Kanonisasi Ibu Teresa

Editor: Ivan Aditya

IBU Teresa tak pernah dilupakan. Meskipun sudah 19 tahun lalu beliau berpulang, banyak orang mengingatnya. Karya cinta kasihnya abadi. Ribuan orang setia menjadi pengikutnya. Relawan-relawati berkarya meneruskan semangatnya. Kalimatkalimat yang diucapkannya dikutip di manamana bagaikan virus yang menyebarkan semangat cinta kasih.

Tanggal 4 September 2016 ini mata dunia kembali tertuju kepadanya. Di Vatikan, Ibu Teresa yang meraih Nobel Perdamaian pada tahun 1979 karena karya cinta kasihnya, akan dikanonisasi sebagai orang kudus atau sancta oleh Paus Fransiskus dalam tradisi Gereja Katolik. Pengumuman tentang kanonisasi Ibu Teresa telah dilakukan Paus Fransiskus, 15 Maret 2016, menindaklanjuti sebuah mukjizat penyembuhan dengan perantaraan doa kepada Ibu Teresa yang telah diakui Dewan Kepausan sebagai syarat, bahwa seseorang dapat dilantik Gereja Katolik manjadi sancta/sancto atau orang kudus.

Pada bulan Desember 2008, seorang Brasil yang bernama Marcilio Haddad Andrino telah disembuhkan dari penyakit abses otak setelah istrinya Fernanda Nascimento Rocha berdoa dengan perantaraan Ibu Teresa. Bahkan kemudian pasangan Andrino dan Rocha dianugerahi dua anak, meskipun sebelumnya telah divonis kemungkinan mereka mempunyai anak hanya satu persen.

Dalam tradisi Katolik, seseorang bisa diangkat menjadi ”terberkati” atau beata, bila ada mukjizat penyembuhan atas seseorang yang berdoa dengan perantaraannya. Selanjutnya, apabila terjadi penyembuhan atas seorang lainnya lagi, orang tersebut dapat diangkat menjadi ”orang kudus” atau sancto/sancta. Memang, ada kepercayaan, orang kudus selalu berbuat nyata bagi orang lain dalam rupa penyembuhan fisik dan selanjutnya orang kudus akan dijadikan perantara doa bagi orang-orang yang memiliki pelbagai kesulitan ataupun penyakit.

Kanonisasi Ibu Teresa bertepatan dengan Perayaan Yubelium Istimewa Kerahiman Ilahi. Tuhan yang berbelaskasih, yang menampakkan kemurahanNya kepada setiap orang, dirayakan Gereja Katolik di sepanjang tahun 2016. Semangat berbelaskasih ini selaras dengan semangat Ibu Teresa yang berkarya bagi orang yang paling miskin dari yang miskin (the poorest of the poor).

Ibu Teresa menjadi ikon belas kasih Tuhan kepada seluruh ciptaanNya. Ibu Teresa menjadi teladan jutaan orang di dunia ini agar rela berbelaskasih kepada sesamanya. Karya Ibu Teresa dilanjutkan para pengikutnya. Ribuan orang meneruskan cita-cita dan semangatnya dalam Misionaris Cinta Kasih. Banyak pula relawan-relawati yang bergabung dalam Karya Kasih Ibu Teresa (KKIT).

Satu hal yang sungguh patut dicontoh dari Ibu Teresa adalah kedekatannya dengan Tuhan lewat doa. Ibu Teresa selalu membawa seluruh karyanya di dalam doa. Ia sungguh dekat dengan Tuhan, sehingga ia pantas disebut sebagai mistikus. Salah satu ucapannya berbunyi: ”Kita membutuhkan cinta yang mendalam dan kesatuan yang mendalam dengan Tuhan untuk dapat menampakkan wajah Tuhan di dalam sesama kita. Kesatuan kita dengan Tuhan harus sungguh nyata, hidup, dirasakan secara mendalam dan menjadi buah dari iman kita. Kita melihat wajah Tuhan di dalam Kristus dan menemukan Kristus di dalam orang-orang miskin” (Dhavamony, 1990). Sebagai seorang biarawati Katolik, Ibu Teresa sangat rajin mengikuti Perayaan Ekaristi dan menerima Sakramen Mahakudus. Kekuatan dari seluruh karyanya ada pada doa dan kedekatannya dengan Tuhan.

Saat ini bermunculan keinginan yang kuat dari banyak orang untuk menjadi relawan dan aktivis sosial. Beberapa saat lalu di banyak kota bermunculan gerakan membagikan nasi bungkus sebagai wujud perhatian bagi orangorang kecil dan tersingkir. Muncul gerakan peduli lingkungan melalui jaringan dan aneka bakti sosial. Meneladan Ibu Teresa, gerakan-gerakan sosial tersebut harus dilandasi motivasi yang jernih. Motivasi yang jernih itu dapat ditemukan melalui doa dan kedekatan dengan Tuhan. Tanpa motivasi jernih, gerakan-gerakan sosial tersebut hanya merupakan aktivisme yang dangkal, tak lebih dari ”menjual proposal belaka”.

Disinilah pengangkatan Ibu Teresa menjadi sangat relevan, yakni karya sosial bagi sesama harus menjadi perwujudan kasih Sang Pencipta. Ucapan beliau sangat bermakna: Hearts to love, hands to serve; hati untuk mencinta, tangan untuk melayani.”

(Dr Agus Tridiatno MA, Dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 3 September 2016)

BERITA REKOMENDASI