Layanan Kontrasepsi dan Kesehatan Reproduksi

Editor: Ivan Aditya

DUNIA memperingati World Contraception Day (WCD) atau Hari Kontrasepsi Sedunia (Harkona) 26 September. Peringatan dimaksudkan guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam ber-Keluarga Berencana (KB). Tujuannya jelas : mengatur kelahiran, menurunkan angka kehamilan yang tidak diinginkan serta untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan seluruh umat manusia akan pentingnya kesehatan reproduksi dalam rangka meningkatkan kualitas hidup.

Harkona sebenarnya merupakan salah satu bentuk kampanye global yang mengedepankan isu pentingnya kontrasepsi dalam kerangka kesehatan manusia terutama kesehatan reproduksi. Hari spesial ini pertama kali digagas di Eropa pada tahun 2007 yang didasari atas keprihatinan tingginya kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja Eropa, yang angkanya mencapai 85%. Selain cepatnya penyebaran Infeksi Menular Seksual (IMS) akibat ketidaktahuan masyarakat bagaimana melindungi diri dari ancaman infeksi ini.

Komitmen

Secara nasional, peringatan tahun 2020 mengambil tema: ‘Bersama Mitra Tingkatkan Akses dan Kualitas Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi pada Adat Kebiasaan Baru’. Adapun tujuannya secara umum adalah meningkatkan komitmen dan dukungan dari stakeholder, provider medis, mitra kerja dan masyarakat dalam mendukung program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana).

Sedangkan secara khusus bertujuan meningkatkan pengetahuan dan wawasan stakeholder, provider medis, mitra kerja dan masyarakat terkait pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi yang berkualitas. Selain itu meningkatkan komitmen dan kesertaaan Pasangan Usia Subur (PUS) dalam ber-KB. Serta meningkatkan komitmen dan dukungan percepatan pencapaian program Bangga Kencana.

Terkait dengan Bulan Pelayanan KB MKJPyang kegiatannya dimulai sejak 18 Agustus hingga 19 September yang kemudian diundur menjadi 26 September, BKKBN menargetkan dapat terlayani 250.000 akseptor MKJP yang terdiri dari 150.000 akseptor IUD dan 100.000 akseptor Implan. Hal yang melatarbelakanginya adalah adanya penurunan capaian peserta KB Baru sebagai dampak adanya pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum mereda. Hal ini terlihat dari capaian bulan Maret 2020 yang masih sebanyak 422.315 akseptor, telah menurun tajam menjadi 371.292 akseptor pada bulan April dan hanya naik sedikit menjadi 388.390 akseptor pada Mei 2020.

Terdapat beberapa tantangan dalam pelayanan KB pada masa pandemi ini. Di antaranya, keterbatasan akses terhadap pelayanan di fasilitas kesehatan, kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai dan memenuhi standar bagi Petugas Pelayanan KB, serta penerapan pelayanan KB di era new normal dengan memperhatikan protokol kesehatan. Hal lain yang melatarbelakangi kegiatan bulan pelayanan KB ini adalah bahwa adanya pandemi Covid-19 telah berdampak pada peningkatan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) di beberapa wilayah akibat dari penurunan kesertaan KB dan peningkatan angka putus pakai kontrasepsi.

Pentingnya Kontrasepsi

Kita semua tentu berpengharapan, dengan peringatan Harkona ini masyarakat semakin sadar akan pentingnya kontrasepsi sebagai alat bantu untuk memenuhi tujuan reproduksi manusia terutama bagi pasangan usia subur (PUS) muda. Dengan demikian, PUS muda menjadi semakin cerdas dan mampu menempatkan kontrasepsi sebagai salah satu bagian dari penataan rencana hidup mereka ke depan.

Tentu saja untuk mewujudkan hal itu perlu adanya jaminan akses layanan kontrasepsi di setiap fasilitas kesehatan serta pemberian informasi dan edukasi kesehatan reproduksi yang berkualitas. Karena hanya dengan pemberian informasi kesehatan reproduksi yang benar dan lengkap, upaya untuk mematahkan mitos-mitos yang menyesatkan seputar kesehatan reproduksi dapat terwujud. Sekaligus memotivasi penggunaan kontrasepsi untuk perlindungan diri baik dari kehamilan yang tidak diinginkan maupun penularan IMS.

Drs. Mardiya.
Ka Bidang Pengendalian Penduduk pada Dinas PMD Dalduk dan KB Kabupaten Kulon Progo.

BERITA REKOMENDASI