Media dan Citra TNI

Editor: Ivan Aditya

PASANG surut hubungan media dan TNI berjalan seiring waktu dan perubahan iklim sosial politik. Sebut saja salah satu ganjalan hubungan antara media massa dengan TNI semasa zaman orde baru. Dominasi pihak TNI atau ABRI waktu itu termasuk di dalamnya kontrol dan sensor media massa menjadi momok bagi eksistensi kebebasan media massa dalam menyampaikan informasi.

Era reformasi yang mengubah struktur sosial dan politik telah menghapus dominasi TNI diberbagai sektor termasuk kontrol terhadap media.Tidak ada lagi kini sensor terhadap informasi yang menyorot TNI, lebih-lebih media sosial yang relatif lebih bebas. Inilah yang menjadikan hubungan antara TNI dan semua jenis media menjadi semakin dinamis sekaligus menyimpan krisis. Pada era pascareformasi dan era digital TNI tidak mungkin tidak harus menjadikan semua media sebagai mitra strategis. Fungsi strategis semua media tentunya berada pada kontennya artinya TNI membutuhkan media sebagai sarana penyampaian informasi, legitimasi lembaga dan eksistensi citra lembaga TNI.

Tidak Dilihat

Pada fungsi keterbukaan informasi, media dibutuhkan TNI untuk menyampaikan hal-hal yang tidak mungkin dilihat secara langsung oleh masyarakat tentang tugas dan fungsi TNI. Misal seperti tugas TNI AL di matra laut, manuver operasi udara TNI AU dan latihan gabungan TNI. Media menjadi satu-satunya mata dan telinga masyarakat untuk mengetahui peran TNI tersebut.

Namun perlu diingat bahwa media memiliki fungsi kontrol. Artinya pihak TNI perlu memberi ruang kepada media atas keterlibatan mereka dalam mengulik informasi. TNI harus meningkatkan partisipasi media (jurnalis) dalam menghimpun dan menyebarkan informasi dan tidak menyerahkan hanya pada pejabat yang memiliki otoritas saja. Pada sisi lain pertimbangan keamanan informasi dan rahasia militer juga perlu dipahami media dan masyarakat. Karena jika tidak diindahkan akan mudah menimbulkan kontroversi dan kepanikan di kalangan masyarakat.

Terkait media menjadi sarana legitimasi lembaga, maka TNI perlu lebih menekankan kembali serta revitalisasi jati diri mereka pascareformasi. Disini fungsi media adalah menjembatani hal tersebut agar mata masyarakat semakin diyakinkan atas legitimasi TNI sebagai pilar pertahanan dan keamanan negara. TNI akan mendapatkan legitimasi tersebut selama konstruksi informasi di semua media juga mendukung ke arah tersebut.

Secara teori konstruksi media maka informasi yang tersebar adalah bersifat subjektif. Karena itu TNI perlu menggalang kerja sama terpadu dengan lembaga media massa dan daring. Pelatihan bela negara dan workshop pertahanan serta pemberian wawasan nasionalisme antarlembaga media menjadi salah satu alternatif penguatan legitimasi TNI di mata media massa dan media daring serta masyarakat, untuk memperkuat jati diri TNI yang telah bereformasi.

Profil Satuan

Pada usia ke 72 tahun TNI saat ini, penguatan citra TNI semakin menunjukkan peningkatannya di mata masyarakat. Program tayangan di berbagai media massa khususnya profil satuan tidak lagi didominasi oleh televisi publik melalui program klasik ‘Kamera Ria’tapi sudah merambah ke stasiun televisi swasta. Rupanya telah terjadi keterbukaan lembaga TNI untuk memromosikan aktivitasnya ke media televisi dan layar lebar.

Indikasi ini juga dapat terlihat dari beberapa judul film yang lahir selama kurun waktu pascareformasi yang bernuansa TNI. Mulai dari íDua tanda Cintaí, ‘Pasukan Garuda: I Leave My Heart In Lebanon’(2016), hingga Merah Putih Memanggil (2017) merupakan sarana semakin mendekatkan masyarakat dengan TNI. Karena media film merupakan media populer yang dikonsumsi masyarakat luas.

Sementara dalam penggunaan media sosial dalam peningkatan citra, lembaga TNI perlu memroduksi akun media sosial resmi milik unsur komponen TNI dengan berbagai variannya untuk semakin menaikkan citra TNI di masyarakat. Hal ini perlu dilakukan mengingat perkembangan situasi sosial dan politik semakin mendekatkan gesekan antara TNI dengan masyarakat. Akun resmi TNI dapat digunakan untuk mengklarisikasi secara viral informasi negatif yang menghampiri masyarakat. Namun pada sisi lain juga perlu ditegakkan etika dan literasi penggunaan media sosial di kalangan personel dan keluarga TNI.

(Edwi Arief Sosiawan MSI. Dosen Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 5 Oktober 2017)

BERITA REKOMENDASI