Memaknai PLS

Editor: Ivan Aditya

PAGI dan jelang sore pekan ini, jalanan kembali ramai dipadati anakanak berseragam. Libur panjang telah usai dan aktivitas persekolahan mulai normal. Bagi mereka yang pertama kali memasuki jenjang sekolah lebih tinggi tentu akan berjumpa dengan banyak hal baru. Sekolah baru, teman dan guru baru, serta suasana pendidikan yang berbeda dari sebelumnya. Awal pekan ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal dan beradaptasi.

Tahun ini merupakan tahun kedua Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) diselenggarakan sebagai pengganti Masa Orientasi Siswa (MOS). Hal ini didasarkan pada Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016. MOS dilarang karena rentan tindak kekerasan dan menjadi ajang bullying dengan nama perpeloncoan. Hampir setiap tahun muncul berita siswa meninggal atau harus mondok di rumah sakit akibat MOS. Kondisi fisik yang kurang sehat, kelelahan, termasuk tekanan mental bertubitubi menjadi penyebabnya.

Perpeloncoan terjadi salah satunya akibat pihak sekolah terlalu memercayakan penyelenggaraan MOS kepada siswa senior sehingga terjadilah relasi senior-junior yang tidak sehat. Bahkan MOS tak lebih sebagai ajang balas dendam senior kepada juniornya. Mulai dari menggunakan atribut aneh hingga penugasan tidak masuk akal. Tak jarang orangtua siswa baru ikut kelabakan mempersiapkan hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan itu.

Celakanya bila menolak tugas maupun alpa mematuhi perintah senior, maka hukuman siap menanti. Mulai push up, squad jump, lari keliling lapangan, hingga bullying. Tentu halhal semacam ini tak ayal menjadi dendam yang siap diledakkan pada adik-adik kelasnya kelak. Bercermin dari pengalaman pahit ini, penyelenggaraan PLS tidak boleh lagi melibatkan siswa senior. PLS sepenuhnya dilakukan guru sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan dengan pengawasan kepala sekolah. Harapannya PLS dapat diisi kegiatan edukatif seperti cara belajar efektif, literasi, tata tertib sekolah, kepemimpinan, sosialisasi lalu lintas, pergaulan sehat, bahaya narkoba, hingga soal pemanfaatan media sosial.

Humanis dan Membebaskan

Persoalan mendasar sebenarnya bukan sekadar perubahan istilah, namun paradigma baru mengenai masa pengenalan siswa perlu dibangun. Masa PLS merupakan kesempatan emas bagi guru untuk bertemu dengan anak didik barunya. Guru bukan semata-mata pengajar yang bertugas melakukan transfer of knowledge. Guru merupakan pendidik yang tengah menyiapkan masa depan bangsa ini melalui generasi mudanya. Pendidikan sebagai bejana emas yang menyiapkan karakter bangsa pantang dikenalkan dengan kekerasan.

Keterlibatan seluruh guru dalam PLS menjadi suatu keharusan. Guru perlu mengenal lebih dekat sekaligus mempersiapkan siswa baru untuk memasuki lingkungan dan kehidupan yang baru. Peran elemen sekolah lainnya, seperti OSIS, untuk membantu teknis pelaksanaan PLS dapat diakomodasi sebagai bentuk pengalaman berorganisasi. PLS semestinya diselenggarakan dengan pendekatan yang lebih bermartabat.

Untuk mengenal institusi (sekolah) yang baru, siswa perlu dibimbing terlebih dahulu untuk mengenal dirinya secara lebih otentik. Mengenal diri sendiri, menemukan motivasi diri dalam belajar, merumuskan cita-cita, hingga harapan bagi sekolah barunya perlu digali. Siswa baru juga diajak untuk memahami berbagai hal yang mendukung proses belajarnya, menemukan potensi serta talenta diri yang masih terpendam dan upaya mengembangkannya, relasinya dengan orangtua dan keluarga, sampai pada pergaulannya selama ini. Dengan demikian guru dapat memahami siswa secara lebih utuh sebelum membantu mereka dalam proses pembentukan diri dan kepribadian.

PLS juga menjadi kesempatan yang baik untuk guru terutama wali kelas dalam mempersiapkan diri sebagai orangtua kedua bagi siswa di sekolah. PLS di beberapa sekolah yang melibatkan orangtua juga perlu diapresiasi. Bagi orangtua siswa, PLS dapat menjadi media komunikasi untuk bertemu guru sekaligus masrahke (menitipkan) anaknya untuk dididik dengan baik di sekolah tersebut. Jika saling mengenal dengan baik, harapannya dapat terwujud pendidikan yang lebih humanis dan membebaskan!

(Hendra Kurniawan MPd. Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 18 Juli 2017)

BERITA REKOMENDASI