Lindungi Mata, di Adaptasi Kebiasaan Baru

Editor: Ivan Aditya

SALAH satu bentuk adaptasi kebiasaan baru adalah pembatasan interaksi antarmanusia untuk mencegah penularan wabah Covid-19. Pembatasan ini ‘memaksa’ sebagian besar masyarakat Indonesia untuk melakukan aktivitas dari rumah dengan bantuan alat elektronik seperti laptop maupun smartphone. Masyarakat diminta bekerja dari rumah. Berbagai aktivitas lain seperti sekolah, seminar, pengajian, dan interaksi sosisal juga terpaksa dilakukan dari rumah dengan bantuan gadget , laptop dan internet.

Adaptasi kebiasaan baru memusatkan aktivitas di dalam rumah masing-masing. Aktivitas melihat dekat (near work activities) menjadi dominan. Data menunjukkan bahwa kelompok populasi anak-anak dan dewasa di Indonesia menghabiskan waktu di depan gadget atau laptop dua kali lebih banyak dibandingkan sebelum pandemi. Bahkan sebagian menggunakan sepanjang hari, dari bangun sampai tidur kembali.

Penggunaan gadget dan laptop dalam jangka waktu lama menuntut mata kita untuk bekerja keras. Dampak yang dapat muncul secara langsung adalah astenopia atau mata lelah (eye strain). Mata lelah muncul akibat mata berakomodasi secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama dan relatif kering sesaat. Gejala yang akan muncul diantaranya adalah penglihatan kabur, nyeri di sekitar mata, sakit kepala, vertigo, bahkan mual dan muntah.

Rekomendasi

American Academy of Ophthalmology (AAO) mengeluarkan beberapa rekomendasi dalam aktivitas menggunakan gadget. Jarak antara mata dan layar laptop sebaiknya sekitar satu pergelangan tangan atau kira-kira 60 sentimeter. Posisi layar terhadap mata sebaiknya lebih rendah, sehingga mata cenderung sedikit melirik kebawah (15-20 derajat). Mata tidak rata dengan layar atau bahkan cenderung melirik ke atas. Hindari pantulan sinar matahari atau lampu pada layar monitor yang dapat menjadi glare/silau di layar monitor.

Hindari bekerja pada ruang gelap, karena memiliki perbedaan yang mencolok antara sinar dari layar (brightness) dengan cahaya dilingkungan. Istirahatkan mata secara berkala. Salah satu rumusnya hukum 20-20-20, yaitu istirahat setiap 20 menit, selama 20 detik dengan melihat benda yang jaraknya lebih dari 20 kaki (setara dengan 6 meter) misalnya melihat pohon di luar jendela. Hal ini bermanfaat untuk mengendorkan otot-otot penggerak mata.

Dampak lain yang secara tidak langsung dapat muncul adalah mata minus atau miopia. Mata minus telah menjadi fenomena yang disebut sebagai ledakan mata minus. Sebuah penelitian di Korea Selatan menunjukkan bahwa sekitar 60 tahun yang lalu di prevalensi mata minus adalah 10 -20%, sedangkan 10 tahun terakhir mengalami peningkatan tajam menjadi 80-90%. Prevalensi mata minus pada pria berusia 19 tahun di Korea Selatan mencapai 96,5%.

Penelitian

Oftalmologi komunitas FK-KMK UGM melakukan penelitian pada anak usia sekolah, ditemukan bahwa 41% mengalami mata minus, dan 21% di antaranya mengalami minus tinggi. Penelitan yang telah ada menunjukkan keterkaitan antara banyaknya aktivitas melihat dekat dengan tingginya peningkatan mata minus. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu pada berbagai kegiatan melihat dekat di dalam ruangan ketimbang aktivitas diluar rumah. Kondisi terbatasnya aktivitas diluar rumah saat ini tentu berpotensi memperparah lonjakan mata minus.

World Health Organisation (WHO) menyebutkan bahwa aktifitas luar rumah atau outdoor activity sekitar 2 jam per hari terbukti efektif dalam mencegah munculnya mata minus. Aktivitas luar rumah dapat berupa bercocok tanam, berolah raga, naik sepeda ataupun sekedar berjalan-jalan. Mekanisme aktivitas luar rumah dalam mencegah progresivitas mata minus masih menjadi pertanyaan bagi peneliti.

Dengan upaya tersebut diharapkan masyarakat terhindar dari efek buruk WFH terhadap kesehatan mata. Baik dampaknya secara langsung maupun jangka panjang.

Prof dr Suhardjo, SU, SpM(K)
Guru Besar FKKMK UGM

BERITA REKOMENDASI