Longsor dan Banjir

Editor: Ivan Aditya

BENCANA longsor (juga banjir) melanda pelbagai daerah. Mulai longsor di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat, menyusul Jawa Tengah di Banjarnegara, Cilacap dan Magelang, serta yang lain. Semua menyisakan duka bagi kita semua. Semua menuntut Pemerintah Daerah dan lembaga pemerintah untuk bekerja secara optimal. Sekalipun bencana ini tidak luput dari hujan dan musim yang sulit untuk diprediksi, ketika hujan deras bisa kapan saja datang.

Kejadian itu pun tidak satu atau dua kali lagi. Berkali-kali dan bahkan beratus kali di Indonesia terkena bencana. Maka kuncinya, kondisi ekologis harus diperbaiki agar hujan tidak menjadi musibah bagi manusia. Terlebih jika kondisi daerah itu kawasan pegunungan dan perbukitan. Bukankah di negeri ini banyak wilayah yang berbukit-bukit kondisinya?

Tipe topografi ini rawan terkena longsor dan banjir. Kondisi topografi tadi diperparah oleh kerusakan ekologis pada lingkungan sekitar. Daerah pegunungan beralihfungsi pada lahan pertanian dan perumahan penduduk. Secara langsung hal ini membuat minimnya vegetasi hijauan pada kawasan berbukit dan bergunung. Saat hujan datang, tanah mudah bergerak kemudian longsor dan banjir sampai kepada daerah yang ada di bawahnya.

Peran vegetasi secara ekologis dapat menahan erosi tanah sehingga memperkecil kemungkinan longsoran tanah. Air hujan juga dihambat kalau vegetasi masih cukup. Saat lahan dengan topografi bergunung beralih fungsi maka air hujan tidak lagi bisa masuk ke tanah karena lubang pori-pori tanah tertutup. Padahal lubang biopori tanah turut mempercepat masuknya air hujan ke tanah sehingga memperkecil air yang terdampar pada daratan.

Lubang biopori itu tertutup saat tingginya penggaraman pada lahan pertanian. Ditambah lagi dengan tingginya penggunaan pestisida sehingga biota tanah jadi mati dan punah. Fungsi dari cacing tanah hakikatnya untuk menambah banyak lubang biopori secara alami di alam. Makin sedikit dan tertutup lubang biopori membuat air hujan tidak bisa masuk. Realita ini diperparah dengan penebangan hutan tanpa penanaman kembali. Pori-pori yang terbentuk karena akar akan menyimpan banyak air hujan. Makin besar akar makin besar pori tanah yang terbentuk. Makin besar pohon makin besar daya serapnya terhadap air hujan. Tentu secara langsung akan memperkecil kemungkinan bencana banjir.

Kerusakan kawasan hutan di hulu akan memperbanyak hanyutan unsur hara tanah bagian atas. Terbawa ke hilir dan menumpuk di sungai. Makin lama lebar dan kedalaman sungai makin berkurang, sementara endapan lumpur dari aliran permukaan tak berhenti. Akibatnya kemudian, rumah penduduk akan banjir lumpur dan banjir air. Bisa jadi, rumah akan tertutup oleh lumpur.

Perencanaan pembangunan perumahan harus mendapat perhatian. Bencana juga diperparah dengan pembangunan rumah pada pinggiran kaki gunung akan menekan tanah sehingga tanah mudah longsor. Bukankah sekarang banyak gunung dipangkas untuk mendapatkan rumah dengan pemandangan akan indah? Di sisi lain pembangunan rumah termasuk rumah-rumah mewah di bantaran sungai selain tidak berfungsinya sungai secara optimal. Perumahan penduduk yang berada di pinggiran sungai akan menutup ruang resapan air.

Air yang harusnya masuk ke dalam tanah akhirnya harus masuk penuh ke sungai, karena ruang resapan tertutup. Ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, menyelesaikan bencana dengan cara terintegratif. Maksudnya, lakukan perbaikan secara sosial, ekologis dan ekonomi. Akar masalah karena masyarakat secara ekologis tidak paham fungsi dari masing-masing ekologis. Penyuluhan ekologis harus dilakukan untuk menumbuhkan perilaku agar ramah terhadap alam. Penyuluhan ini bisa dilakukan melalui penyuluhan pertanian. Berikan arahan kepada warga dampak buruk mengusahakan lahan pegunungan.

Kedua, Badan Lingkungan Hidup dan Badan Penanggulangan Bencana harus optimal untuk memetakan daerah prioritas bencana. Daerah prioritas bencana berdasarkan kerusakan ekologis pada daerah itu. Petakan juga daerah mana yang topografinya berbahaya terkena bencana.

(Bahagia. Dosen Tetap Ibn Khaldun Bogor, sedang S3 Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 30 September 2016)

BERITA REKOMENDASI