Ki Hadjar dan Nasionalisme Musik

Editor: Ivan Aditya

HARI Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei seringkali menempatkan Ki Hadjar hanya dalam bingkai persoalan pendidikan. Kita lupa menelisik kisah-kisah lain tentang sosoknya, terutama dalam episentrum kebudayaan (dan musik pada khususnya). Tahun 1913, menjadi titik kulminasi kegeraman Ki Hadjar Dewantara terhadap penjajahan Belanda di negeri ini. Ia menulis artikel berjudul Ask ik een Nederlander was (Andai Saya Orang Belanda), sebagai bentuk kritik atas kebijakan yang mengharuskan orang-orang pribumi turut merayakan seratus tahun kemerdekaan Belanda.

Bagi Ki Hadjar, hal tersebut memalukan dan wujud penghinaan. Bagaimana mungkin perayaan hari kemerdekaan digelar di atas penderitaan kaum terjajah lainnya? Bahkan pesta itu harus dibiayai oleh masyarakat bumiputera. Karena artikel tersebut Ki Hadjar diusianya yang ke 24 tahun harus dipenjara dan kemudian diasingkan di Belanda (R Franki S Notosudirdjo, 2016).

Cenderung Politis

Menyadari bahwa perjuangan dengan mengritik pemerintah kolonial secara langsung dinilai terlalu berisiko, maka Ki Hadjar beralih pada aspek kebudayaan dan seni, terutama musik. Pada kurun itu, masyarakat kolonial dan Eropa menganggap musik dari bangsa terjajah sebagai kebudayaan rendah alias ‘tak beradab’. Ki Hadjar merasa perlu memberi perlawanan dalam konteks ini. Apabila musik klasik Barat dipandang sebagai musik mutakhir-tercanggih, maka ia mencoba mengadopsi konsep-konsep di baliknya untuk diaplikasikan pada musik Jawa, gamelan.

Ki Hadjar mulai intens mengungkap dan mengkomunikasikan nilai-nilai filosofis dalam musik gamelan. Ia memandang bahwa musik gamelan adalah ceriminan jati diri masyarakat yang halus budi pekertinya (Ki Hadjar, 1967). Karena itu, ia kemudian mengubah format tampilan gamelan menjadi lebih ‘modern’, eksklusif dan perlente. Para pemain gamelan mulai menggunakan jas, dasi, sepatu, layaknya pemain musik Barat. Lewat musik tradisi, Ki Kadjar hendak berbicara tentang kesetaraan.

Nada-nada dalam musik berbalut dengan perjuangan yang cenderung politis. Musik tak lagi dimaknai sebagai bunyi, namun lebih dari itu. Uniknya, Ki Hadjar tidak semata meniru konsep dan cara kerja musik Barat, namun juga memberi guratan kritik. Ia menyatakan bahwa notasi atau partitur dalam musik barat sejatinya seringkali membuat musisi kehilangan ‘rasa’ dalam bermain musik. Idealnya, notasi hanya menjadi acuan dasar dan tidak mengikat. Musik adalah ruang di mana nilai-nilai kemanusiaan atau humanisme ditorehkan. Namun perjuangan Ki Hadjar dalam hal ini juga banyak dikritik, karena ia dianggap tak lagi netral dalam melihat musik.

Musik terlalu riuh dan sesak dengan kepentingan atau agenda politis. Ki Hadjar terlihat seolah berusaha ‘mengEropakan’musik gamelan, yang kemudian kehilangan sifat-sifat kealamiannya, semata demi mendekonstruksi pandangan kolonial tentang kebudayaan ‘tak beradab’. Apa yang dilakukan Ki Hadjar adalah sebentuk upaya dalam mendudukkan musik pada bingkai nasionalisme. Sebuah usaha yang patut diapresaisi.

Sekolah Gamelan

Pertanyaannya kenapa gamelan yang harus dipilih? Selain Ki Hadjar lahir dari kebudayaan Jawa dan berdarah ningrat, gamelan dibaca sebagai instrumen perkusif terbesar di dunia, yang di dalamnya memiliki seperangkat ilmu pengetahuan yang kala itu belum banyak terkuak. Karena kerja Ki Hadjar tersebut, ilmu dan teori tentang gamelan semakin tumbuh. Kajian konsep gamelan (pathet, embat, laras, kontur melodi) satu persatu dituliskan dan mulai munculnya ilmuan-ilmuan gamelan dalam negeri.

Titik terpentingnya, tahun 1950 kemudian lahir sekolah gamelan yang bernama Konservatori Karawitan Indonenesia (Kokari) di Surakarta. Musik gamelan tidak lagi dipandang sebelah mata. Perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam konteks ini dapat dikatakan berhasil.

Karena itu, apabila saat ini kita dapat membaca buku-buku tentang musik gamelan, mendengar dan bermain gamelan, tidak lain salah satunya adalah karena jasa dari Ki Hadjar Dewantara. Di satu sisi, perjuangan dalam mengangkat martabat musik tradisi kala itu membutuhkan perjalanan panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Tapi di sisi lain, hari ini kita melihat satu kenyataan bahwa musik (gamelan) semakin kehilangan eksistensi. Generasi milenia mengganggap gamelan dan musik tradisi lainnya sebagai barang usang, kuno, ketinggalan zaman alias udik.

Jika di zaman Ki Hadjar, perjuangan terbesar musik adalah melawan hegemoni Belanda dan Eropa. Kini perjuangan terberatnya adalah misi penyadaran bagi generasi penerus negeri ini.

(Aris Setiawan. Etnomusikolog, Pengajar di ISI Surakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 2 Mei 2018)

BERITA REKOMENDASI