Lelang Keperawanan

Editor: Ivan Aditya

TERKUAKNYA situs nikahsirri.com cukup menarik perhatian masyarakat. Layanan berbasis daring (dalam jaringan/online) yang konon didirikan  Aris Wahyudi ini dianggap memiliki berbagai kejanggalan, terutama yang terkait dengan 'lelang keperawanan'. Sekilas situs ini semacam ekspansi dari praktik kawin kontrak yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia.

Pada kondisi tertentu — di sini terdapat juga dimensi kemiskinan —  praktik kawin kontrak sering juga dikaitkan dengan risiko perdagangan perempuan. Akan tetapi kasus nikahsirri.com ini cukup menunjukkan fenomena yang berbeda. Sebab teknologi memiliki mekanisme kerja yang khas dalam memposisikan subjek/pengguna (user). Sederhananya, fleksibilitas teknologi memungkinkan setiap pengguna memiliki peluang yang sama untuk menjadi subjek di mana teknologi itu sendiri adalah komoditasnya.

Dengan kata lain, teknologi, adalah media yang objektif dan seharusnya juga netral gender, sehingga tidak ada yang menjadi korban atau objek meskipun dikemas dalam transaksi berkedok pernikahan seperti yang ada dalam nikahsirri.com. Yang menjadi menarik adalah istilah 'lelang keperawanan' justru muncul menjadi salah satu daya tarik yang ditonjolkan. Di sinilah keterkaitan antara teknologi, industri, dan produksi pengetahuan berbasis gender menjadi layak untuk dipertanyakan kembali.

Dalam perspektif gender, pengembangan dan pemanfaatan teknologi selama ini dianggap lebih banyak memberikan ruang bagi reproduksi pengetahuan yang berkarakter maskulin maupun patriaki (Putri, 2016). Misalnya dalam teknologi reproduksi, meskipun memiliki dampak pada alternatif mensiasati kemiskinan, tubuh perempuanlah yang sering menjadi komoditas mulai dari penggunaan alat kontrasepsi hingga fenomena surogasi (Mies dan Shiva, 2005).  Disini teknologi dianggap sebagai variasi lain dari ilmu pengetahuan yang menyandarkan pembuktikan kebenaran pada rasionalitas.

Sementara itu, sejarah perempuan sering diasosiasikan dengan pengalaman keseharian yang subjektif dan berbasis pada emosi. Lebih jauh, dalam konstruksi androsentris, pengalaman perempuan sering mengalami kesulitan untuk mendasarkan epistemologi pengetahuannya (Harding, 1986).  Sehingga, dalam  pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, perempuan,  meskipun muncul sebagai pengguna atau subjek yang aktif, tetap berada pada wilayah-wilayah yang tidak sepenuhnya menguntungkan.

Dalam ‘lelang keperawanan’ misalnya, pemilik situs ini mengatakan bahwa partisipasi semua pengguna termasuk perempuan bersifat sukarela. Mereka juga diasumsikan memiliki posisi setara karena ada negosiasi sebelum terjadi kesepakatan. Ini bisa menjadi benar, bahwa baik laki-laki dan perempuan memiliki kebebasan untuk mengakses maupun menolak jasa yang disediakan oleh nikahsiri.com ini. Akan tetapi dalam setiap transaksi,  relasi subjek dan objek adalah prasarat mutlak yang harus diidentifikasi pertama kali. Sementara itu, mereka yang menjadi subjek dalam setiap transaksi tentu adalah yang memilki modal dan kuasa yang lebih besar.

Padahal selama ini, asupan pengetahuan perempuan tidak pernah diorientasikan untuk mendidiknya menjadi subjek yang memiliki kuasa.  Pengakuan terhadap perempuan hanya terbatas pada properti maupun objek pelengkap.  Akibatnya   pemanfaatan teknologi yang bisa dilakukan perempuan, seperti dalam ‘lelang keperawanan’, hanya akan sampai pada rangkaian komodifikasi tubuh sekaligus subjek keperempuanannya itu sendiri.

Fenonema nikahsiri.com ini kemudian tidak hanya memberikan tambahan variasi atas isu objektivikasi tubuh perempuan. Tapi ini lebih menjadi refleksi tentang bagaimana perempuan selama ini dibesarkan oleh sejarah. Seperti pada  kasus ‘lelang keperawanan’, layanan daring tersebut jelas menunjukan bahwa konstruksi sosial dan pengejawantahan ilmu pengetahuan yang selama ini dilakukan justru menumbuhkembangkan perempuan sebagai entitas yang inferior. Tidak diragukan bahwa perempuan memiliki keaktifan yang sama dalam merespon kemudahan teknologi. Akan tetapi jika internalisasi pengetahuan yang mereka alami masih didominasi oleh kategorisasi gender yang bias, perempuan tidak akan pernah lolos dari pemanfaatan yang berbalik mengeksploitasinya.

(Desintha D Asriani MA. Dosen Sosiologi UGM yang saat ini sedang menempuh S3 di Ewha Womans University Seoul South Korea. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 26 September 2017)

BERITA REKOMENDASI