Kebudayaan dan Energi

Editor: Ivan Aditya

APAPUN yang kita raih hingga hari ini, secara keseluruhan merupakan produk kebudayaan. Peraihan itu akan terus berubah dan berkembang sesuai dengan dialektika berbagai hal. Seperti perkembangan ilmu pengetahuan, SDM dan SDA-nya, dan berbagai sumber daya ekonomi ataupun kultural yang berjalan secara paralel. Satu hal yang mengubah sistematika dan pola kebudayaan adalah temuan dan pengelolaan terhadap berbagai energi. Baik energi yang tak terbarukan maupun energi yang terbarukan.

Temuan terhadap bahan bakar, atau sumber energi dari air, api, angin, ataupun sinar matahari, telah mengubah pola kehidupan manusia untuk terus menerus mengeksplorasi energi. Sehingga energi pun menjadi primadona, diperebutkan dan lebih dari itu menjadi proyek yang sangat besar. Kita menjadi masyarakat konsumtif energi.

Masalahnya adalah ada energi yang tidak dikelola, tidak dieksplorasi dengan maksimal, tidak dipraktikkan dengan baik, sehingga energi dalam pengertian konvensional nyaris menjadi dominan tanpa tanding. Energi konvensional tersebut mengkooptasi kita menjadi rakus energi, tanpa kontrol energi tandingan. Energi tandingan yang saya maksud adalah energi cinta dan benci.

Energi Cinta-Benci

Kalau pengertian energi konvensional bersifat eksternal, maka energi cinta bersifat internal. Energi itu ada dalam diri kita. Apakah cinta itu sesuatu yang bisa disebut energi. Energi adalah sesuatu materi yang bisa dipakai untuk menghidupkan, menggerakkan, menjadikan sesuatu bertenaga. Sehingga berbagai hal yang ‘dihidupkan’ itu dapat berguna atau berfungsi dalam kehidupan kita. Tentu pengertian tersebut bukan sesuatu yang sangat teknis.

Dengan demikian, cinta adalah energi karena cinta adalah suatu ‘materi’ yang membuat kita hidup, yang membuat kita bergairah, yang membuat kita mau melakukan apa saja demi cinta itu sendiri. Di luar pengertian ruh, atau nyawa, cintalah yang menggerakkan hidup kita untuk menuju sesuatu yang mulia.

Persoalannya adalah bahwa keberadaan cinta tidak cukup mendapat perhatian sebagai energi. Cinta lebih dipahami sebagai satu sifat kemanusiaan, sesuatu yang abstrak. Sebagai akibatnya, kesifatan cinta diumbar untuk dan sebagai kepuasan-kepuasan duniawi, cinta kecantikan, cinta keindahan, cinta ketampanan, cinta kekayaan, cinta kesuksesan, dan cinta keberhasilan. Termasuk di dalamnya kepuasan mencintai dan menikmati energi eksternal.

Berkebalikan dengan cinta, apakah benci juga sebuah materi yang bisa disebut energi. Tidak berbeda dengan cinta, benci juga menjadi sesuatu yang menggerakkan kita, menjadikan kita bisa melakukan apa saja karena kita membenci. Mungkin kita melakukan tindak atau aksi protes tertentu karena kita membenci korupsi. Mungkin kita membenci seorang penipu, membenci orang yang kerjanya menyebar fitnah. Artinya, energi benci juga diperlukan agar selalu ada kontrol terhadap keserakahan, ketamakan, dan kerakusan.

Karena tidak dipergunakan dan didayagunakan dengan cukup baik, energi benci dimanipulasi sebagai satu sifat buruk kemanusiaan. Kita tidak mengeksplorasi energi kebencian dan dimodifikasi, ditransformasi, sebagai materi yang berdaya positif. Kita mampu mengubah sampah dan berbagai jenis limbah lainnya menjadi energi. Mengapa kita tidak melakukan hal yang sama sehingga energi benci bisa dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat.

Kebudayaan dalam Ketegangan

Hal yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa kebudayaan berjalan dalam ketegangan antara energi cinta dan benci, mencintai atau membenci sesuatu. Kita tidak bisa menolak keberadaan dan kekuatan cinta dan benci. Menerima cinta dan menolak benci juga hampir tidak mungkin. Cinta dan benci merupakan kekuatan rahasia (kalau bukan kekuatan Illahiah) yang ada dalam diri kita. Manusia tidak lain merupakan citra yang Maha Mengada di muka bumi dengan segala energi yang dititipkan-Nya pada kita.

Negara, bangsa, masyarakat, dan segala hal yang ada di muka bumi ini, hadir dalam dua risiko; dicintai atau dibenci. Sebagai misal, kita membenci pembangunan yang merusak lingkungan dan kemanusiaan, tapi kita menikmati hasil pembangunan. Kita membenci kapitalisme, tapi kita mencintai kekayaan. Kita mencintai suatu periode masa lalu kita yang jaya, tapi kita membenci masa lalu sebagai bangsa yang terjajah. Kita mencintai diri kita yang baik, tapi kita membenci diri kita yang kotor.

(Dr Aprinus Salam. Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 2 November 2016)

BERITA REKOMENDASI