Malioboro ‘Suwung’

Editor: Ivan Aditya

DALAM khazanah kawruh Jawa, di antaranya, ada dua pilihan laku setara, yang sering digunakan untuk menempuh jalan menuju pencerahan. Yaitu, srawung suwung (bergaul dengan kekosongan) atau tapa murca (sejenak ambil jarak dari ramai dunia). Sebab, suwung, ketiadaan adalah kesejatian ada, sedangkan murca, ambil jarak sementara, menyapih tanpa meninggalkan, pergi untuk kembali, adalah cara indah evaluasi diri. Dalam lakon pewayangan, banyak ditemui tokoh ‘menghilang’ dari keluarga, atau senjata pusaka dari ruang penyimpanan, pergi tanpa pamit, murca. Untuk apa? Mencari, menemu, meramu pencerahan dan solusi dari persoalan. Bagi keluarga yang ditinggal murca, batu ujian.

Malioboro suwung dan murca? Sepanjang Selasa Wage (26/9), Malioboro tanpa pedagang kaki lima (PKL). Trotoar di lorong depan pertokoan tampak sebagai ruang terbuka yang lapang, pejalan boleh leluasa melenggang. Rupa tiang-tiang bangunan, pohonan, bangunan pedestrian, wajah-wajah pertokoan, terlihat jelas terang benderang lekuk-sudutnya, terpampang detail visual dari jalan raya legendaris ini. Suasana bersih-bersih, melepas penat, mengaso sejenak, mengumbar napas, mencoba lukar busana. Melihat ‘tubuh sendiri’, sembari berkaca melihat ‘warna aslinya’. Ditinggal PKL dan komunitas penyangganya, Malioboro seakan suwung, murca, bagai bersalin rupa. Suatu kesempatan buat memperlihatkan adanya kesediaan warga Malioboro untuk tulus mulat sarira, melalui laku ‘nyuwung’ dan murca.

Bisa Dibuktikan

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari ‘penyuwungan’ Malioboro. Suwung sejenak dari PKLdan aktivitas penyangganya, tetapi tidak suwung dari gerai belanja pertokoannya. Malioboro tanpa PKL tidak lagi hanya dibayangkan, melainkan sudah bisa dibuktikan. Meski suwung hanya sehari, tetapi langsng menguatkan kesan dan pesan, PKL dan aktivitas penyangganya, adalah wajah utama Malioboro siang dan malam. PKL identitas dominan Malioboro. Sulit dibayangkan, apa jadinya Malioboro tanpa PKL. Mengapa? Pertama, PKL dan aktivitas penyangganya, telah menjadi penggerak roda perekonomian kawasan sekaligus sumber penghidupan orang banyak, erat kait-mengait satu sama lain yang meliputi seluruh sektor, lapisan, luasan, dan sebaran, tidak sebatas di wilayah Malioboro. PKL dan aktivitas penyangganya, telah menciptakan ‘efek Malioboro’ yang luar biasa terhadap kompleksitas sosio-ekonomi dan kultural, termasuk ‘masyarakat pengguna’ dari seluruh dunia. PKL dan aktivitas penyangganya, telah menimbulkan efek domino terhadap hajat hidup orang banyak. Tidak mungkin Malioboro tanpa PKL.

Kedua, PKL dan aktivitas penyangganya, telah menjadi salah satu faktor daya tarik atau magnet Malioboro untuk dikunjungi. Berulangulang terjadi insiden perilaku yang menciderai faktor daya tarik, tetapi sejauh ini tidak membuat orang kapok datang ke Malioboro. Sebagai magnet kunjungan, PKL dan aktivitas penyangganya, membuka ruang bagi makin terbentuknya Malioboro surga belanja, surga makan kaki lima, surga hiburan jalanan, surga bagi pejalan dan rekreasi luar ruang. PKL dan aktivitas penyangganya, bagian penting dari fasilitasi bagi pengunjung setara dengan fasilitasi akomodasi, transportasi, dan konvensi. Tanpa PKL, Malioboro akan terasa suwung, kehilangan isi hidupnya.

Penyeimbang

Ketiga, PKL dan aktivitas penyangganya, mempunyai kekuatan penyeimbang secara sosial dan kultural terhadap deretan pertokoan dan perkantoran sepanjang Malioboro. Antar keduanya, telah membangun relasi jangka panjang untuk saling menguntungkan dan mengagungkan. Erat setara dalam upaya bersama untuk saling memuliakan. Keeratan dan kerekatan relasi sosial dan kultural antara PKL, pertokoan, perkantoran bisnis, perkantoran pemerintah, pusat layanan publik, akan menjadi akumulasi kekuatan identitas Malioboro tidak lagi sekadar menjadi kawasan legendaris mitologis. Melainkan menjadi kawasan produktif-konstruktif secara ekonomi maupun kebudayaan. PKL bukan penimbul masalah melainkan penyelesai masalah.

Keempat, Malioboro menjadi ruang uji komprehensi penerapan kebijakan publik. Kawasan Malioboro, tidak hanya riuh secara visual, tetapi juga riuh kepentingan, karenanya terus berbenah secara berkelanjutan melalui desain utuh dan mencakup, bukan sebatas ruang eksperimentasi kebijakan. Apalagi, Malioboro adalah salah satu kawasan cagar budaya yang sarat dengan kandungan nilai, falsafah, histori, dan spiritualitas yang tajam mengakar.

Karena itu, brata penyuwungan Selasa Wage lalu, layak tidak hanya dianggap sebagai laku fisik, tetapi dapat ditradisikan sebagai salah satu cara warga Kawasan Malioboro mulat sarira dalam merawat dan meruwat kekuatan daya-daya sangga internalnya. Spiritualitas merenungi diri, melalui brata panyuwungan. Rutin diadakan tiap Selasa Wage di bulan Sura, bagaimana?

(Purwadmadi. Penulis dan pemerhati seni-budaya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 28 September 2017)

BERITA REKOMENDASI