Memahami 5 Hari Sekolah

Editor: Ivan Aditya

KEPUTUSAN Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Muhajir Effendi melalui Peraturan Menteri no 23 tahun 2017 tentang hari sekolah, menuai pro dan kontra di masyarakat. Kontroversi permendikbud tentang hari sekolah ini menjadi tidak sehat dan tidak logis. Karena sudah dikonstruksi kelompok tertentu membenturkan ormas Muhammadiyah sebagai latar belakang ormas menteri dan NU disisi lain yang mengritisi kebijakan tersebut.

Jika kita melihat dari kacamata hidup berdemokrasi sungguh sangat wajar. Ada sebagian yang mencoba mengritisi bahkan menolak kebijakan yang dibuat pemerintah tanpa harus mengkaitkan dengan latar belakang organisasi mendikbud. Lalu bagaimana kita memahami Permendikbud no 23 tahun 2017 yang mengatur 5 hari sekolah tersebut?

Lima hari sekolah yang menjadi keputusan mendikbud sesungguhnya adalah cara untuk mewujudkan sebuah ide besar menanamkan karakter kepada siswa sebagai perwujudan Nawacita Presiden Jokowi. Titik tekannya ada pada karakter peserta didik, dan agar karakter siswa tertanam dengan baik maka harus dalam pantauan dan pengawasan guru. Dalam permendikbud tersebut fungsi gurulah yang memastikan proses pembentukan karakter siswa berjalan dengan baik. Inilah yang sesungguhnya disebut Prof Muhajir sebagai optimalisasi peran sekolah, yang meliputi kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler.

Pilihan

Saya memahami bahwa 5 hari sekolah sebagai sebuah metode yang dipilih mendikbud untuk menanamkan karakter siswa. Sebagai sebuah metode sesungguhnya ini pada wilayah ijtihad yang bisa diterima tetapi bisa juga ditolak. Namun substansi persoalannya bukan pada metode tetapi pada pendidikan karakter. Bagi sekolah negeri baik dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, sangat mungkin 5 hari sekolah diterapkan. Sebab struktur kurikulum memungkinkan untuk melaksanakan 5 hari sekolah. Sebagai contoh SMA Negeri struktur kurikulumnya 42 jam per minggu artinya rata – rata proses pembelajaran sampai pukul 14.30 atau 15.00. Selama lima hari para siswa terpantau perkembangan karakternya, jika SMA Negeri saja bisa dilaksanakan tentu SMP dan SD negeri yang jam pembelajarannya lebih sedikit sangat mungkin untuk dilakukan 5 hari.

Harapan pemerintah anak – anak terbentuk karakternya sebagai generasi penerus bangsa di bawah pengawasan dan bimbingan guru. Sebagai sebuah metode 5 hari sekolah harus dipahami belum tentu bisa diterapkan pada sekolah – sekolah swasta, pemahaman ini penting agar pola pikir kita tidak menyamaratakan semua sekolah. Pada SMAswasta misalkan struktur kurikulum bisa sampai 50 jam seminggu, berarti siswa harus belajar rata – rata 10 jam sehari atau sampai pukul 16.00, tentu pembelajaran sampai jam 16.00 menyulitkan sekolah untuk melaksanakan kegiatan – kegiatan ekstrakurikuler dan aktivitas organisasi siswa lainnya. Artinya 5 hari sekolah menjadi kurang tepat bagi sekolah swasta tersebut.

Namun Permendikbud no 23 tahun 2017 memberi peluang tidak menyamaratakan 5 hari sekolah. Pada pasal 10 disebutkan bahwa guru dan siswa yang sekolahnya belum bisa atau tidak bisa melaksanakan 5 hari sekolah tetap melaksanakan pembelajaran seperti biasa. Lalu apa yang dikhawatirkan dengan 5 hari sekolah.

Pelaksanaan pendidikan sejatinya tidak dapat dipisahkan dari kondisi masyarakat di sekitarnya. Pendidikan harus juga menjawab kebutuhan masyarakat yang ada di sekitar pelaksanaan pendidikan. Sehingga metode, cara, pola corak atau apapun sebutannya bisa jadi berbeda antara daerah satu dengan daerah yang lain, bahkan satu daerahpun bisa sangat berbeda corak pelaksanaan pendidikan. Ketika akan ada penyeragaman corak pendidikan pada saat itulah akan terjadi kontraversi.

Kesiapan Guru

Pembelajaran sampai sore membutuhkan pola pembelajaran yang tidak monoton agar siswa tetap semangat, ceria dan menyenangkan. Pola dan metode apapun dalam pendidikan sangat tergantung pada sosok guru. Metode dan pola yang biasa – biasa saja di tangan guru yang hebat akan menghasilkan proses pembelajaran yang hebat juga. Sebaliknya metode dan pola yang hebat dalam pembelajaran ditangani guru yang tidak baik akan mengalami proses pembelajaran yang tidak baik.

Kita berharap metode dan pola pendidikan baik ditangani guru yang berkualitas Insya Allah proses pembelajaran akan luar biasa. Lima hari ataupun 6 hari sekolah membutuhkan guru yang luar biasa untuk menanamkan karakter siswa, mari kita berdiskusi pada penanaman karakter siswa. Daripada menghujat orang lain karena perbedaan pandangan.

(Arif Jamali Muis. Guru SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 19 Juni 2017)

BERITA REKOMENDASI