Kepustakawanan dan Harian Kedaulatan Rakyat

Editor: Ivan Aditya

MENJELANG ulang tahun ke-72 Harian Kedaulatan Rakyat (KR) mendapat kado istimewa berupa penghargaan ‘Nugra Jasadarma Pustakaloka’ dari Perpustakaan Nasional di Balai Sarbini Jakarta pada 12 September lali. Penghargaan diberikan karena komitmen, kepedulian, sumbangsih, dan dedikasi harian KR dalam menyampaikan berita kepustakawanan kepada masyarakat. Makna kepustakawanan mencakup profesi pustakawan, perpustakaan dan pustaka (koleksi). Pustakawan, perpustakaan, dan pustaka sebagai tri pusat untuk menggerakkan literasi masyarakat Indonesia.

Kedaulatan Rakyat adalah Suara Hati Nurani Rakyat, memfasilitasi masyarakat dalam upaya ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’. Kepustakawanan yang berkomitmen sebagai wahana pembelajaran untuk ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’, semakin bermakna dengan fasilitas dan kesempatan dari harian KR. Pemuatan berita kegiatan, kolom opini, tajuk, dapat mempopulerkan dan mendekatkan makna kepustakawanan dengan masyarakat. Kondisi ini dilandasi oleh keprihatinan bersama, untuk membuat masyarakat cerdas bermedia dengan memilih dan memilah informasi sehat dari sumber terpercaya (bukan hoax).

Menurut Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel A Pangerapan: ”masifnya potensi berita bohong yang muncul di dunia maya, ada 40.000 -an lebih website yang mengaku media online, tetapi tidak terdaftar”. (www.bbc.com/indonesia). Media cetak seperti KR menjadi penyeimbang dan mengonter berita tidak sehat menjadi menyejukkan. Karena ada nama, alamat redaktur dan kaidah jurnalistik yang harus dipenuhi untuk memroduksi berita. Berita tidak sehat/berita palsu di media yang tidak jelas, berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Kebhinnekaan Tunggal Ika.

Generasi Era Digital

Era digital saat ini orang dengan mudah mengakses informasi melalui smartphone yang ada di genggamnya. Bagi yang cerdas memanfaatkan alat canggih ini mendatangkan kemudahan dan kecepatan akses informasi. Sebaliknya bagi yang belum mempunyai ‘ilmu’, justru dapat merugikan bagi dirinya, keluarga, dan orang lain. Jamak terjadi generasi Y, Z bahkan Alpha sudah ‘kecanduan’ dengan permainan/game yang membuat generasi menjadi a-sosial dan ‘cuek’dengan lingkungan.

Menurut lembaga riset digital marketing Emarketer (https://www.kominfo.go.id), Indonesia sebagai ‘raksasa teknologi digital Asia yang sedang tertidur’. Jumlah penduduk 256,2 juta jiwa, pengguna aktif smartphone diperkirakan pada tahun 2018 mencapai lebih dari 100 juta orang. Jumlah ini menjadikan Indonesia sebagai pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika. Sedang survei (2016) yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII), diketahui bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. Terjadi kenaikan 51,8% dibandingkan jumlah pengguna internet pada tahun 2014, hanya 88 juta orang.

Artinya informasi itu sudah ada dalam genggam tangannya, yang dapat diakses kapan dan dimana saja asal ada jaringan internet. Kondisi ini sepintas menjadi kompetitor perpustakaan yang berfungsi sebagai ‘gudang informasi’. Kesigapan pustakawan yang siap move on, dengan kompetensi hard skill, soft skill, dan brain skill dapat mengubah perpustakaan menjadi tempat yang nyaman, aman, menyenangkan, mudah, cepat untuk mengakses informasi.

Aneh

Berdasarkan hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA, 2012) tingkat budaya literasi Indonesia menempati nomor 64 dari 65 negara. Data PISA(2015), ada peningkatan menjadi nomor 69 dari 76 negara. Sedang data statistik UNESCO menunjukkan indeks minat baca di Indonesia baru 0,001. Artinya setiap 1000 penduduk hanya 1 orang yang sudah mempunyai minat baca. Padahal infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia nomor 34 di atas negara Eropa (Jerman, Portugal), Selandia Baru dan Korea Selatan. Aneh tetapi nyata, karena di Indonesia lebih senang membangun infrastruktur untuk membaca (perpustakaan), tetapi belum suka memanfaatkannya.

Hakikatnya, Penghargaan ‘Nugra Jasadarma Pustakaloka’ merupakan apresiasi atas komitmen dan dedikasi mencerdaskan masyarakat dengan meningkatkan budaya literasi. Yang saat ini masih rendah karena budaya lisan, nonton dan bermain smartphone lebih dominan, lingkungan kurang kondusif, harga buku mahal, buku yang berkualitas kurang.

(Sri Rumani SH SIP MSi. Pustakawan di Yogyakarta, Alumnus Fakultas Hukum UGM, dan Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 18 September 2017)

BERITA REKOMENDASI