Memahami Ketangguhan Bank Syariah

Editor: Ivan Aditya

POST Covid-19 era, sebagaimana prediksi banyak ahli dan lembaga terpercaya lintasnegara, adalah sebuah krisis : krisis ekonomi, pilitik dan sekaligus sosial. Pandemi Covid-19, dengan semua teori dan spekulasi yang berkembang, telah disadari banyak pakar sebagai penyulut krisis ekonomi yang mondial. Namun, sejatinya, krisis bukanlah identik dengan kehancuran. Tepatnya, krisis adalah momentum, atau turning point bagi banyak aspek dalam kehidupan. Ada benarnya apa yang dinyatakan ilmuwan Fisika terbesar abad lalu, Albert Einstein, bahwa in the midst of every crisis lies great opportunity (di balik setiap krisis, terhampar peluang besar).

Sedikit set back, ketika krisis ekonomi menghantam negeri ini lebih dari dua dasawarsa lalu, dunia perbankan porak-poranda. Raksasa-raksasa perbankan dalam negeri berguguran, dan secara massif masuk dalam ‘perawatan’ Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Banyak lembaga perbankan dilikuidasi atau dimerger, tidak terkecuali bank-bank pelat merah. Menariknya, bank syariah, yang ketika itu baru berumur sekitar 6 tahun, dan sebagai satu-satunya pemain bisnis perbankan syariah adalah Bank Muamalat Indonesia, dinilai sebagai bank paling sehat.

Keunikan Karakter

Sekitar satu dasawarsa berikutnya, tepatnya, 2009, sebuah krisis ekonomi juga terjadi, meski lebih menghantam Amerika dan Eropa, namun imbas globalnya juga terasa. Krisis yang bermula dari kasus Sub Prime Mortgage di AS yang membuatnya kelimpungan. Raksasa-raksasa finansial ‘sempoyongan’ yang kemudian menjadikan awal pemerintahan Obama melakuan bail out lebih dari 10 ribu triliun rupiah. Dalam kondisi itulah perkembangan Bank Islam (syariah) di USA diminati dengan produk utama Islamic mortgage.

Jika dianalisis mengapa bank syariah menjadi tangguh atau resilient? Sebenarnya terletak dalam kekhasan atau keunikan karakter bank syariah. Produk bank syariah yang harus bebas dari riba dan spekulasi telah mendorong pengembangan disain produk yang lebih berorientasi transaksi keuangan yang riil, bukan turunan (derivatif). Apa ini maknanya? Ini berarti sebuah keamanan bagi bank. Karena dengan keberadaan aset yang jelas, jika pun pembiayaan masuk pada pembiayaan bermasalah karena memang terpukul krisis atau kesulitan pelunasan dari nasabah, eksekusi akan dapat dilakukan dengan mudah.

Ini jauh berbeda dengan bank konvensional yang tidak memiliki constraint serinci bank syariah. Bank konvensional memiliki kebebasan sangat luas, ialah melakukan berbagai transaksi dan menyediakan berbagai produk selama tidak menabrak rambu-rambu prudential banking principles. Yakni seperangkat instrumen kehati-hatian yang mencakup setidaknya 5c (character, capital, capacity, collateral dan condition of economic). Terkait spekulasi, bank konvensional bebas melakukannya.

Kepatuhan Syariah

Pertanyaannya kemudian akankah dengan adanya krisis pada post covid era ini bank syariah akan tetap tegar? Sebuah pertanyaan menarik. Jika ketegaran bank syariah dalam berbagai krisis (bukan hanya di Indonesia) ternyata karena keunikan dan kekhasan yang dimilikinya, maka jawabannya adalah, sepatuh apa bank syariah memegang dan memelihara keunikan tersebut.

Dalam perbankan syariah dikenal adanya istrumen atau indikator shariah compliance atau kepatuhan syariah. Ialah suatu kondisi di mana seluruh aspek operasional dan produk yang ditawarkan bank syariah sejalan dengan prinsip-prinsip syariah di bidang muamalah. Jika kepatuhan ini tidak ditegakkan maka bank syariah tidak akan berbeda secara substansi dengan bank konvensional. Hanya brand syariah saja yang tertinggal.

Keistimewaan itu sebagaimana disebutkan di atas, ialah menghindari bunga dan spekulasi. Bunga akan menyebabkan negative spread yang menjadikan dana bank tergerus. Spekulasi akan menjadikan bank terjebak transaksi spekulatif. Di saat krisis, biasanya akan lebih berpotensi merugikan. Semoga shariah compliance bank syariah tetap dijaga.

Agus Triyanta PhD.
Ketua Program Magister Hukum FH UII.

BERITA REKOMENDASI