KR dan Pembinaan Bahasa

Editor: Ivan Aditya

TANGGAL 27 September, Surat Kabar Harian (SKH) Kedaulatan Rakyat berusia 71 tahun. Dalam usianya yang setara dengan usia Republik Indonesia (RI) itu, KR berjalan dengan slogan migunani tumraping liyan. Dalam Bahasa Indonesia adalah berguna bagi orang lain. Pertanyaannya kini, apakah KR juga berguna bagi aspek pembinaan Bahasa Indonesia di tanah air?

Seusai pembacaan teks Proklamasi RI 17 Agustus 1945, sehari kemudian Bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa resmi negara dalam Pasal 36 UUD 1945. Pernyataan itu kemudian dikukuhkan kembali melalui Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, khususnya Pasal 25 ayat (1), (2), dan (3). Dengan begitu, posisi Bahasa Indonesia di dalam negeri kian kokoh adanya.

Terkait itu, Pasal 25 ayat (3) menjelaskan, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa media massa. Sebagai salah media massa cetak di Indonesia, KR dipandang tetap setia menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar informasi bagi para pembacanya, di samping bahasa daerah. Contohnya, rubrik ‘Banyumasan’ yang menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumas, dan rubrik ‘Mekarsari’ yang berisikan puisi, cerita pendek, dan esai berbahasa Jawa.

Tiga Bentuk Pembinaan

Ada tiga bentuk pembinaan bahasa Indonesia yang sedang/telah dilaksanakan oleh KR. Pertama senantiasa menggunakan Bahasa Indonesia sesuai dengan Pasal 39 ayat (1) UU Nomor 24 Tahun 2009. Aturan itu menyebutkan, Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi melalui media massa. Selama ini, belum pernah tersiar kabar bahwa KR akan terbit dalam format bahasa daerah atau asing. Inilah yang patut dibanggakan dari harian ini.

Melalui KR, masyarakat DIY dapat belajar mengenai penggunaan Bahasa Indonesia ragam jurnalistik yang singkat, padat dan komunikatif. Masyarakat dapat mengetahui informasi (internasional, nasional, dan lokal) yang tersaji melalui Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya. Bisa dikatakan, KR menjadi salah satu media massa cetak di DIY yang menjunjung Bahasa Indonesia sebagai bahasa media massa.

Kedua ada hal menarik di KR yakni rubrik ‘Kosakata’ yang hadir setiap hari, kecuali hari Minggu. Rubrik tersebut mirip dengan lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat (2008). Pertama-tama yang dicantumkan itu lema, diikuti makna atau arti lema, dan disertai contoh kalimat yang menggunakan lema tersebut. Bagi pembaca, rubrik ini dapat menambah perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia.

Rubrik ‘Kosakata’ juga bermanfaat bagi pembelajar asing Bahasa Indonesia. Melalui rubrik tersebut, pembelajar asing dapat memahami arti sebuah kata/lema sesuai konteks kalimat yang menggunakannya. Sampai saat ini, sayangnya belum banyak pengajar Bahasa Indonesia bagi pembelajar asing (BIPA) yang memanfaatkan rubrik ‘Kosakata’ milik KR tersebut.

Ketiga, KR menyediakan rubrik ‘Analisis KR’ dan ‘Opini’ pada hari Senin hingga Sabtu, dan rubrik ‘Budaya’pada hari Minggu yang memuat artikel tentang perkembangan Bahasa Indonesia terkini.

Konsisten

Sebagai penutup, penulis ingin sampaikan dua saran. Pertama, KR telah konsisten selama 71 tahun menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa media massa. Sejak terbit pada tahun 1945, KR menggunakan Bahasa Indonesia dengan sistem ejaan Suwandi, kemudian berganti dengan sistem Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), dan kini sistem Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Konsistensi ini patut dipertahankan, sekaligus dibanggakan oleh kita semua.

Kedua, KR perlu memiliki rubrik ‘Bahasa’ secara khusus, seperti halnya beberapa media lain. Melalui rubrik tersebut, KR dapat lebih memantapkan perannya sebagai media massa cetak di Yogyakarta yang menaruh perhatian terhadap perkembangan Bahasa Indonesia. Dengan demikian, guru, mahasiswa, dan pembelajar asing dapat memetik ilmu pengetahuan tentang bahasa Indonesia melalui rubrik tersebut.

(Sudaryanto MPd. Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Ahmad Dahlan; Pengurus APPBIPA Jogja 2015-2019. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 28 September 2016)

BERITA REKOMENDASI