Kebangkitan Teknologi Nasional

Editor: Ivan Aditya

SETIDAKNYA ada tiga hal yang harus dicermati, mengapa berbicara tentang Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang diperingati setiap 10 Agustus menjadi penting artinya. Pertama, mulai Bulan Desember 2015 ini kita menghadapi era pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), di bidang barang, jasa, modal dan tenaga kerja. Kedua, terkait dengan terjadi bonus demografi pada tahun 2020-2030 nanti. Dan ketiga, rendahnya daya saing bangsa ini.

Dalam dunia pasar bebas, pertempuran bukan lagi antarnegara, namun sudah head to head atau antarindividu. Kalau globalisasi ‘jilid pertama’ Negara memegang peranan dalam mengekspansi dunia, globalisasi ‘jilid kedua’ adalah masa multinational corporation yang memegang kendali. Maka pada globalisasi ‘jilid ketiga’, sudah men-drive individu. Setiap individu harus mampu mempersiapkan dirinya sendiri untuk menghadapi persaingan.

Keasyikan kita menjadi ‘ladang’ bisnis multinational corporations (MNCs) antara lain menyebabkan rendahnya daya saing kita. Di sisi lain menyebabkan keringnya penelitian bermutu di perguruan tinggi kita. Sederhana saja, karena pada umumnya para pemilik MNCs hanya ‘mempekerjakan’ ilmuwan kita sebatas ‘tukang’. Sementara kendali teknologi tetap berada di Tokyo, New York, Paris, London, atau Berlin.

Bonus Demografi

Rendahnya daya saing juga ditunjang rendahnya tingkat pendidikan pekerja kita, yang lebih dari 55% hanya tamat Sekolah Dasar. Padahal 2020-2035 negeri ini akan mengalami apa yang disebut sebagai bonus demografi, yakni kondisi melimpahnya penduduk usia produktif. Kondisi ini baru pada tataran ‘potensi’ dan tidak akan bermakna jika mereka yang berada dalam rentang usia produktif tersebut ternyata ‘tidak bermutu’ yang ditandai oleh rendahnya tingkat pendidikan.

Jika sumber daya manusia tidak bermutu, maka bonus demografi justru tidak akan menjadi berkah, namun malahan menjadi musibah. Melimpahnya penduduk usia kerja yang tidak bermutu serta tidak didukung oleh kesempatan kerja yang ada, akan menambah masalah sosial.

Karenanya, dunia pendidikan, khususnya Perguruan tinggi, diharapkan mampu menyiapkan sumber daya manusia untuk mendukung pmbangunan nasional, baik dari tenaga madia yang terampil, maupun para pemikir dan ilmuwan peneliti yang andal. Perguruan tinggi adalah lembaga pendidikan menyumbang ilmu dan teknologi bagi masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan, dan bukan sebagai ‘pabrik sarjana’. Bukan sebatas menerima mahasiswa sebanyak mungkin, membangun fasilitas fisik. Namun universitas bersifat luwes dan tidak terdikte kebutuhan pasar belaka. Perguruan tinggi mestinya lembaga pendidikan yang juga merupakan bagian dari kebudayaan bangsa yang tidak lepas dari nilai-nilai historis sebagai sumber identitas dan kesatuan nasional.

Anggaran Riset

Hambatan pengembangan iptek datang dari rendahnya anggaran riset. Berdasarkan data LIPI, anggaran riset Indonesia hanya sebesar 0,09% dari PDB Nasional. Sementara Malaysia sudah mencapai 0,39%, Vietnam 1,1%, Singapura bahkan mencapai 2%. Padahal, UNESCO merekomendasikan bahwa anggaran belanja riset suatu negara idealnya tidak kurang dari 2 persen PDB.

Kebangkitan teknologi nasional tidak hanya didukung oleh besarnya dana riset, namun juga faktor etos kerja bangsa kita. Etos bangsa harus mengacu kepada inner-worldly orientation (orientasi kepada dunia batin) dan this-worldly orientation (duniawi-material). Jika dua hal itu diseimbangkan maka akan muncul self-fulfillment dan self realization, yakni kepuasan batin.

Banyak teori tentang etos kerja seperti itu, dan mereka tidak serta merta memetik hasilnya. Di Barat ada etos protestan (menurut Weber), etos zaman Renaissance, dan etos kerja yang tinggi (need achievement menurut David McCleland). Dan di Jepang ada etos Bushido, yang dipuncaki pada Restorasi Meiji. Semua etos tersebut merupakan pendorong utama lahirnya budaya kerja dan asketisme intelektual. Dalam hal ini media massa, terutama TV juga tak kalah penting perannya. Karena mereka adalah agen kebudayaan yang mampu membrain washing masyarakat, terutama ABG.

Kasihan nenek moyang kita yang dulu jaya di era Majapahit dan Sriwijaya. Mereka sanggup memimpin bangsa lain sembari mengembangkan budaya kerja, hingga melintasi Asia sampai Afrika. Kini, menyaksikan anak cucunya jadi bulan-bulanan bangsa lain.

(Prof Dr Ir Saratri Wilonoyudho MSi. Dosen Unnes, Anggota Dewan Riset Daerah Jateng. Artikel ini tertulis di Koran Kedaulatan Rakyat, Kamis 11 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI