Indonesia dan Poros Maritim Dunia

Editor: Ivan Aditya

PELUANG Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia tampaknya kian terbuka. Sejumlah indikator seperti letak strategis geografis, potensi dan kekayaan bahari. Selain SDM kelautan, dan progresivitas di forum kemaritiman dunia, semakin menguatkan posisi Indonesia meraih predikat tersebut.

Selama ini pemerintah terus berupaya agar Indonesia bisa menjadi poros maritim dunia. Hal itu ditunjukkan baik terkait kebijakan dalam negeri maupun luar negeri. Di dalam negeri pemerintah terus menggenjot optimalisasi pemberdayaan potensi kelautan. Sementara di forum internasional, Indonesia terus aktif di berbagai kancah kebaharian. Selain itu, Indonesia ikut bergiat mengkampanyekan pentingnya membangun poros maritim dunia.

Menurut catatan International Maritime Organization (IMO), Indonesia memiliki banyak potensi kemaritiman seperti jumlah kapal sekitar 12.000 unit kapal. Indonesia juga menjadi salah satu negara terbesar pemasok pelaut di tingkat global. Jumlah pelaut Indonesia mencapai 850.000. Hampir separuhnya bekerja di luar negeri atau di kapal asing. Para pelaut ini menyumbangkan devisa negara sekitar Rp 130 triliun.

Indonesia pun memiliki garis pantai terpanjang di dunia kedua setelah Kanada. Produk perikanan kita peringkat ketiga dunia setelah China dan India. Beberapa jenis komoditas perikanan Indonesia yang diminati pasar internasional adalah udang, tuna, kerang-kerangan, kepiting, ikan hias, ubur-ubur, dan rumput laut. Bukan itu saja, perairan Indonesia pun menyimpan 70 persen potensi minyak nasional. Dari potensi itu baru sekitar 10% yang dieksplorasi dan dimanfaatkan.

Momentum Transformasi

Kita menengarai adanya sebuah transformasi besar yakni bergesernya gravitasi geoekonomi dan geo-politik dunia dari Barat ke Asia Timur. Fenomena ini menguntungkan Indonesia guna mewujudkan cita-cita menjadi poros maritim dunia. Indonesia memiliki potensi besar menjadi poros maritim dunia mengingat Indonesia berada di daerah equator, antara dua benua Asia dan Australia. Antara dua samudera Pasifik dan Hindia.

Indonesia harus mampu memanfaatkan realitas yang ada guna terwujudnya harapan tersebut. Selaras dengan itu, pemerintah perlu terus mendorong strategi pembangunan ekonomi berbasis kebaharian. Sektor ini merupakan salah satu sektor unggulan mengingat potensi produksi yang dimiliki dan permintaan terhadap komoditi kelautan yang terus meningkat.

Dari berbagai kegiatan ekonomi itu dapat memberikan sumbangan pada devisa negara yang cukup besar. Sejumlah negara seperti Norwegia dan Kanada sudah membuktikan. Bahkan Norwegia dengan bertumpu pada sumber daya baharinya, terbukti mampu menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Untuk satu jenis ikan salmon saja, Norwegia mampu mengekspor sekitar 500.000 metrik ton yang nilainya sama dengan seluruh produk perikanan Indonesia. Belum produk-produk lainnya termasuk minyak dan gas.

Tantangan

Sebagai sesama negara bahari, Indonesia pun mempunyai potensi yang tidak kalah dibandingkan Norwegia. Bahkan kita mempunyai sumber daya kelautan yang lebih luas dan beragam. Industri perikanan dan bioteknologi kita diperkirakan memiliki nilai ekonomi sebesar US$ 82 miliar pertahun. Untuk kegiatan wisata bahari diperkirakan jauh lebih besar nilai ekonominya dibandingkan negara bagian Quensland yang sudah mampu meraup devisa lebih dari US$ 3 miliar per`tahun.

Realitas itu menunjukkan betapa luas potensi ekonomi kelautan Indonesia. Lebih dari itu, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, menyimpan keanekaragaman hayati laut paling besar di banding negara-negara lain. Bila potensi ini dimanfaatkan secara optimal, akan dapat menunjang pembangunan ekonomi nasional secara signifikan.

Namun kenyataannya sejak beberapa tahun terakhir, Indonesia justru dihadapkan pada banyak permasalahan ekonomi. Ini menjadi tantangan pemerintah kita agar segera memberikan perhatian serius. Komitmen pada pengembangan ekonomi berbasis bahari bisa menjadi langkah solutif.

Kita meyakini bila kekayaan maritim kita eksploitasi dan eksplorasi secara optimal akan dapat mendongkrak perekonomian nasional. Dengan topangan pilar ekonomi kelautan yang kokoh, negeri ini akan kembali bangkit dan berjaya sebagaimana kerajaan-kerajaan pesisir kita dahulu. Sehingga kita mampu menjadi bangsa bahari yang maju dan sekaligus poros maritim dunia.

(Syarofin Arba MF. Direktur Center for Study of Regional Development. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 15 Maret 2018)

BERITA REKOMENDASI