Imlek, Tahun Baru Bersama

Editor: Ivan Aditya

LATAR belakang historis Tahun Baru Imlek telah menjadikannya bukan sekadar perayaan tahun baru oleh etnis tertentu. Meski pelaksanaan perayaan ini selalu ditentukan oleh keputusan politik. Selama Orde Baru, Imlek tidak boleh dirayakan secara mencolok dan tidak boleh di muka umum. Inpres No 14/1967 menginstruksikan orang Tionghoa untuk tidak menjalankan agama, kepercayaan, adat istiadatnya di ruang publik. Baru 33 tahun kemudian, Presiden Abdulrahman Wahid mencabut Inpres itu dengan Kepres No 6/2000. Puncaknya, Presiden Megawati dengan Kepres No 19/2002 menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional.

Dengan menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional pada tahun 2002, Imlek mestinya menjadi perayaan seluruh bangsa, bukan terbatas untuk etnik Tionghoa atau umat Konghucu. Apalagi namanya juga Tahun Baru Imlek, perayaan Musim Semi, bukan Tahun Baru China (Chinese New Year). Secara luas, Tahun Baru Imlek di Indonesia lebih cocok diapreasiasi sebagai perayaan kebhinekatunggalikaan. Kita memperingati dan merayakan komitmen bangsa untuk membangun masyarakat pluralistik. Sebuah masyarakat yang berusaha untuk menjaga kesamaan yang kita miliki sebagai manusia dengan identitas yang berbeda-beda.

Meskipun ritual dan atribut perayaan Tahun Baru Imlek banyak diadopsi dari budaya China, perayaan Imlek harus dipahami bukan lagi kerinduan akan tradisi dan budaya leluhur. Di negeri tropis ini kita tidak merayakan kedatangan musim semi. Bagaimanapun juga, perayaan Imlek di Indonesia tidak dapat disamakan dengan perayaan Lunar New Year atau Spring Festival di Tiongkok. Namun hakikat dan makna Imlek bagi orang Tionghoa dimanapun juga sudah berubah. Ia hanyalah sin cia, tahun baru, dirayakan seperti pergantian tahun yang lain, sarat dengan hedonisme dan konsumtivisme. Generasi tua menyayangkan hilangnya nilainilai. Tetapi budaya memang bukan barang mati, ia terus berubah dengan segala konsekuensinya.

‘Mengindonesia’

Oleh karena itu, akan lebih sesuai dengan konteks dan realitasnya bila Tahun Baru Imlek tidak dijadikan perayaan yang parokial dan eksklusif. Warna budaya China dalam perayaan ini bukan menandai kepemilikan etnik dan agama tertentu, tapi diapresiasi sebagai pengkayaan warna kebangsaan kita, yang juga sudah diperkaya oleh berbagai warna dari budaya-budaya dunia yang lain. Dengan mengintegrasikan Tahun Baru Imlek ke dalam perayaan nasional, ke depannya hibridisasi alami akan membuatnya semakin ‘mengindonesia’. Seperti Spring Festival di Tiongkok yang bertranformasi menjadi Tet Festival di Vietnam, dan Seollal di Korea Selatan.

Makna dan pesan dari perayaan Imlek tidak mengenal batas siapa yang merayakan. Bersuka cita untuk mempererat ikatan keluarga dan relasi sosial, memperkuat solidaritas sosial, penghormatan terhadap leluhur dan yang lebih tua, harapan akan masa depan yang lebih baik, jelas bukan merupakan keinginan dan tradisi kelompok sosial tertentu saja. Jadi tidak cukup alasan untuk menganggapnya sebagai perayaan eksklusif etnik Tionghoa. Dalam masyarakat pluralistik, kita tidak lagi bertoleransi terhadap keragaman, karena kita sendiri adalah keragaman itu. Maka kita bersama-sama akan terlibat aktif dalam setiap perjumpaan budaya sebagai warga sebangsa dan setanah air.

Tidak berlebihan kiranya bila kita merayakan Imlek bersama seluruh bangsa sebagai bagian dari perekat NKRI. Selamat Tahun Baru Imlek bagi kita semua, semoga bangsa Indonesia makin sejahtera. Gong Xi Fa Chai!

(Dr Andreas A Susanto. Sosiolog Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Dewan Pakar Perhimpunan Indonesia Tionghoa Cabang Yogyakarta, International Associate Editor, International Journal of China Studies. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 16 Februari 2018)

BERITA REKOMENDASI