IPM Indonesia

Editor: Ivan Aditya

PIMPINAN United Nations Development Programme (UNDP), Helen Clark, bersama dengan Perdana Menteri Swedia, Stefan L’fven, baru-baru ini mengumumkan laporan pembangunan manusia Tahun 2016 (Human Development Report 2016). Tidak lama setelah pengumuman laporan tersebut, Direktur UNDP Indonesia, Christope Bahuet, segera mengumumkan laporan pembangunan manusia Indonesia. Pembahasannya difokuskan pada negara kita Indonesia. Bahwa dalam berbagai aspek dikaitkan dengan negaranegara lain, khususnya negara-negara tetangga, tentu tidak bisa dikesampingkan.

Dalam laporan tersebut dimuat capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) yang dapat ditafsir sebagai kualitas negara dilihat dari indikator harapan hidup, pendidikan dan pendapatan per kapita. Makin tinggi angka harapan hidup, makin lama pendidikan dan makin tinggi pendapatan semakin tinggi pula capaian IPM. Artinya, makin tinggi posisi negara bersangkutan dalam sistem pemeringkatan UNDP.

Dalam laporan kali ini UNDP mengelompokkan negara menjadi empat. Masing-masing adalah negara yang capaian IPM. Sangat Tinggi, dari Norwegia Ke-1 s/d Kuwait Ke- 51, IPM Tinggi dari Belarusia Ke-52 s/d Uzbekistan Ke-106, IPM Sedang dari Moldova Ke-107 s/d Pakistan Ke-147 dan IPM Rendah dari Swaziland Ke-148 s/d Republik Afrika Tengah Ke-188. Di mana posisi Indonesia di dalam pemeringkatan tersebut? Ternyata Indonesia berada pada peringkat Ke-113 kelompok negara IPM Sedang, di antara Turkmenistan Ke-112 dan Palestina Ke-114. Kalau dilihat kelompok negaranya, Indonesia termasuk negara yang berkualitas Sedang. Artinya kualitas negara kita tidak rendah akan tetapi juga belum Tinggi, apalagi Sangat Tinggi.

Beberapa negara di Asia Tenggara memang sama-sama berkualitas Sedang seperti Vietnam Ke-115, Filipina Ke-116, Timor Leste Ke-133, Laos Ke-138 dan Myanmar Ke-145. Tetapi beberapa negara tetangga sudah berada pada kelompok negara berkualitas Tinggi seperti Thailand Ke-87 dan Malaysia Ke-59. Beberapa negara tetangga bahkan berada pada kelompok negara berkualitas Sangat Tinggi, yaitu Brunei Darussalam Ke-30, Selandia Baru Ke-13, Singapura Ke-5 dan Australia Ke-2.

Indonesia dikepung oleh negara-negara yang berkualitas Tinggi dan Sangat Tinggi. Artinya, pelayanan kesehatan yang tercermin dalam angka harapan hidup, pelayanan pendidikan yang tercermin dalam lamanya bersekolah serta pelayanan ekonomi. Hal itu tercermin dalam pendapatan per kapita penduduk Indonesia belum setinggi negara-negara tetangga pada umumnya. Realitas tersebut harus kita petik manfaatnya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, pendidikan dan ekonomi agar IPM Indonesia meningkat di masa mendatang sehingga kualitas negara kita pun meningkat. Perlu ditegaskan bahwa tujuan utama adalah meningkatkan pelayanan kesehatan, pendidikan dan ekonomi sehingga IPM meningkat.

Indikator pendidikan dalam HDR 2016 diukur dengan lamanya bersekolah. Karena itu perbaikan pelayanan pendidikan di Indonesia dapat lebih difokuskan untuk memperpanjang angka harapan lama bersekolah dan rata-rata lama bersekolah. Kiranya perlu diketahui bahwa dahulu indikator pendidikan diukur dengan angka melek huruf (literacy rate). Tetapi sekarang diganti dengan angka harapan lama bersekolah (expected years of schooling) dan rata-rata lama bersekolah (mean years of schooling).

Harapan lama bersekolah di Indonesia dalam HDR 2016 adalah 12,9 tahun, sedangkan rata-rata lama bersekolah adalah 7,9 tahun. Artinya penduduk Indonesia berharap dapat bersekolah sampai semester 2 perguruan tinggi (12,9 tahun). Tetapi realitasnya baru sampai Kelas 2 SMP (7,9 tahun). Angka ini jauh lebih rendah dibanding Singapura dan Australia, bahkan dibanding Malaysia yang dahulu menjadi ‘murid’ kita.

Kebetulan penulis dilibatkan Kemdikbud menangani Program Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T). Para sarjana ditempatkan mengajar di daerah yang umumnya lokasinya saja sulit dijangkau. Dari laporan mereka jangankan bersekolah sampai SMA, sedangkan untuk SD dan SMP saja masih sangat banyak kendala. Lokasi sekolah yang jauh dari tempat tinggal sd rendahnya motivasi bersekolah adalah kendala yang utama.

Artinya, untuk memperpanjang harapan lama bersekolah serta rata-rata lama bersekolah agar kualitas negara kita meningkat maka pemerintah justru harus fokus meningkatkan pendidikan masyarakat di daerah pedesaan dan pedalaman.

(Prof Dr Ki Supriyoko. Direktur Pascasarjana Pendidikan UST Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 29 Maret 2017)

BERITA REKOMENDASI