Ironi Gerakan Mahasiswa

Editor: Ivan Aditya

DEMONSTRASI ‘May Day’ di Yogyakarta berakhir ricuh dan perusakan pos polisi. Begitulah konten berita yang dituliskan beberapa media nasional dan lokal Yogyakarta ketika memberitakan demonstrasi yang berakhir ricuh di pertigaan depan UIN Sunan Kalijaga.

Meski peringatan Hari Buruh, peserta aksi bukanlah semuanya para buruh. Para demonstran menyebut dirinya Gerakan 1 Mei, (Geram). Tuntutan mereka bermacam-macam. Mulai perbaikan upah pekerja, penurunan harga BBM, penghentian pembangunan Bandara Kulonprogo, penolakan terhadap ‘Sultan Ground’ dan ‘Pakualaman Ground’ hingga pencabutan Perpres No 20 Tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing. Jika kita mendebatkan kronologi tentang siapa yang menjadi pemicu kerusuhan dan bagaimana akhirnya kerusuhan itu pecah maka tidak akan menemukan titik temu.

Akan tetapi yang bisa kita lihat bersama adalah demonstrasi yang mengatasnamakan kepentingan rakyat. Namun memunculkan bentrokan, pengrusakan fasilitas umum, ada pentungan dan bom molotov. Demonstrasi ini pun berakhir dengan penangkapan 69 orang yang terdiri atas 59 laki-laki dan 10 perempuan. Sebagian besar mahasiswa.

Makna Gerakan Mahasiswa

Menyaksikan beragam aksi mahasiswa turun ke jalan menyuarakan aspriasi rakyat dan mengkritik pemerintah karena kebijakannya yang dinilai gagal, kita patut sedikit bernapas lega. Ternyata masih ada napas-napas kecil gerakan kontrol pemerintah yang dilakukan mahasiswa di tengah kondisi meredupnya civil society di dalam relasi antaraktor dalam negara sekarang ini.

Akan tetapi, napas lega tersebut akan berubah menjadi sikap acuh bahkan menjadi sinis. Apalagi ketika bentuk penyuaraan aspirasi dilakukan dengan blokade jalan, melemparkan bom molotov, merusak fasilitas umum yang tanpa disadari menggerus wajah populisme yang dibawa para mahasiswa tersebut. Hari ini, pesan ‘merakyat’tersebut akan sulit sampai ke telinga pejabat atau pembuat kebijakan. Jika hanya bentuk kekerasan yang dilakukan.

Dengan kapasitas gerakan yang berjumlah puluhan orang atau bahkan mungkin sampai ratusan tanpa ada mobilisasi akar rumput yang kuat berjumlah seratus ribu orang, tidak mudah. Bisa dikatakan mustahil untuk mengejawantahkan pola fikir dan sikap mahasiswa menjadi aktor politik yang mampu mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam waktu yang relatif singkat.

Salah satu poin penting yang tidak boleh dilupakan mahasiswa ketika melakukan gerakan sosial adalah pijakan moral. Basis gerakan yang dilakukan tidak bisa hanya menggunakan dorongan kekuatan ala politikus yang mencoba meraih keinginannya tanpa ada rambu-rambu. Gerakan moral dibangun dengan pola fikir yang jernih dengan melakukan pembelaan terhadap hak-hak rakyat yang dirampas. Untuk kemudian menyadarkan masyarakat bahwa hak yang hilang tersebut harus diambil kembali agar tidak menimbulkan kerugian dalam jangka panjang (Usman, 1999:160).

Seringkali gerakan demonstrasi hanya dilakukan dalam satu momentum tanpa ada gerakan hegemoni sosial yang bersifat berkelanjutan di masyarakat. Demonstrasi menjadi sebuah sikap monoton dan seolah menjadi SOP baku yang dilakukan mahasiswa di tiap momentum hari besar nasional.

Gerakan Inovatif

Perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin pesat dengan hadirnya beragam media sosial membuat ruang aspirasi dan gerakan semakin beragam dan inovatif. Gerakan inovatif yang bisa dilakukan adalah mahasiswa tidak hanya pintar dalam aksi orasi, tetapi juga harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas literasi. Ruang media konvensional hingga yang berbentuk online menyediakan beragam ruang penulisan.

Mahasiswa juga dapat melakukan langkah alternatif dengan mengintensifkan pembentukan media-media alternatif yang berisi konten kritik, pengetahuan dan publikasi kegiatan. Media alternatif perlu disebarluaskan sehingga membentuk jejaring atensi yang luas dikalangan mahasiswa.

Gerakan protes juga bisa dilaksanakan dengan mengadopsi ‘Kumpul Koin Prita’melalui situs Change.org. Maupun mengadopsi gerakan yang ditempuh oleh Bali Tolak Reklamasi maupun #SaveRembang. Yang mengkombinasikan gerakan melalui gerakan turun jalan yang bersifat kreatif dan gerakan melalui media sosial dengan viral #Hastag (Prasisko, 2016: 14).

Gerakan aksi turun jalan sebagai aksi politik face to face negara harus memandang sumber daya yang dimiliki. Mahasiswa sebagai aktor intelektual harus berfikir detail bahwa mempengaruhi kebijakan tidak bisa hanya menggunakan kekerasan dan perusakan. Karena yang tergerus adalah substansi tuntutannya sendiri.

(Bagus Nuari Harmawan SSos. Mahasiswa Magister Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 4 Mei 2018)

BERITA REKOMENDASI