Kekuatan Indonesia

Editor: Ivan Aditya

APA? sesungguhnya kekuatan Indonesia sehingga mampu merdeka? Sumber daya alamnya yang berlimpah-limpah, letaknya yang strategis, atau kepintaran manusianya yang pada 1945 berjumlah 70-an juta orang? Bukan! Ketiganya memang penting, tetapi bukan jawabannya.

Kekayaan alam justru membuat kita didera penjajahan, bahkan hingga sekarang. Strategisnya letak geografis membuat Indonesia begitu terbuka dan menjadi saluran masuk-keluarnya barang-barang selundupan. Adapun dalam hal kepintaran, manusia Indonesia justru tercatat oleh United Nations Development Project (UNDP) pada urutan 113 dari 188 negara.

Jawabnya adalah: keyakinan. Keyakinan tentang apa? Keyakinan bahwa perbedaan bukan halangan untuk bersatu. Keyakinan itu begitu kuat sehingga mampu memadukan kehendak 70 juta rakyat Nusantara untuk merdeka. Sejarah mencatat, kebangsaan Indonesia tidak terbentuk oleh kesamaan suku, rambut, budaya, bahasa, adat-istiadat, apalagi agama. Dalam semua itu, Indonesia sangat beragam. Yang menyatukan kita adalah kesamaan nasib, kesamaan sebagai bangsa terjajah, kesamaan kehendak untuk bebas dari penjajahan.

Bangsa ini mustahil merdeka tanpa keyakinan itu. Sulit dinalar warga yang beragam dan terpencar di ratusan pulau dapat diperas keinginannya tanpa keyakinan bahwa keragaman merupakan anugerah. Kita yang hidup di zaman telepon cerdas, patut terheran bagaimana generasi Tjipto-Soetomo-Wahidin membentuk Boedi Oetomo, generasi Yamin-Tabrani-Sanusi Pane menyelenggarakan Soempah Pemoeda, hingga Soekarno-Hatta-Syahrir memproklamasikan kemerdekaan Indonesia? Hanya berkat keyakinan itulah, rasa kebangsaan bersulur dan menyebar, bukan dengan alat komunikasi canggih seperti saat ini.

Sekadar pembanding, sampai sekarang, jika hendak melewati jalan lintas Sumatera, kita dianjurkan berkonvoi. Beberapa mobil berjalan beriringan agar keamanan terjaga. Itu pada siang hari. Jika malam, jangan sekali-kali berani menembus kelamnya hutan Sumatera. Lalu bayangkan, bagaimana Soekarno-Hatta dan para pejuang pada 1940-an berupaya mengutuhkan hasrat merdeka? Keyakinan itulah satu-satunya yang menggerakkan mereka.

Dalam pemikiran lebih canggih, keyakinan itu lalu dinamai dasar negara. Pancasila merupakan lima dasar yang menjamin kebhinnekaan Indonesia. Namun, Pancasila bukan sekadar rumusan di atas kertas. Pancasila bukan sekadar isapan jempol. Secara de facto, Pancasila sungguh-sungguh ada dalam praktik hidup keseharian kita.

Presiden Jokowi terus mengobarkan dan menggelorakan keyakinan itu dengan cara unik, yakni lewat tebakan. Dalam berbagai perjumpaan dengan warga Indonesia di dalam maupun luar negeri, Presiden selalu meminta beberapa orang menyebutkan nama pulau, suku, bahasa, provinsi, atau jenis-jenis ikan. Yang berhasil menjawab mendapat hadiah sepeda. Tentu bukan hadiahnya yang penting, tetapi pesan tentang indahnya kemajemukan terus ditebarkan.

Keyakinan tak hanya berhenti pada diri presiden, tetapi juga semua menteri. Sekadar contoh, Menpora Imam Nahrawi berteriak, "Kalau ingin belajar tentang keharmonisan, belajarlah dari Indonesia!" Begitu ajakan Menpora kepada ribuan peserta Asian Youth Day Ke-7, di Lapangan Dirgantara, Yogyakarta (6/8/2017). Orang-orang muda dari 22 negara Asia selama seminggu telah merasakan keharmonisan hidup itu lewat live in dan kegiatan bersama umat lintas-agama.

Hari-hari ini, kita merayakan ulang tahun ke-72 proklamasi kemerdekaan Indonesia. Panggung Tujuh Belasan dibuka di mana-mana, mulai tingkat RT, RW, kampung, dusun, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga negara. Juga di kedutaan dan kantor perwakilan Indonesia di luar negeri. Semua mensyukuri kemerdekaan negara-bangsa ini lewat berbagai lomba dan pentas budaya.

Beraneka lomba dan pentas budaya pada dasarnya merupakan perayaan paling orisinal, paling asli, dan paling jujur atas kemajemukan Indonesia. Semua warga berbaur, tanpa mempersoalkan suku, kulit, bentuk rambut, bahasa daerah, agama, dan sebarang hal yang bersifat primordial. Segala sekat teruntuhkan.

Dalam lomba, tidak ada perasaan kalah atau menang. Aku menang bukan karena aku ingin mengalahkan, tetapi karena memang tidak ada persaingan. Kalah-menang tidak penting, yang lebih utama kesediaan datang, berkumpul, dan bersorak bersama. Semua menjadi juara.

Bisa diduga, hasrat semacam itulah yang bergolak di hati para pendiri bangsa saat menembus kejamnya alam dan jebakan lawan demi bisa berkonsolidasi. Rasa seperti itulah yang menggerakkan para pejuang mengangkat bambu runcing melawan senapan musuh.

Selamat merayakan menangnya keberagaman. Dirgahayu Indonesiaku!

(Dr P Ari Subagyo MHum. Dekan Fakultas Sastra USD Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 19 Agustus 2017)

BERITA REKOMENDASI