Jerat Pidana Bagi Pelaku (Maaf) Begal Payudara

Editor: Ivan Aditya

AKHIR-AKHIR ini kasus begal payudara marak terjadi di wilayah hukum Polda DIY. Kasus begal payudara yang belum lama terjadi di wilayah hukum Polres Sleman tepatnya jalan Raya Banteng Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan korban bernama Banu (30) mengaku menjadi korban begal payudara para Rabu (13/01/2021). Dirinya menduga pelaku begal payudara mengira dirinya adalah perempuan karena rambutnya gondrong.

Kini kasus dugaan begal payudara muncul kembali. Kali ini korbannya adalah MCR (28) seorang perempuan menjadi korban pelecehan seksual dengan modus remas payudara atau sering disebut begal payudara di daerah Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (11/3). Akibat peristiwa tersebut korban mengalami trauma dan sempat masuk ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah sakit.

Daftar Panjang

Kasus begal payudara yang menimpa korban MCR menambah daftar pajang kasus begal payudara di Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena sebelumnya kasus serupa pernah terjadi.

Dalam catatan Jogja Police Watch pada 4 November 2018 seorang turis berkebangsaan Belanda menjadi korban begal payudara di Jalan Prawirotaman 1, Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta. Kemudian pada 4/7/2019 seorang mahasiswi asal Cilacap menjadi korban begal payudara di kawasan Jalan Ngasem, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta.

Setelah reda ditahun 2020 namun awal tahun 2021 ini kasus begal payudara muncul lagi. Pada (13/01/2021) kasus begal payudara menimpa seorang laki-laki berambut gondrong di jalan raya Banteng Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman DIY. Kejadian yang dia alami pada malam hari pulang dari kantor tempat dirinya bekerja.

Selanjutnya pada (29/01/2021) seorang pelajar mengaku menjadi korban begal payudara di simpang tiga, Jalan Mawar, Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Kasus tersebut sudah pernah dilaporkan ke pihak Polsek Gondokusuman namun hingga kini pelaku belum tertangkap. Yang teranyar adalah kasus begal payudara terjadi pada (11/03/2021) yang menimpa MCR korban seorang perempuan di sekitar Kelurahan Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY.

Kasus begal payudara terus bermunculan dan pelaku masih saja berani melakukan aksi tidak senonoh itu meskipun beberapa pelaku sudah ditangkap polisi. Seakan tidak ada efek jera bagi pelaku begal payudara. Dari rentetan kasus begal payudara yang terjadi akhir-akhir ini membuktikan bahwa kekerasan seksual dengan modus begal payudara bisa terjadi kepada siapa pun termasuk laki-laki yang memiliki rambut gondrong.

Jerat Pidana

Lalu, bagaimana sebenarnya pengaturan sanksi pidana bagi pelaku begal payudara ini? Baru-baru seorang laki-laki warga negara Indonesia bernama Reynhard Sinaga dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan Manchester Inggris. Reynhard terbukti melakukan 159 kasus pemerkosaan dan serangan seksual terhadap 48 pria.

Kalau di pengadilan Inggris itu dilihat jumlah korbannya, dihitung sama mereka berapa kerugiannya. Tapi kalau di Indonesia, jumlah korban itu tidak dilihat. Pokoknya sanksinya ya hanya sesuai dengan pasalnya. Jadi sebanyak apa pun korbannya, ya sanksinya begitu saja, yang dihitung tetap satu.

Dalam hukum di Indonesia hanya ada dua perangkat hukum yang mengatur masalah kekerasan seksual, salah satunya KUHP pasal 285 yang berbunyi, “barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.”

Di KUHP kita hanya mengenal pemerkosaan yang berbentuk bersetubuhan antara laki-laki dan perempuan, dengan adanya penetrasi.

Kedua, Pasal 289 sampai Pasal 296 KUHP yang mengatur perbuatan “cabul”. Ancaman hukuman penjara paling lama yang diatur dalam pasal tersebut lebih singkat daripada pasal pemerkosaan, yakni hanya tujuh tahun. Kalau pemerkosaan ke anal, itu masuknya ke pencabulan. Di luar penetrasi antara laki-laki dan perempuan, itu masuknya pencabulan, padahal pasal pencabulan ancaman hukumannya lebih ringan daripada pemerkosaan.

Menurut penulis, pasal 290 KUHP ayat (1) dapat diterapkan bagi pelaku begal payudara karena melakukan perbuatan cabul disaat korban tidak berdaya dan diancam pidana paling lama tujuh tahun. Korban setelah mengalami pelecehan tidak berdaya melakukan perlawanan karena pelaku menggunakan sepeda motor dan kebanyakan pelaku langsung kabur.

Menjadi tugas polisi untuk mengusut tuntas kasus begal payudara ini. Selain itu pemerintah bersama DPR punya pekerjaan rumah segera dirampungkan yakni mengesahkan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) menjadi UU.

Baharuddin Kamba
Kadiv Humas Jogja Police Watch

BERITA REKOMENDASI