Keseimbangan Ekologis dan Pertanian

Editor: Ivan Aditya

PERTANIAN dan iklim saling berhubungan. Keberlanjutan pembangunan pertanian bergantung sepenuhnya dengan keseimbangan ekologis. Pertanian gagal maka gagal swasembada pangan. Setidaknya ada tiga hal yang mengancam gagalnya swasembada pangan. Pertama, gagal mewujudkan keseimbangan ekologis. Satu sisi wacana produksi pertanian dalam hal kuantitas sebagai target pencapaian.

Dalam produksi,saat kuantitas seperti jumlah produksi menjadi target maka cara apapun akan ditempuh. Termasuk tidak memperhatikan kemampuan lahan dan jenis pupuk yang digunakan. Lahan terus diberikan pupuk urea, ZA, NPK, dan pupuk pabrik yang dapat meningkatkan produksi. Penggunaan pupuk tadi bukan lagi berkurang. Setiap tahun bertambah banyak pemakain.

Satu sisi dari sanalah sumber gas emisi paling berbahaya untuk lingkungan hidup. Menurut SLHD Daerah, DIY (2012) penggunaan pupuk Urea sebanyak (45,64 %), penggunaan pupuk NPK sebanyak (31,41 %), penggunaan pupuk ZA sebanyak (4,88 %) dan penggunaan pupuk organik sebanyak (14,95 %). Gas emisi seperti CH4 akan dihasilkan dari penggunaan pupuk yang terlalu banyak.

Pengurai Tanah

Selain itu, gas emisi seperti CO2 juga bertambah banyak seiring dengan penggunaan pupuk pabrikan tadi. Sementara penggunaan pupuk organik belum dianggap menyelesaikan produksi. Dianggap pupuk organik seperti kotoran hewan, seresah dedaunan dan pupuk kandang dianggap pupuk yang lambat bereaksi. Kita tinggal pilih kini, jika ingin produksi berkelanjutan maka pakai pupuk organik karena pupuk organik tidak langsung larut dengan tanah.

Butuh waktu dan bergantung kepada cepat dan lambatnya pengurai tanah yang datang. Makin cepat pengurai tanah datang maka makin cepat pupuk organik terurai menjadi tanah. Aliran permukaan karena derasnya air hujan juga dapat diatasi kalau pupuk organik banyak digunakan. Pupuk organik tadi sebagai perekat tanah. Tanah tidak akan terangkat saat musim penghujan datang. Tentu tanah akan tetap terjaga kesuburannya karena tanah terikat oleh pupuk orgnik.

Tanah yang dipupuk dengan pupuk organik juga menghasilkan banyak lubang biopori alami sehingga tanah tadi tidak akan mati dan gersang. Biota tanah dalam tanah aktif dan ikut membantu masuknya air hujan ke dalam tanah. Kesuburan tanah di sini dapat dipertahankan karena masuknya material alami kedalam tanah. Kekeringan dan kebanjiran juga dapat diatasi. Tanah tetap ada air didalamnya karena air mudah masuk ke dalam tanah.

Tanah yang dipupuk dengan pupuk pabrikan membuat air menggenang pada lapisan atas tanah. Air tak bisa masuk kedalam tanah sehingga terjadi banjir. Kesalahan penggunaan pupuk juga menyebabkan terjadinya banjir pada lahan tanah pertanian. Oksigen dalam tanah juga akan tercukupi pada saat tanah dipupuk dengan pupuk organik.

Penghambat

Pupuk pabrikan bukan memperlancar aliran air dan udara. Justru jadi penghambat dalam jangka panjang. Jadi iklim juga berubah karena banyaknya penggunaan pupuk pabrikan. Suhu secara global akan terus berubah. Suhu yang naik dan turun akan mempengaruhi semua keadaan iklim. Akhirnya perkembangbiakan dan musim kawin serangga juga berubah sesuai dengan keadaan iklim yang memenuhi syarat bagi hama.

Jika kita tidak mau menghentikan pupuk pabrik maka jangan harap kita bisa mencapai ketahan pangan. Masalah kedua, aktivitas bertani tidak semua orang mau meskipun setiap orang tidak mau makan jika bukan makan nasi. Siapa yang kemudian akan menjadi petani?

Masalah ketiga, alih fungsi lahan pertanian. Luasan lahan pertanian tidak cukup untuk produksi pertanian lagi. Perluasan lahan pertanian nampak juga menemui jalan buntu. Saat pembangunan pesat urbanisasi maka lahan pertanian menjadi korban. Ditambah lagi alihfungsi lahan pertanian untuk jalan tol, rumah, perkantoran, dan sarana umum lainnya. Lahan pertanian baik lahan kering dan sawah menjadi korban yang tidak bisa dihentikan. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan inovasi setiap jenis varietas padi dan jenis tanaman lain sehingga lahan tidak perlu luas lagi.

(Bahagia SP MSc, sedang S3 Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan IPB dan Dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 30 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI