Literasi Media Digital

Editor: Ivan Aditya

TERUNGKAPNYA jaringan prostitusi online yang melibatkan ratusan anakanak mendorong perlunya literasi digital media. Karena penggunaan media digital secara salah terbukti membawa anak-anak dalam situasi perundungan seksual yang merugikan. Anak-anak ini secara tidak cerdas mengunggah gambar, data pribadi, yang mudah dikonsumsi orang lain termasuk untuk tujuan kejahatan.

Di belantara informasi yang tidak terbatas ini anak-anak harus dalam pengawasan orangtua. Mereka bisa saja menjadi sasaran empuk predator seksual yang mengincar anak-anak di dunia maya. Banyak predator mengincar anak-anak untuk tujuan prostitusi. Tanpa literasi media digital anak-anak cenderung menjadi korban. Internet mengubah pola pikir dan perilaku anakanak secara cepat.

Mengubah Pola

Kemajuan yang diperoleh di era internet memang luar biasa. Saat ini nyaris tidak ada aktivitas manusia yang bisa membebaskan diri dari internet. Celakanya literasi media digital yang diberikan orang dewasa nyaris minim. Internet mengubah pola akses informasi ramai-ramai dari media konvensional menjadi sangat personal.

Pembelajaran literasi digital semakin tidak dapat dielakkan seiring ketergantungan manusia dengan internet belakangan ini. Indonesia sekarang ini masuk 5 besar pengguna internet di dunia. Berdasarkan data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia tahun 2014 terdapat 88 juta pengguna internet di Indonesia. Sebanyak 79 juta penduduk aktif mengakses media sosial dengan 70% di antaranya menggunakan akses gawai.

Di kalangan orangtua yang bekerja anak-anak nyaris tidak diawasi dalam mengakses internet. Joh Palfrey dan Urs Gasser (2008) menyebutkan tentang generasi digital anak-anak yang lahir tahun 1980-1990-an. Generasi ini berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka belajar, bekerja, menulis dan berinteraksi dengan orang lain melalui cara yang berbeda. Selain itu generasi ini menjalani sebagian besar waktunya di dunia maya. Bacaan mereka sebagian besar bersumber dari blog ketimbang surat kabar.

Pola pergaulan mereka cenderung bertemu secara online sebelum tatap muka langsung. Tak jarang mereka berkenalan atau mendapatkan informasi dari media online sebelum tatap muka. Untuk keperluan mengerjakan tugas atau menyusun laporan mereka mengandalkan informasi dari internet atau situs pencari di media sosial.

Jika generasi sebelumnya lebih menyukai mendengarkan musik secara langsung generasi digital mendapatkan musik secara online dan jarang membeli hiburan musik di toko alat musik. Cara mengirim informasi pun mereka lebih suka dengan pesan pendek di media sosial ketimbang mengangkat telepon. Mereka juga mengadopsi dan bermain binatang peliharaan melalui media virtual secara online daripada bermain dengan binatang sungguhan.

Sebagian pola kehidupan, pertemanan dan interaksi dilakukan dari teknologi digital. Mereka didikte oleh kehidupan maya dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan sesungguhnya. Anak-anak lebih suka bergaul di dunia maya ketimbang berkawan dengan kawan-kawan sebaya. Akibatnya anak-anak ramai di jagad maya namun sepi di dunia nyata.

Pembekalan

Yang menjadi masalah masyarakat Indonesia belum terdidik untuk cerdas berinternet. Misalnya masyarakat Indonesia mudah mengunggah data pribadi ke media sosial. Padahal sangat mungkin data itu dipergunakan pihak lain untuk tujuan jahat. Di dunia pendidikan siswa diminta mencari informasi dan bahan-bahan pembelajaran di internet. Namun guru dan orangtua tidak memberikan pembekalan memadai penggunaan internet secara bijak. Anakanak dilepas begitu saja untuk bergaul dengan internet tanpa pembatasan. Minimnya pelatihan penggunaan internet menyebabkan pengetahuan menggunakan internet tidak memadai.

Akibatnya anak-anak rentan terjebak dalam eksploitasi seksual seperti pedofilia dalam jaringan, perundungan cyber dan prostitusi online termasuk organisasi radikal. Situasi ini bisa terjadi karena internet dianggap dari sisi teknis penggunanya sementara pengaruhnya cenderung terabaikan. Padahal pengaruh internet sudah mengubah dinamika masyarakat mulai dari tingkat keluarga hingga negara.

Yang memprihatinkan tentu saja gagap etika dalam jaringan internet belum sepenuhnya dapat dipecahkan. Dalam belantara informasi di internet dialog orangtua guru dan anak menjadi sangat penting. Jika perlu orangtua dan guru benar-benar mengawasi dan memberitahukan penggunaan internet secara benar.

(Paulus Mujiran SSos MSi. Pemerhati masalah sosial, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata, tinggal di Semarang. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 28 September 2016)

BERITA REKOMENDASI