KR dan Jurnalisme Kultural

Editor: Ivan Aditya

SUDAH lebih dari 35 tahun saya berelasi dengan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat (KR). Pada waktu itu, entah mengapa, berkembang anggapan di lingkungan masyarakat Yogyakarta, kalau menyebut koran (surat kabar) selalu identik dengan KR. Pada periode tersebut, setiap hari Jumat KR membuka rubrik khusus ‘Pelajar’. Rubrik itu diisi artikel-artikel yang penulisnya adalah pelajar Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA), tetapi kebanyakan SMA. Maka begitu lulus SMA pada pertengahan 1981, saya mulai memburu bacaan untuk belajar menulis.

Salah satu buku yang saya peroleh dan menjadi satu-satunnya guru untuk belajar menulis adalah buku berjudul ‘Berita’ karya Wonohito yang kemudian saya ketahui merupakan salah satu pendiri KR. Berkat buku tersebut, tahun 1982 saya mulai belajar menulis. Mula-mula dengan menulis di rubrik ‘Pikiran Pembaca’KR tentang masalah-masalah sosial dan hal itu saya lakoni sampai dengan tahun 1984. Selain itu, saya juga belajar menulis melalui rubrik sejenis ìcurhatî yang dimuat mingguan Minggu Pagi (Grup KR) dan beberapa kali dimuat. Meski tidak memperoleh honor, tetapi ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri ketika tulisan muncul di ‘Pikiran Pembaca’ maupun Minggu Pagi. Pada periode yang sama, beritaberita Bahasa Jawa yang saya kirimkan ke Koran Masuk Desa dari Grup KR, Kandha Raharja juga dimuat. Dari Kandha Raharja saya memperoleh pengalaman pertama menerima honor dari menulis.

Tahun 1986 untuk pertama kalinya artikel saya dimuat di rubrik Opini KR dan memperoleh honor Rp 7.500. Semantara gaji saya sebagai PNS golongan II/a sekitar Rp 40.000. Jadi honor menulis artikel di KR pada waktu itu hampir 20% gaji PNS Golongan II/a. Hal itu menambah rasa percaya diri untuk terus menulis dan menulis. Selama periode 1986- 2000-an, saya menikmati relasi mutualistik dengan KR dengan posisi sebagai penulis artikel.

Pascareformasi

Ketika kebebasan pers di Indonesia mencapai puncaknya pascareformasi, tahun 2001 masyarakat sipil di Indonesia mulai galau melihat kinerja media massa yang seolah semaunya sendiri. Di Yogyakarta kegalauan itu kemudian diwadahi dengan mendeklarasikan berdirinya Perkumpulan Masyarakat Peduli Media (MPM) pada Agustus 2001 dan saya terlibat di dalamnya. Sejak itulah, relasi saya dengan KR mengalami perubahan, setidaknya menjadi lebih kritikal. Sampai saat ini, kalau ada berita-berita di KR yang sekiranya perlu dikritisi, saya sering mengirim pesan kepada pimpinan redaksi Octo Lampito.

Pada posisi sikap kritikal itulah saya sering mendiskusikan dengan berbagai kalangan mengenai jurnalisme KR yang bagi kaum revolusioner dan aktivis pergerakan dianggap kurang berani. Namun, dalam perspektif kultural, jurnalisme KR sesungguhnya sangat khas Jawa. Sejumlah falsafah Jawa tampak terlihat menjadi karakteristik dari produk jurnalisme KR, seperti: bener, durung mesti pener (benar belum tentu tepat), ngono ya ngono ning aja ngono (kalau mengritik, jangan keterlaluan), aja mirangke wong liya (jangan mempermalukan orang lain), aja ngasorke liyan (jangan merendahkan orang lain), aja mateni rezekine liyan (jangan mematikan rezeki orang lain), kena iwake, aja nganti buthek banyunye (raih ikannya tanpa membuat keruh air), dan masih banyak falsafah Jawa yang bisa diidentifikasi darinya.

Jurnalisme seperti itu memang terkesan lamban dan seperti kurang greget, tetapi sesungguhnya sebagai sikap kultural hal itu menunjukkan adanya kehati-hatian, tidak grusa-grusu, penuh pertimbangan, reflektif, dan empatik. Dalam era maraknya ujaran kebencian dan kabar bohong (hoax), jurnalisme KR yang sangat kultural itu pada akhirnya seperti suatu oase yang menawarkan kesejukan, ketenteraman, kedamaian. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa posisioning jurnalisme KR merupakan pilihan yang tepat dan perlu untuk diteruskan. Kalau pun ada kritik dan ketidakpuasan dari sebagian pembaca, hal itu wajar dan perlu untuk selalu didengar agar KR tetap update dengan perkembangan zaman. Sebab, dari pembaca yang kritis itulah masukan perbaikan akan diperoleh. Selamat HUT ke-72 KR, semoga tetap migunani tumrap liyan.

(Darmanto. Peneliti Badan Litbang SDM Kemen Kominfo di Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 28 September 2017)

BERITA REKOMENDASI