Literasi Kebangsaan

Editor: Ivan Aditya

ADA peristiwa menarik pada peringatan malam tirakatan 17 Agustus 2017 yang lalu. Waktu itu ada seorang anak kecil yang cukup hafal dan fasih sekali menyanyikan lagu Despacito, salah satu lagu barat yang saat ini tengah ‘ngetren’ di kalangan anak muda tanah air. Selang beberapa waktu kemudian seorang pembawa acara menawarkan lagu Tanah Airku, dia lantas geleng-geleng dan diam. Meski makna geleng-geleng itu ada dua : tidak bisa/tahu atau tidak berkenan.

Peristiwa ini bukan semata keprihatinan, namun menjadi sebuah ungkapan yang mengisyaratkan ucapan selamat datang di era generasi milenial. Memang tidak mudah untuk menumbuhkan rasa dan kegairahan berbangsa di tengah-tengah keragaman dan persoalan yang begitu kompleks. Belum lagi kita tidak cukup mampu menahan gempuran nilai luar yang selaras dengan pengaruh dinamika global dan merusak tatanan nilai yang ada. Sehingga terjadilah dekadensi nilai yang berdampak terhadap runtuhnya nilainilai kebangsaan. Di sinilah perlunya langkah-langkah mengedepankan semangat persatuan dan kebangsaan yang bersumber dari ideologi yang kita miliki, yakni Pancasila.

Perlu kembali menggali nilai-nilai kebangsaan dan menyampaikannya dengan literasi yang baik, ketika menghadapi pelbagai problem kebangsaan. Karena proses kebangsaan Indonesia merupakan sebuah anugerah dari wujud kebersamaan yang lahir dari pengalaman sejarah bersama. Dalam sebuah pidatonya, Soekarno mengingatkan sesuatu yang merupakan kunci untuk mengerti mengapa Indonesia masih berdiri kokoh, adalah kebangsaan. Kebangsaan Indonesia bukan kebangsaan alami, seperti kebangsaan Korea atau Jerman, yang berdasarkan kesatuan etnik dan bahasa.

Kebangsaan Indonesia, sebaliknya, merupakan kebangsaan etis. Artinya, perasaan kebersamaan berdasarkan cita-cita etis luhur yang dimiliki bersama. Pengalaman bersama akan ketertindasan dan keterhinaan karena keadaan terjajah melahirkan solidaritas bangsa melampaui perbedaan suku, etnik, dan agama. Kesadaran kebersamaan itu semakin menguat dalam perjuangan bersama untuk mencapai kemerdekaan dan keadilan bagi seluruh rakyat. Yang semuanya tercermin dalam Dasar Negara, Pancasila.

Pentingnya nilai-nilai kebangsaan tentu saja harus disadari seluruh rakyat Indonesia, termasuk generasi milenial tersebut. Apalagi, teknologi semakin maju sehingga informasi menjadi deras dan seperti tidak terkontrol. Memahami nilai kebangsaan tidak hanya secara kontinyu namun juga senantiasa dapat memroteksi milenial untuk memilah informasi agar tetap dalam koridor sebagai generasi Bangsa Indonesia. Saat ini, mereka sedang dibanjiri doktrin yang seakan-akan menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Perlu disadari, dalam era keterbukaan informasi, budaya kritis dan diskusi lewat media sosial menjadi suatu yang 'keren' untuk anak muda.

Kegandrungan membahas suatu isu/fenomena dan menjadi viral menjadi kebiasaan yang tidak bisa dihindarkan. Sayangnya, diskusi dalam media yang digandrungi generasi milenial seakan tidak ada 'pagar pembatas'-nya. Dan tidak semua yang ikut berdiskusi memiliki perspektif yang sama sebagai orang Indonesia dengan berpedoman pada keberadaban dan kebhinnekaan. Disinilah perlunya literasi kebangsaan. Agar tidak ada oknum yang memanfaatkannya untuk memecah belah rasa kebangsaan yang sedang tumbuh.

Jika dicermati, penanaman nilai-nilai Pancasila dan wawasan kebangsaan masih banyak bertumpu pada kegiatan sosialisasi dengan perspektif monolitik yang tak lagi sejalan dengan tuntutan era dan generasi milenial. Model dan perspektif ini sudah saatnya diubah. Lakukan dengan pendekatan baru dalam berbagai program internalisasi nilai Pancasila dan wawasan kebangsaan.

Tanpa peneguhan ini, era digital menjadikan masa depan Indonesia sebagai 'negara jajahan' yang kehilangan kedaulatan bisa saja terwujud. Fakta itu sekaligus mengisyaratkan dua hal, tantangan dan peluang. Sebagai tantangan, harus memiliki komitmen dan integritas tinggi di tengah keterpurukan dan karut marutnya keadaan yang ada.

Pendekatan literasi menjadi sebuah keharusan sebagai upaya untuk menkonstruksi wawasan kebangsaan dan tentu dengan pendekatan sejarah yang otentik. Pemerintah perlu menyadari bahwa saat ini generasi milenial tidak bisa didekati dengan cara-cara yang represif. Hal tersebut karena ketika pendekatan yang dilakukan bersifat memaksa, rasa ingin belajar dan rasa cinta pada bangsa dalam diri milenial akan sulit terbentuk.

(Hendro Muhaimin MA. Alumnus UGM, Tenaga Pengajar Pancasila dan Kewarganegaraan di beberapa PTS DIY dan Direktur Program Sinergi Bangsa Institute. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 20 September 2017)

BERITA REKOMENDASI