas-batas kewilayahan. Dari pengamen jalanan, hingga menjadi musisi yang dikenal dan diperhitungkan. Tubuh boleh tiada, namun karya-karyanya akan abadi, tak lekang oleh waktu untuk didengar dan dinikmati.

Selamat jalan Sujud Sutrisno. Bahagia dan damailah di sisiNya. Aamiin!

(Aris Setiawan. Etnomusikolog. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 17 Januari 2018)

BERITA REKOMENDASI