Manajemen Air Hujan dan Bencana Kota

Editor: Ivan Aditya

BERITA banjir juga longsor, nyaris terdengar dimana-mana. Seakan, hujan bukan lagi menjadi berkah tetapi musibah. Secara ekologis hujan tidak akan jadi musibah, karena telah disiapkan porsi untuk menampung air hujan dibumi. Prinsipnya air hujan turun kemudian terbagibagi kepada ekosistem sungai, danau, rawa, sungai, pohon, hewan dan sebagian masuk yang ada di dalam tanah.

Manusia juga mendapat porsi dari air hujan yang turun. Porsi itu tidak terbagi dengan baik. Cenderung lebih banyak tumpah daripada masuk ke dalam ekosistem tadi. Prinsip ini yang kurang dipahami, padahal mengelola air hujan sangat mudah. Cukup melakukan optimalisasi peran ekosistem tadi.

Tidak Dilakukan

Ekosistem kota rusak karena pembangunan mall, rumah, jalan, industri, sekolahan, dan perkantoran terus dilakukan. Satu sisi optimalisasi luasan ruang kosong pada bangunan tidak dilakukan. Di sisi lain, pengelolaan air hujan juga tidak dilakukan. Pola umum pengelolaan banjir di perkotaan dengan cara membangun tanggul dan parit sebagai saluran pembuangan air. Air hujan yang turun langsung dimasukkan dari pipa rumah warga. Kemudian disalurkan pada saluran parit besar yang sudah dibeton.

Jarang penduduk yang menyimpan air hujan pada rumahnya. Bahkan nyaris hal itu tidak terpikirkan. Sedangkan pembuangan akhir dari semua air hujan setiap rumah bermuara pada sungai di kota. Kalau tidak ke sungai maka dibuang ke tanggul pembuangan air. Suatu waktu kalau tanggul tidak kuat maka daerah sekitar tenggelam karena air.

Pengelolaan begini membuat kota rawan banjir. Kita harus mengurangi jumlah air hujan yang masuk ke saluran melalui rekayasa pekarangan rumah, pekarangan perkantoran, mall, sekolahan dan jalan-jalan. Perbanyak daerah resapan air pada setiap rumah warga, juga kawasan sekolah, mall, dan perkantoran. Jika kesadaran itu ada setiap rumah tangga dikota maka air hujan tadi tidak perlu dibuang ke saluran. Tersimpanlah air hujan dengan cara membuat daerah resapan air.

Daerah resapan bisa di halaman rumah yang ditanam rerumputan atau tanaman besar lain. Selain itu, gang-gang rumah perkotaan juga harus dihijaukan, sekalipun dengan rerumputan bukan justru dengan dibeton. Di sisi lain, warga juga bisa memperbanyak lubang biopori pada setiap halaman rumah. Pengelolaan bencana air dan hujan begini tidak membutuhkan lahan yang luas.

Secara langsung air hujan yang turun akan dikurangi sebelum masuk ke sungai. Air tadi akhirnya masuk ke tanah menjadi air tanah. Kalau kita perhatikan lagi, ruang yang tersisa di pinggir jalan raya juga belum optimal untuk dimanfaatkan. Buatkan lubang biopori dan jangan lupa rerumputan dan pepohonan ditanam.

Dapat Menyerap

Setiap ruang jika dioptimalkan akan dapat menyerap air hujan dan mengurangi air hujan yang masuk ke sungai. Kenyataannya jalan layang dibiarkan beton saja. Ruang itu tidak termanfaatkan padahal kita bisa menanaminya. Jadi jalan layang dan jembatan layang tetap dihijaukan. Tempeli rerumputan dan tumbuhan yang kemungkinan bisa ditempelkan pada tembok jalan raya dan jembatan layang tadi.

Selain itu, banjir perkotaan juga akibat kerusakan ekosistem sungai di kota. Sungai-sungai dikota nyaris tidak berfungsi. Hampir seluruh sungai di kota makin dangkal. Endapan lumpur tinggi, penyempitan sungai juga terjadi. Penutupan rawa dan danau terus dilakukan. Sungai juga banyak yang diluruskan demi penertiban. Cara ini menyalahi hukum ekologis.

Sungai berkelok-kelok mempunyai arti. Makin banyak kelokan sungai makin banyak air yang terserap ke tanah sehingga mengurangi potensi banjir. Hentikan juga pembangunan dengan menutup daerah berawa. Daerah berawa hanya cocok sebagai daerah penampung air hujan. Jangan terus membangun bangunan pada daerah rawa. Kalau ingin bencana lebih lanjut maka lanjutkan penutupan daerah berawa.

(Bahagia SP MSc. Dosen Tetap Universitas Ibn Kaldun Bogor, sedang Studi Program Doktor Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 2 November 2016)

BERITA REKOMENDASI