Manajemen Kampanye Balon Walikota

Editor: Ivan Aditya

SAMPAI tulisan ini dibuat pada awal bulan September 2016, nama bakal calon (balon) Walikota Yogyakarta yang beredar di media massa antara lain  Haryadi Suyuti (petahana), Imam Priyono, Arief Noor Hartanto, Heroe Purwadi, A. Syauqi Suratno dan sejumlah nama lainnya. Balon walikota independen belum berhasil memperoleh dukungan dari masyarakat. Jumlah dukungan KTP yang dipersyaratkan tidak memenuhi target minimal. Sesuai dengan tahapan pilkada tahun 2017, parpol atau gabungan parpol nantinya secara resmi akan mengajukan balon Walikota dan wakilnya masing-masing.

Catatan ini mungkin bermanfaat untuk melengkapi visi dan misi yang diperlukan dalam kampanye nanti dan juga mungkin dapat diterapkan oleh Walikota terpilih. Catatan ini didasarkan pada bidang manajemen dan ekonomi, yang mencakup (1) gaya kepemimpinan, (2) tata kelola, (3) potensi bisnis dan ekonomi Kota Yogyakarta.

Bagaimana gaya kepemimpinan Walikota Yogyakarta di masa mendatang? Walikota terpilih harus mampu melaksanakan gaya kepemimpinan yang merakyat dalam arti bersedia mendengarkan aspirasi rakyat baik melalui DPRD, organisasi profesi, asosiasi pengusaha, serikat pekerja, Ketua RW/RT,  dan rakyat akar rumput. Mendengar dan menangkap aspirasi diperlukan namun tidak cukup, harus ditindaklanjuti dengan dialog serta aksi sebagai wujud solusi untuk menyelesaikan masalah.

Walikota harus mampu menerapkan gaya kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional merupakan kemampuan pemimpin untuk mengubah lingkungan kerja, motivasi kerja, pola kerja, dan nilai-nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu mengoptimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi.

Dengan kata lain pemimpin kota Yogyakarta mendatang memiliki kemampuan untuk merubah, dan menggantikan budaya yang lama yang tidak sesuai, dengan budaya yang baru yang sesuai kebutuhan dan kondisi terkini. Banyak pihak menganggap Walikota Tri Rismaharini (Surabaya) dan Ridwan Kamil (Bandung) telah berhasil menerapkan gaya kepemimpinan yang merakyat dan kepemimpinan transformasional, sekaligus tegas dan visioner.

Sejak periode kepemimpinan Walikota Herry Zudianto, pemerintah Kota Yogyakarta telah banyak menerima penghargaan dari beberapa pihak. Salah satunya dari Kemendagri yaitu Pemkot Yogyakarta termasuk “10 Besar Kinerja Pemerintahan Terbaik Nasional” pada tahun 2015. Banyaknya penghargaan yang diterima menunjukkan secara umum Pemkot Yogyakarta telah menjalankan tata kelola dengan baik.

Pemkot Yogyakarta dalam kurun waktu terakhir juga meraih opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK RI. Proses dan prosedur pengurusan perijinan di Kota Yogyakarta dianggap salah satu yang terbaik di Indonesia. Walikota terpilih mendatang, setidaknya tinggal mempertahankan dan meningkatkan atau memperbaki yang dianggap kurang.

Kesejahteraan masyarakat kota Yogyakarta terkait dengan hasil dari pembangunan di bidang ekonomi. Potensi ekonomi dan bisnis Kota Yogyakarta terutama meliputi bidang pariwisata dan industri kecil/UMKM. Fokus pembangunan ekonomi seharusnya pada sub-sektor pariwisata dan sub-sektor yang terkait dengan pariwisata (jasa transportasi, komunikasi, perhotelan, dan restoran).

Pariwisata dalam hal ini harus fokus pada pariwisata budaya dan pariwisata pendidikan. Sub-sektor industri kecil dan UMKM, khususnya kerajinan (cindera mata), sandang (batik dan konveksi) dan kulit (tas, dompet, dan ikat pinggang), pengecoran logam (alumunium), dan pangan (bakpia dan makanan tradisional) harus mendapat dukungan pengembangan yang memadai. Produk-produk industri kecil tersebut tentu saja mendukung aktivitas sektor pariwisata.

Pengembangan pariwisata di Kota Yogyakarta terdapat sejumlah kendala, antara lain (1) kemacetan jalan, dan (2) terbatasnya lahan parkir. Dalam jangka panjang tempat tujuan wisata selain budaya (misalnya Taman Pintar), sebaiknya dipindah di luar kota. Lokasi pemindahan dapat dipilih wilayah satelit yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta, baik wilayah Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman. Membangun Kota Yogyakarta memang harus berkoordinasi dan bekerjasama dengan wilayah satelit (greater Yogyakarta).

Dengan semakin banyaknya balon Walikota, diharapkan masyarakat Kota Yogyakarta akan mempunyai banyak pilihan. Selamat datang balon Walikota Yogyakarta.

(Dr D Wahyu Ariani SE MT. Dr D Wahyu Ariani SE MT, Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta, dan Dosen FE UK Maranatha Bandung. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 6 September 2016)

BERITA REKOMENDASI