Malam Tirakatan dan Wisata

Editor: Ivan Aditya

RABU, 20 September 2017 malam nanti, bertepatan dengan malam tahun baru Islam 1 Muharam 1439 Hijriyah. Juga bersamaan dengan tahun baru Jawa 1 Sura 1951. Berbagai acara atau kegiatan digelar sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Baik resmi oleh sebagian pemerintah daerah maupun organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Suatu kegiatan rutin yang senantiasa ditunggu kehadirannya. Entah berupa acara tradisi ritual budaya atau kegiatan keagamaan lainnya, dengan berbagai ragam variasinya.

Substansi dari berbagai kegiatan entah yang tradisi ritual budaya, ataupun yang keagamaan tersebut. Berbagai kegiatan di malam tahun baru, baik oleh individu maupun kelompok masyarakat tersebut sering dinamakan dengan malam tirakatan. Namun mengapa dalam praktiknya malam tirakatan tersebut juga menjadi malam hiburan, rekreasi atau wisata malam.

Tradisi

Tidak ada referensi yang secara jelas menyebutkan, sejak kapan tradisi malam tahun baru Hijriyah diadopsi Raja Mataram Sultan Agung sebagai tahun Jawa dan diisi dengan malam tirakatan. Hingga suasana nampak menjadi begitu magis, istimewa dan seakan memiliki aura tersendiri bagi perjalanan hidup manusia Jawa pada khususnya.

Tirakatan dari asal kata tirakat (Jawa) yang berarti berpantang terhadap sesuatu agar tercapai apa yang diharapkan atau dicitacitakan. Maka tirakatan dapat diartikan sebagai jalan yang ditempuh dalam melaksanakan berbagai pantangan tersebut. Misalnya dengan berpuasa, mawas diri, mengurangi tidur, banyak berdoa dan mengingat Tuhan serta menghindari berbagai perbuatan maksiat khususnya main, minum, madat, madon lan maling (malima).

Ada pro kontra di tengah masyarakat terkait dengan kegiatan tradisi tirakatan di malam 1 Sura. Namun toleransi masyarakat membuat tradisi malam tirakatan tersebut terus berlangsung dengan aman dan tertib. Di Yogyakarta yang paling menjadi ikon tradisi budaya tirakatan malam 1 Sura adalah ‘Mubeng Beteng’ Kraton Yogyakarta dengan tapa mbisu (tidak berbicara, tidak merokok), diikuti oleh para abdi dalem serta masyarakat umum. Di lingkungan Kasunanan Surakarta diadakan acara tradisi ‘Ngarak Kebo Bule Kyai Slamet-Keturunan Kyai Slamet’ serta kirab pusaka sedang di Ponorogo ada Grebeg Sura demikian pula di daerah lain.

Selain di lokasi tersebut dilakukan kegiatan peringatan malam 1 Sura secara terencana dan massal, tempat-tempat lain juga banyak dijadikan melakukan tradisi malam tirakatan secara individu. Untuk sekitar Yogyakarta antara lain juga berpusat di makam raja-raja Mataram di Imogiri dan Kotagede, Pantai Parangkusumo, Puncak Merapi dan tempat-tempat yang dianggap keramat atau punya nilai sejarah lainnya.

Wisata

Lepas dari soal percaya atau tidak dengan laku tirakatan tersebut kegiatan ini sudah menjadi bagian dari even wisata. Karena di beberapa tempat juga menggelar berbagai atraksi seni budaya lokal. Ada pergelaran wayang kulit, musik religi, bazaar, aneka lomba dan sebagainya.

Sebagai even wisata budaya tentu orientasinya sudah bergeser dari laku tirakatan menjadi kegiatan untuk mencari hiburan atau bersenang-senang. Secara ekonomi menjadi lahan untuk transaksi berbagai produk barang kebutuhan masyarakat. Hingga banyak pedagang kecil khususnya memanfaatkan untuk memasarkan barang dagangannya. Apalagi dengan ditetapkannya tanggal 1 Muharam sebagai hari libur nasional. Sehingga tidak mengherankan jika dunia wisata domestik juga semakin menggeliat. Dan semua ini ditangkap oleh stakeholder terkait seperti jasa transportasi, perhotelan, boga dan sebagainya termasuk Dinas Pariwisata banyak yang kemudian membuat even pendukung untuk memeriahkannya.

Jika lebih jernih melihat keterkaitan antara tradisi tirakatan dengan wisata, ternyata para pencetus ide orang-orang terdahulu telah jauh cerdas dan visioner. Sehingga malam tirakatan tanggal 1 Muharram yang bertepatan dengan tanggal 1 Sura sebagai tahun baru Jawa perlu diperingati dengan berbagai kegiatan ritual budaya. Tidak semata beraspek laku rohani saja tetapi juga mempunyai aspek wisata dan ekonomi. Mungkin, tradisi malam tirakatan tersebut, dapat terus dikelola sedemikian rupa untuk kegiatan yang positif berbasis budaya bagi masyarakat.

(Bambang Nugroho SH. Panggurit tinggal di Bangunjiwo Kasihan Bantul. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 20 September 2017)

BERITA REKOMENDASI