Kebersamaan Idul Adha 1437 H

Editor: Ivan Aditya

SETIAP tahun, saat menyambut Idul Adha umat Islam Indonesia sering dikhawatirkan dengan perbedaan permulaan jatuhnya Idul Adha versi Pemerintah dan versi berbagai organisasi besar Islam. Dalam kasus Idul Adha perbedaan muncul tidak sematamata persoalan hisab dan rukyat, tetapi juga dikaitkan dengan peristiwa wukuf di Arafah. Mengapa? Karena umat Islam yang berada di luar kota Makkah dan tidak melaksanakan ibadah haji disunahkan menjalankan puasa Arafah.

Dalam menghadapi permasalahan ini jumhur ulama mengembangkan konsep Ittihad alMatali. Pandangan ini diikuti beberapa tokoh di Timur Tengah, seperti Abu Zahroh, Ahmad AsySyirbashi dan Ahmad Muhammad Syakir. Di Indonesia, pendapat ini dikembangkan pula oleh Hasbi ash-Shiddieqy. Dalam artikelnya yang berjudul Perbedaan Matlak Tidak Mengharuskan Berlainan Hari Memulai Puasa, Hasbi memandang, perbedaan matlak dalam berhari raya pada mulanya akibat perbedaan pandangan politik.

Di era modern konsep Ittihad al-Matali dikembangkan dalam bentuk sebuah sistem kalender yang dikenal dengan kalender Islam global. Salah seorang tokoh awal yang menggagas kalender Isam global adalah Husein Fathi dalam buku yang berjudul Kaifa Nuwahhidu atTaqwim al-Hijry al-ëAlam al-Islamy (1389/1970). Kehadiran kalender Islam global ini diharapkan mampu menyelesaikan perbedaan dalam merayakan Idul Adha. Hasil konferensi Turki 2016 juga memutuskan penggunaan kalender Islam global untuk dijadikan acuan umat Islam sedunia agar permasalahan perbedaan Idul Adha dapat diselesaikan.

Meskipun demikian, umat Islam masih belum sepakat menerima hasil konferensi tersebut. Setidaknya ada tiga kelompok, yaitu pertama menerima secara utuh hasil konferensi tersebut, kelompok kedua menganggap hasil konferensi tersebut dapat diterima sebagai visi bersama untuk mewujudkan kalender Islam yang mapan, sedangkan implementasinya bertahap dengan mempertimbangkan problem yang berkembang di negara masing-masing dan kelompok ketiga menanggapi secara negatif hasil konferensi tersebut dan masih mempertanyakan proses yang dilakukan. Bahkan Salman Zafar Shaikh, koordinator Hilal Sighting Committee of North America (HSCNA) menganggap metode voting yang dilakukan peserta konferensi di Turki dalam memilih sistem kalender tidak memiliki landasan syar’i yang kuat dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Memperhatikan fenomena di atas dalam konteks Indonesia pandangan kedua tampaknya lebih realistis jika dikaitkan sejarah upaya penyatuan kalender Islam. Pengalaman Malaysia dapat dijadikan renungan bersama. Pada tahun 1986-1991 Malaysia mengadopsi hasil konferensi Istanbul Turki 1978 yang disesuaikan dengan kondisi Malaysia untuk menentukan awal Ramadan dan Syawal.

Selain Ramadan dan Syawal menggunakan ijtimak hakiki. Pada saat itu tampak pula usaha Malaysia mewujudkan kalender Islam internasional yang sudah lama digagas Mohammad Ilyas dengan melakukan riset berkelanjutan. Tetapi hasil riset tersebut masih sulit diterima dan diimplementasikan.

Selanjutnya dalam menentukan Idul Adha 1437 sesuai data hisab menunjukkan, ijtimak awal Zulhijah 1437 terjadi pada hari Kamis 1 September 2016 ketinggian hilal di Indonesia berkisar antara nol derajat sampai minus satu derajat. Ini berarti secara teoretis hilal tidak mungkin dapat dilihat maka awal Zulhijah 1437 jatuh pada Sabtu 3 September 2016. Dengan kata lain Idul Adha 1437 antara pemerintah dan ormas Islam akan dilaksanakan bersama pada hari Senin 12 September 2016. Begitu juga kelompok yang menggunakan kalender Islam global akan merayakan Idul Adha bersama dengan pemerintah dan ormas Islam lain karena visibilitas hilal 5+8 belum terpenuhi.

Sementara itu Taqwim Umm al-Qura menjatuhkan tanggal 1 Zulhijah 1437 pada hari Jumat 2 September 2016 karena telah memenuhi persyaratan kriteria yang ditentukan dan Idul Adha 1437 jatuh pada hari Ahad 11 September 2016. Hanya saja dalam praktiknya ketetapan dalam Taqwim Umm al-Qura tersebut masih menunggu hasil observasi di Lapangan. Apabila pada hari Kamis 1 September 2016 tidak ada laporan keberhasilan melihat hilal, Idul Adha 1437 dilaksanakan bersama-sama antara kelompok pendukung Saudi Arabia, pendukung kalender Islam global (Turki dan Eropa) dan poros MABIMS (Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapore). Wa Allahu Aklam.

(Prof Dr Susiknan Azhari. Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Direktur Museum Astronomi Islam. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 10 September 2016)

BERITA REKOMENDASI