Kodrat Alam

Editor: Ivan Aditya

REKOR temperatur bumi terpanas terbaru kembali terjadi pada bulan Juni 2017. Menjadikan rekor baru dalam 4 tahun berturut-turut terakhir ini sejak tahun 2014, bahwa rekor terpanas selalu terpecahkan setiap tahun. Bongkahan es raksasa seluas 6.000 kilometer persegi atau setara luasnya Pulau Bali, dilaporkan telah runtuh dan terlepas dari daratan utama Antartika (Kutub Selatan) pada tanggal 10-12 Juli 2017.

Ini merupakan iceberg paling besar yang tercatat dalam sejarah, beratnya diperkirakan lebih dari 1 triliun ton. Menjadi ancaman kapal-kapal yang berlayar di sekitar kawasan tersebut dan mempercepat es yang mencair.

Para ilmuwan dari Project MIDAS telah memonitor retakan di lapisan es Larsen C, terbesar ke-4 di Kutub Selatan, menyusul runtuhnya lapisan es Larsen Apada 1995. Sejak 12 bulan terakhir, lapisan itu memang telah diamati dan diyakini akan runtuh dan terlepas. Hal tersebut terjadi, seperti dilaporkan CNN, mengutip keterangan para ilmuwan dari University of Swansea dan The British Antarctic Survey.

Pada 1 Juni 2017 lalu sebelum pertemuan G20 di Hamburg Jerman, Presiden Donald Trump memutuskan bahwa AS keluar dari The Paris Agreement. Kesepakatan bersejarah ini sebelumnya telah ditandatangani 190 negara pada pertemuan puncak PBB di Paris Desember 2015 untuk melawan pemanasan global. Untuk menjaga kenaikan suhu dunia di bawah 2oC, dengan ambisi untuk membatasi kenaikan maksimal hanya 1,5oC. Presiden Prancis Emmanuel Macron segera mengambil alih meluncurkan program ‘Make our planet great again’ untuk melawan pemanasan global.

The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) juga tetap mencatat 7 rekor iklim terburuk lainnya. Terdiri atas: rekor suhu terpanas, peningkatan gas rumah kaca (CO2, CH4, N2O), peningkatan suhu permukaan laut global, peningkatan suhu dalam lautan, peningkatan permukaan laut, pencairan pulau es abadi Pulau Greenland, perluasan kawasan laut es di Antartika.

Tekanan berat terhadap kodrat alam di bumi, mengakibatkan neraca dan keseimbangan air kehidupan akan bergeser. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), air kehidupan yang bisa dimanfaatkan manusia hanya 0,003% saja. Meskipun jumlah air bumi sekitar 1,4 triliun km³, namun sebagian besar air berada dalam samudera, lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah, sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara langsung. Saat ini sekitar 2 miliar manusia di bumi tidak mampu memperoleh air bersih untuk kehidupan. Pergeseran keseimbangan kodrat alam akan memperburuk lingkungan dan kehidupan seluruh makluk di bumi ini. Karena oksigen, air dan pangan dari bumi merupakan kebutuhan mutlak untuk tetap dapat melangsungkan kehidupan. Tidak bisa ditunda dan dikurangi, supaya tidak mati.

Perubahan iklim ekstrem juga ditandai kekacauan pola iklim di tanah air. Ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan kekuatan siklon tropis, yang sebelumnya tidak melanda Indonesia. Ekor badai tropis yang semakin menguat, kini bisa mencapai Indonesia, ikut memporak porandakan permukaan bumi kita. Setelah tahun sebelumnya mengalami gejala El-Nina, maka pada tahun ini diperkirakan curah hujan di bawah standar tahunan. Bencana kebakaran hutan diperkirakan menjadi masalah besar kembali, sehingga harus diantisipasi sejak dini.

Kualitas lingkungan, tanah, air, udara bumi kita telah rusak serta tidak mampu lagi mendukung kehidupan yang bermartabat dan berkelanjutan bagi manusia. Kita hanya punya satu planet bumi yang bisa dipakai sebagai tempat hidup bersama di bumi ini. Eksploitasi yang melebihi kodrat alamnya telah mengakibatkan bumi kerepotan untuk terus melayani lingkungan dan kehidupan yang bermartabat dan berkelanjutan bagi penghuninya. Perlu disadari, bahwa bumi kita tak hanya mempunyai daya dukung yang terbatas, tetapi juga terus menyusut, sedangkan tekanan justru terus membesar. Menjadi tanggung jawab kita semua sebagai khalifah di bumi ini, untuk mengembalikan kodrat alam seutuhnya. Demi kepentingan seluruh makluk hidup dalam jagad bumi biru yang bermartabat secara berkelanjutan.

(Prof Dr Cahyono Agus. Guru Besar UGM Yogyakarta dan Ketua Green Network Indonesia wilayah DIY-Jateng. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 28 Juli 2017)

BERITA REKOMENDASI

Krisis Air Kehidupan

22 Maret 2018

Hutan Kita

26 Desember 2017

Investasi Pangan

1 Juli 2017

Emas Kehidupan Bumi

5 Juni 2017

Sampah Pangan

7 Desember 2016