Masih Ada Kekerasan

Editor: Ivan Aditya

BOM kembali meledak di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur (24/5). Mencabut tiga nyawa manusia dan 11 manusia tak berdosa luka-luka. Sebelumnya, (27/2) bom panci meledak di Cicendo Bandung. Pelakunya tewas seketika. Pertanyaannya, mengapa pemboman atau teror mempergunakan bom dan membunuh orang tak berdosa senantiasa terjadi di negeri yang beragamanya ramah, toleran, santun dan rajin beribadah? Mengapa masih ada kekerasan yang terjadi?

Setiap pelaku pemboman dengan tujuan membunuh orang lain yang tidak berdosa jelas perbuatan tidak beradab, alias tidak berperikemanusiaan. Apapun alasannya apalagi menggunakan agama sebagai alasan. Bahkan penggunaan dalil agama ini bisa dimasukkan dalam kategori menzalimi agama itu sendiri. Karena ini bukan hanya ëmemperkosa agamaí tetapi menjadikan Tuhan sebagai sandra ditangan para pembuat dan pelaku pemboman.

Sebagian orang yang melakukan tindakan pemboman terhadap orang lain argumennya karena terjadi ketidakadilan ekonomi dan ketidakadilan politik sebuah rezim kekuasaan. Jika hal ini memang menjadi argumen, mengapa penyelesaiannya dengan peledakan atau pemboman bukankah tidak akan pernah menyelesaikan kesenjangan yang dituduhkan?

Kita juga masih bisa mempersoalkan secara serius, apakah yang dimaksudkan dengan ketidakadilan ekonomi tersebut karena adanya korupsi yang menggila atau karena adanya kebijakan negara yang tidak adil? Jika hal ini bukankah penyelesaiannya adalah adanya kebijakan negara yang adil dan memihak kaum miskin papa?

Untuk menunjukkan kepemihakannya pada kaum papa mestinya yang dilakukan adalah melakukan dan mendorong negara untuk membuat kebijakan agar keadilan ekonomi dan politik bisa diakses oleh seluruh warga negara. Hal ini pun tidak bisa dilakukan dengan serta merta bagaikan membalik telapak tangan dalam sekecap. Kita harus pula bersedia memberikan kesempatan kepada negara untuk berbenah dan menata sistem ekonomi dan politik secara baik dan mandiri sehingga keadilan ekonomi politik dapat tercapai.

Negara tidak sanggup menata ekonomi dan politik secara mandiri, mapan dan stabil jika terlalu banyak gangguan yang sifatnya datang dari dalam. Seperti demontstrasi yang masif serta pemboman yang dirancang secara sistematis dibeberapa daerah di Indonesia.

Lalu bagaimana dengan kekerasan yang terjadi? Dalam kasus bom Kampung Melayu, pertama, segera buru pelaku pemboman yang tidak mati pada saat kejadian. Bila pelaku sudah teridentifikasi dengan baik oleh pihak aparat keamanan, siapapun pelakunya harus diadili sebagaimana perbuatan yang dilakukan. Seandainya memiliki jejaringan dengan kelompok mana pun yang biasa melakukan pekerjaan teror dengan bom, bikinlah jera tetapi juga polisi jangan sampai salah tangkap atas pelaku.

Kedua, tegakkan hukum dengan benar dan adil sehingga masyarakat percaya pada aparat keamanan dalam menegakkan hukum di Indonesia. Inilah salah satu cara agar masyarakat percaya pada aparat kepolisian. Jangan sampai para pelaku pemboman diperlakukan seperti biasa, karena telah melakukan pembunuhan kepada orang-orang yang tidak berdosa.

Ketiga, aparat keamanan harus meningkatkan kerja intelegnsinya sebab mereka ini menurut para aparat keamanan memiliki jaringan yang jelas. Kalau sudah demikian maka aparat keamanan tidak boleh lagi kecolongan dengan adanya kelompok-kelompok yang memiliki jaringan berbuat menteror masyarakat. Intelegen keamanan baik TNI atau Polri harus kerja sama tidak bisa kerja sendiri-sendiri sebab persoalan pemboman di Indonesia sudah sering terjadi.

Keempat, umat beragama utamanya tokoh agama jangan sampai terprovokasi dengan adanya aktivitas teror bom yang sering terjadi. Umat beragama tidak bisa serta merta menyatakan bahwa pemboman atau teror bom itu adalah sindikat atau konspirasi untuk melemahkan dan menohok umat beragama tertentu. Agaknya kurang bijaksana jika kita gampang menuduh. Kekerasan ternyata masih ada. Semoga bangsa ini tidak semakin terpuruk dengan adanya pelbagai peristiwa demonstrasi, aksi teror bom serta teror lainnya yang seringkali mengatasnamakan Tuhan sebagai argumennya.

(Dr Zuly Qodir. Sosiolog UMY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 27 Mei 2017)

BERITA REKOMENDASI