Memaknai Kemerdekaan

Editor: Ivan Aditya

APA makna kemerdekaan untuk rakyat Indonesia? Ketika dulu rakyat bersama para tokoh dan organisasi-organisasi pergerakan berjuang dengan tenaga, pikiran, harta, dan bahkan nyawa untuk kemerdekaan negerinya. Sesungguhnya, mereka bukan hanya ingin bebas dari penjajah yang menistanya ratusan tahun. Mereka sekaligus memiliki harapan dan cita-cita utama untuk menjad bangsa yang cerdas, maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Pendek kata ingin mewujudkan Indonesia berkemajuan secara totalitas, lahir dan batin.

Spirit kemerdekaan yang luhur itu diserap dengan utuh oleh para pendiri negeri ketika merumuskan Pembukaan UUD 1945 yang mengandung jiwa, pikiran, dan cita-cita Indonesia merdeka. Mereka menghayati betul, bahwa kemerdekaan itu diraih "Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas". Jiwa kenegarawanannya melampaui kepentingan diri, kroni, dan primordial sempit. Sehingga menjadi sosok-sosok teladan yang memberi jiwa luhur Keindonesiaan.

Kini setelah 71 tahun merdeka, adakah warga bangsa ini terutama para elite dan pimpinannya di seluruh struktur kehidupan menghayati makna kemerdekaan yang fundamental dan luhur itu?

Apakah nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial sebagaimana terkandung dalam Pancasila benar-benar menjadi jiwa, alam pikir, dan pola tindak para elite dan warga bangsa saat ini? Semua pihak wajib merenungkan pertanyaan penting ini sebagai basis nilai dan orientasi utama dalam mengisi kemerdekaan melalui cara mengurus negara dan bangsa dengan benar, baik, dan lurus.

Sungguh setelah puluhan tahun merdeka, masih dijumpai erosi, distorsi, dan deviasi dalam kehidupan kebangsaan di negeri ini. Kemiskinan, marjinalisasi dan lebih-lebih kesenjangan sosial masih menjadi problem nasional yang berat. Alam dikuras habis-habisan oleh para predator domestik maupun asing, sehingga merenggut hak dan kesejahtaan rakyat. Narkoba, korupsi, dan anarkisme menggerogoti bangunan negeri ini. Sementara segelintir orang atau kelompok dengan rakus menguasai kekayaan, aset, dan akses negara yang semestinya dinikmati sebesar-besarnya oleh mayoritas rakyat.

Para cukong, mafia, dan begal merajalela berbuat sekehendaknya untuk menguasai jagad kehidupan ekonomi, politik dan budaya dengan kekayaan dan kekuasaannya yang nyaris tak terbatas. Mereka tak punya rasa iba terhadap rakyat yang miskin, papa, lemah, dan terasing. Mereka tak peduli jika negara yang dengan susah payah didirikan oleh para pejuang bangsa ini jatuh bangkrut. Mereka hanya mementingkan diri dan kroninya. Negara hanya menjadi alat permainan libido predatornya yang liar. Kekayaan Indonesia pun sekadar menjadi pemuas nafsu kapitalisnya yang meluap-luap dan tak kenyangkenyang, yang membuat negeri ini terbajak secara masif.

Sebagian elite politik pun, yang lahir kemarin sore, ikut larut merayakan kerakusan itu. Di antara mereka hidup perlente, hedonis, menerabas, dan haus kuasa. Sehingga tak tergetar hatinya untuk peduli nasib rakyat kecuali ketika pada saat Pemilu dan Pemilukada. Dunia parpol menjadi ladang empuk oligarki politik, sebagian malah menjadi tempat sembunyi para benalu dan hama negara. Urat malu dan urat kepekaannya seolah putus, sehingga apakah Indonesia itu akan menjadi negara berhasil atau negara gagal tak menjadi keprihatinannya.

Tentu masih banyak elite politik yang berhati jernih, tetapi arus utama budaya politik parpol tersandera oleh alam pikir hedonis, materialistik, dan pragmatis yang tak berkesudahan. Jangan biarkan negeri ini dikuasai para perompak dan aktor-aktor tamak, sebab taruhannya ialah nasib bangsa dan negara ke depan. Sebagaimana peringatan Tuhan dalam Alquran, yang artinya : “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (QS Al-Isra: 16).

Maka, masih pentingkah setiap 17 Agustus bangsa ini ramai-ramai merayakan hari kemerdekaannya manakala sukma kemerdekaan yang hakiki telah hilang dari denyut nadi berbangsa dan bernegara saat ini? Segenap warga dan elite bangsa yang masih istiqamah dan berjiwa kenegarawanan tidak boleh menjadi mayoritas diam. Tampillah ke pentas menjadi kekuatan alternatif. Agar negeri ini tidak dibajak oleh para petualang dan predator haus tahta, harta, dan pesona dunia!

(Dr Haedar Nashir. Penulis adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah. Artikel ini tertulis di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 15 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI