Langkah Strategis Pariwisata Mengatasi Pandemi

Dr Ike Janita Dewi
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma dan Tenaga Ahli Pendamping pada Dinas Pariwisata DIY

DELAPAN minggu setelah kasus positif pertama Covid-19 dikonfirmasi di Jakarta, dampak pandemi sudah sangat dirasakan. Demikian juga di DIY. Koran Kedaulatan Rakyat beberapa kali memuat, kerugian di sektor pariwisata. Sektor ini merupakan yang paling terdampak. Karena penyumbang ke-3 terbesar pada perekonomian DIY.

Upaya mitigasi sudah cukup banyak dilakukan, mulai kebijakan pemberlakuan protokol kesehatan sampai pada upaya mitigasi pada masyarakat yang paling terdampak. Termasuk di dalamnya adalah perumusan strategi pascakrisis. Selain itu, sebuah krisis besar, seperti halnya pandemi Covid-19, pasti memiliki dampak jangka panjang. Diperlukan pemikiran komprehensif untuk kerangka waktu jangka pendek, menengah, dan panjang.

Dalam jangka pendek, ada 2 (dua) strategi yang harus dirumuskan. Yang pertama adalah berkenaan dengan upaya mitigasi. Misal memberikan bantuan sembako dan lain-lain. Ada hal penting yang harus dilakukan, yaitu mempertahankan kemampuan operasional dari berbagai sektor ekonomi.

Hotel

Pada minggu ke-dua April, berbagai usaha jasa pariwisata, seperti hotel, restoran, angkutan wisata, pemanduan wisata, toko/pasar oleh-oleh dan suvenir dan lain-lain, kehilangan sebagian besar penghasilannya. Bahkan, banyak hotel dan restoran menyatakan tutup total, karena biaya operasional jauh lebih besar dari pendapatannya.

Padahal, hotel cenderung padat karya dan memiliki rantai nilai yang panjang. Karena itu, strategi jangka pendek yang harus diambil adalah pemberian berbagai kebijakan dan insentif agar ‘mesin produksi’ tidak terhenti secara total.

Strategi pemulihan juga sudah harus dirumuskan. Berbagai studi termasuk dari United Nations World Tourism Organization mengatakan bahwa pemulihan sektor pariwisata membutuhkan waktu rata-rata 10 bulan.

Melihat perekonomian yang mulai kolaps, DIY perlu strategi yang bisa mempercepat proses pemulihan ini. Strategi pemulihan yang cepat membutuhkan ketepatan fokus dan lokus. Dalam pemulihan ekonomi DIY, mungkin sektor pariwisata adalah fokus yang bisa dipilih, karena geliat industri ini bisa menghasilkan dampak ganda yang besar.

Akan tetapi, dalam sektor pariwisata sekalipun, harus dipilih program dan kegiatan yang akan menjadi pengungkit terbesar. Mungkin event pariwisata bisa menjadi pengungkit yang cukup signifikan, jika dilaksanakan di tempat yang tepat. Yang jelas, saat pandemi mereda, DIY tidak boleh kehilangan momentum. Strategi yang akan diambil harus dirumuskan sekarang dan siap dieksekusi.

Perubahan

Krisis yang berskala besar biasanya akan menghasilkan tatanan kehidupan baru. Pandemi Covid-19 ini pasti akan menghasilkan perubahan pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Setidaknya ada dua hal yang levelnya akan naik kelas, yaitu standar keselamatan, kebersihan, dan kesehatan (K3), dan penggunaan teknologi informasi.

Banyak penelitian dibutuhkan untuk memandu inovasi produk maupun rekayasa perilaku yang diperlukan dalam jangka menengah dan panjang. Misalnya, industri pariwisata jelas harus menerapkan standar K3 yang jauh lebih tinggi untuk destinasi, fasilitas wisata, dan produk-produk wisata. Perubahan perilaku mungkin lebih membutuhkan waktu yang lebih lama.

Tidak kalah penting adalah pelajaran dari krisis. Semua upaya, respons, dan kebijakan yang diambil dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini harus didokumentasikan dengan lengkap. Penulis sudah mengungkap sebelumnya (KR, 18/2), DIY membutuhkan konsep dan prosedur manajemen krisis.

Pengalaman kita dalam pandemi Covid-19 ini akan sangat berguna dalam mempersiapkan strategi untuk mengatasi segala macam krisis yang mungkin menimpa di masa yang akan datang. Krisis mungkin tidak bisa dihindari, tetapi setidaknya kita sudah jauh lebih siap. *)

BERITA REKOMENDASI