Indonesia Bertani

Editor: Ivan Aditya

INDONESIA gempar atas penetapan tersangka IG, ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal menarik saat KPK melakukan konferensi pers adalah bahwa nilai uang yang ‘diamankan’termasuk kecil. Namun kasus ini berkaitan dengan kedaulatan pangan Indonesia, sehingga masuk dalam prioritas penanganan KPK. Konon kasus yang menimpa IG tidak ada kaitannya dengan kewenangan DPD RI. Ini indikasi ada hal menarik bagi siapapun untuk meraup keuntungan materi dalam impor pangan.

Kasus terkait pangan yang menyeret baik pengusaha, politisi ataupun pejabat negara bukan kali ini saja. Tahun 2006 kasus 60 ribu ton beras impor ilegas dari Vietnam, tahun 2013 kasus skandal impor daging sapi, awal tahun 2016 kasus 17 ribu ton jagung impor dari Brazil yang kontroversi, dan beberapa lagi.

Konstruksi Pangan

Pangan Indonesia masih bergantung impor. Produk pangan pokok Indonesia seperti beras, kedelai, jagung, susu, daging sapi, buah-buahan masih impor bervariasi dari 20%-90%, bahkan ada yang impor 100% yaitu gandum. Awal tahun 2016 Kementerian Perekonomian Republik Indonesia merilis rencana impor tahun 2016 di antaranya beras 1,5 juta ton, jagung 600 ribu ton, daging sapi 239 ribu ton, gula 2,9 juta ton dan kedelai +2 juta ton. Kalau (konon) Freddy Budiman menurut penuturan Haris Azhar mampu menyisihkan sekitar Rp 10.000 – Rp 30.000 untuk pejabat negara (per butir pil terlarang), bayangkan jika pada kasus pangan ada Rp 5.000 saja dalam setiap kg maka ada Rp 3-15 M dibalik angka impor tersebut.

Konstruksi pangan Indonesia masih belum menguntungkan untuk berdaulat pangan. Penduduk 250 juta jiwa bergantung dari 14 juta ha sawah dimana 50% luasan ada di Pulau Jawa yang luasnya hanya 6% dari wilayah daratan Indonesia, dengan dihuni 57% penduduk. Analisis data BPS menunjukkan bahwa Jawa sebagai lumbung pangan atas empat dari tujuh komoditas unggulan yaitu sapi 50%, padi 51,5%, kedelai 61,8% dan jagung 53,4%. Jika Indonesia dapat merekonstruksi dan mendistribusi lumbung pangan maka Indonesia akan berdaulat pangan. Indonesia memiliki peluang untuk berdaulat pangan karena kita memiliki lebih dari 70 jenis tanaman penghasil karbohidrat (Nasution, 2004), sekitar 50,2% penduduk tinggal di pedesaan (CNN, 2015), daratan Indonesia sekitar 70% dari total wilayah daratan 192 juta ha (setidaknya diklaim) terdiri atas hutan (143 juta ha) (Wiradi, 2009).

Gerakan

Perlu ada gerakan Indonesia Bertani, agar greget untuk menuju berdaulat pangan ini dimiliki oleh seluruh petani Indonesia (tentu ada perbedaan treatment antara wilayah Jawa dan luar Jawa, termasuk pertanian terpadu perkotaan). Dalam hal lahan dan sumberdaya alam, luar Jawa sangat menjanjikan untuk menjadi lumbung pangan, sedangkan Jawa masih menjanjikan jika dengan sistem integrasi kebunpangan atau hutan-pangan. Dalam hal kapasitas sumber daya manusia (semangat dan skill bertani) Jawa secara rerata lebih unggul, demikian juga dalam hal infrastruktur. Hal ini secara mudah dapat dibuktikan dari pola aktivitas. Hampir dimana ada warga transmigrasi yang berasal dari Jawa maka mereka dapat melakukan aktivitas pertanian.

Perlu penguatan petani yang diikuti dengan infrastruktur pertanian terutama bagi luar Jawa. Penyuluh pertanian ditambah dari 47.955 (27.476 penyuluh PNS dan 20.479 Tenaga Harian Lepas) menjadi 75.224 agar ideal satu desa satu penyuluh. Undang-undang nomor 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani semakin bermakna jika implementasi anggaran desa sebagai dampak UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dapat diarahkan pada penguatan petani dan atau infrastruktur pertanian menuju berdaulat pangan. Gerakan Indonesia Bertani akan mengantarkan Indonesia berdaulat pangan dan semoga tidak ada lagi luka negeri ini karena ada pengusaha, politisi, atau pejabat negara yang tersandung kasus korupsi impor pangan.

(Bambang Suwignyo PhD. Dosen Fakultas Peternakan UGM, Pengurus MPM PP Muhammadiyah Bidang Pertanian Terpadu.  Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 24 September 2016)

BERITA REKOMENDASI