KR dan Eksistensi Bahasa Jawa

Editor: Ivan Aditya

SEPTEMBER 2017 ini, harian Kedaulatan Rakyat (KR), genap berusia 72 tahun. Jika diumpamakan manusia, usia 72 tahun sudah terbilang usia senja. Namun, kiprah KR terhadap perkembangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terutama faktor eksistensi bahasa daerah (Jawa) tak pernah ‘senja’. Pertanyaannya, apa kaitan antara KR sebagai koran kebanggaan orang Yogyakarta dan eksistensi Bahasa Jawa saat ini dan mendatang?

Sebelum menjawab pertanyaan, penulis ingin menyampaikan dua fakta yang berkaitan dengan Bahasa Jawa. Pertama, berdasarkan catatan Bernard Comrie (2001) Bahasa Jawa termasuk ke dalam 20 bahasa ibu yang jumlah penuturnya terbanyak di dunia. Bahasa Jawa, catat Comrie, memiliki 65 juta penutur di seluruh dunia. Secara otomatis, Bahasa Jawa juga menjadi bahasa daerah terbanyak dalam jumlah penutur di Tanah Air.

Kedua, Bahasa Jawa digunakan di tiga provinsi di Pulau Jawa, yaitu DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di ketiga provinsi tersebut, Bahasa Jawa diajarkan kepada siswa sejak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA)/sederajat. Dengan begitu, kedudukan bahasa Jawa di ketiga provinsi tersebut secara otomatis dianggap kokoh, karena diajarkan melalui jalur pendidikan formal. Namun, apakah itu dianggap cukup? Jawabnya, belum!

Kewajiban Pemda

Merujuk Pasal 42 ayat (1) UU Nomor 24 Tahun 2009 yang berbunyi: ”Pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia”. Seharusnya pemerintah daerah (pemda) tidak hanya mengajarkan Bahasa Jawa di sekolah.

Disamping wajib mengembangkan bahasa Jawa melalui jalur pendidikan, pemda berkewajiban membina dan melindungi Bahasa Jawa. Apa pemda sanggup memenuhinya? Untuk konteks DIY dan sebagian Jateng, usaha membina dan melindungi Bahasa Jawa telah dilakukan oleh KR melalui rubrik Mekarsari. Di rubrik tersebut, generasi muda dapat belajar Bahasa Jawa melalui geguritan, cerita cekak (cerkak), dan esai tentang kebudayaan Jawa.

Selama ini, generasi muda yang notabene sebagai pelestari Bahasa Jawa di masa-masa mendatang, belum merasa mencintai bahasa daerah tersebut. Ada kecenderungan bahwa generasi muda saat ini berbahasa ibu Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Jawa. Akibatnya, antusiasme mereka saat mengikuti pelajaran Bahasa Jawa di sekolah terasa kurang optimal. Di benak mereka, barangkali terbayangkan kerumitan berbahasa Jawa dalam konteks sehari-hari.

Di sinilah letak kelebihan hadirnya rubrik Mekarsari itu. Melalui rubrik tersebut, KR menunjukkan dirinya tetap berada di posisi garda terdepan dalam upaya mengembangkan, membina, dan melindungi Bahasa Jawa. Melalui rubrik itu pula, KR ingin menumbuhkan benihbenih cinta kepada generasi muda terhadap bahasa Jawa. Tumbuhnya rasa cinta itu, kelak dapat menjelma rasa memiliki dan melestarikan Bahasa Jawa.

Kongres Bahasa Jawa (KBJ) telah berlangsung secara rutin. Berbagai rekomendasi, usulan, dan pendapat telah dihasilkan dan direalisasikan. Hanya saja, di tengah pesatnya teknologi digital saat ini, pemda, dinas pendidikan, dinas kebudayaan, dan akademisi, perlu berpikir tentang media pembelajaran Bahasa Jawa ramah teknologi dan anak. Tanpa itu, rasa-rasanya Bahasa Jawa kian lama kian kurang diminati.

Dua Usulan

Melalui artikel ini, saya ingin usulkan dua hal. Pertama, perlunya penyusunan media pembelajaran berbasis daring (online) tentang Bahasa Jawa. Misalnya, ensiklopedia Jawaling yang berisikan lema-lema Bahasa Jawa yang dilengkapi jenis kata, kaidah fonetik, dan maknanya. Ensiklopedia itu diharapkan dapat diakses melalui gawai (gadget) yang banyak dipakai generasi muda saat ini. Inilah awal mula pembelajaran Bahasa Jawa pada era digital.

Kedua, perlunya sinergitas antara pemda dan surat kabar lokal, misalnya KR, dalam mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa Jawa. Rubrik Mekarsari dapat menjadi pintu untuk pihak Pemda dalam menjalankan kewajibannya, sesuai dengan Pasal 42 ayat (1) UU Nomor 24 Tahun 2009. Hemat saya, KR tetap memiliki peran dan kedudukan yang bernilai tinggi terhadap pelestarian Bahasa Jawa, khususnya di Yogyakarta. Dirgahayu ke-72 KR.

(Sudaryanto MPd. Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UAD. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 26 September 2017)

BERITA REKOMENDASI