Investasi Pangan

Editor: Ivan Aditya

PRESIDEN Jokowi menyampaikan apresiasi kepada Mendag, Mentan, Kabulog dan Kapolri yang berhasil menjaga kestabilan harga bahan pokok selama masa menjelang lebaran 2017 ini. Kondisi ini berbeda dengan bulan puasa pada tahun-tahun sebelumnya, yang selalu melonjak. Kemendag telah menetapkan aturan harga acuan 9  pangan lewat Permendag Nomor 27/M-DAG/PER/5/2017.

Harga sembilan komoditas di tingkat konsumen yakni beras medium seharga Rp 9.500/kg, jagung Rp 4.000/kg, kedelai lokal Rp 9.200/kg dan impor Rp 6.800/kg, gula pasir Rp 12.500/kg, minyak goreng curah Rp 10.500/liter dan minyak goreng kemasan Rp 11.000/liter. Bawang merah ditetapkan Rp 32.000/kg, daging ayam ras Rp 32.000/kg, dan telur ayam ras Rp 22.000/kg. Sementara daging beku Rp 80.000/kg, daging sapi segar jenis paha depan Rp 98.000/kg, paha belakang Rp 105.000/kg, sandung lamur Rp 80.000/kg, serta tetelan Rp 50.000. Meski baru efektif berlaku di pasar ritel modern, harga di pasar tradisional saat ini relatif cukup stabil.

Presiden Jokowi juga memberi arahan bahwa pangan adalah soal hidup dan matinya bangsa. Saat ini yang dibutuhkan  rakyat bukan hanya ketersediaan pangan dengan kualitas yang baik, yang bergizi, yang harganya terjangkau. Tapi juga kita harus menjaga agar para petani, produsen pangan tidak selalu dikalahkan. Sehingga kita harapkan mereka dapat hidup lebih sejahtera.

Setiap makluk hidup,  perlu makan, minum dan bernafas. Tahan tidak makan dalam hitungan hari, tidak minum dalam beberapa jam, namun tidak bernafas mengambil oksigen hanya dalam hitungan detik. Selama ini, udara dan air relatif masih tersedia melimpah di bumi ini, namun kualitasnya semakin memburuk. Sedangkan makanan telah lama menjadi komoditas ekonomi, karena ketersediaanya tidak mampu memenuhi kebutuhan. Konglomerat China, Jack Ma menyebut bahwa dalam 10 tahun mendatang yang mahal dan elite bukan lagi rumah, mobil dan uang lagi. Tapi udara segar, air bersih dan makanan sehat serta kesehatan.

Meskipun program pembangunan 1 juta Ha irigasi dan rehabilitasi 3 juta Ha irigasi pada sektor Sumber Daya Air (SDA) belum tercapai, namun produksi pangan tahun 2017 cukup tinggi. Indonesia sudah 2 tahun ini tidak impor beras lagi, sebagai bukti keberhasilan atas kerja keras dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Kunci peningkatan produksi nasional sehingga tidak impor beras ini adalah 'Luas Tambah Tanam' (LTT) padi dan 'Serap Gabah Petani' (Sergap). Toko Tani Indonesia (TTI) dan Rumah Pangan Kita (RPK) memegang peran penting dalam distribusi pangan agar terhindar dari spekulan musiman dan menstabilkan harga di tingkat konsumen.

Ledakan penduduk masa kini dan masa depan membutuhkan loncatan besar untuk menyediakan kecukupan pangan yang mutlak dibutuhkan untuk melangsungkan kehidupan makluk hidup di bumi. Perkiraan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 akan meningkat menjadi 305,6 juta jiwa. Menurut laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2017 ini, populasi dunia saat ini sebesar 7,6 miliar, diperkirakan akan mencapai 8,6 miliar pada tahun 2030, 9,8 miliar pada tahun 2050 dan 11,2 miliar pada tahun 2100. Dengan penambahan populasi dunia sekitar 83 juta orang setiap tahun, tren peningkatan jumlah populasi diperkirakan akan berlanjut.

Amerika Serikat sedang mengembangkan pangan masa depan yang dikenal dengan nama pangan 2,0 di pabrik di Lembah Silikon di California dengan nano-bioteknologi modern. Indonesia lebih mengandalkan kelebihan dan keunggulan ‘jamrud katulistiwa’ sebagai pabrik raksasa bumi. Yang terkenal mempunyai produktivitas alami tertinggi di dunia, sekitar 10 kali lipat dibanding produktivitas biologi di daerah temperate, termasuk Amerika Serikat. Meskipun nilai ekonomis dan strategisnya hanya separohnya. Upaya strategis menuju tangguh pangan berdasarkan Nawacita sudah cukup baik, namun masih bersifat konvensional. Sentuhan bio-nanoteknologi dalam pemberdayaan sumber daya lahan (tanah, air, mineral, iklim mikro dsb), hayati (hewan, tumbuhan, manusia) sangat diperlukan. Untuk mendukung lumbung pangan masa depan melalui ‘Revolusi Biru’ yang akan lebih mengguncang dunia.

(Prof Dr Cahyono Agus. Guru Besar UGM Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 1 Juli 2017)

BERITA REKOMENDASI

Krisis Air Kehidupan

22 Maret 2018

Hutan Kita

26 Desember 2017

Kodrat Alam

28 Juli 2017

Emas Kehidupan Bumi

5 Juni 2017

Sampah Pangan

7 Desember 2016