Membangun Komunitas Epistemik ASEAN

Editor: Ivan Aditya

DISKURSUS terkait dengan Masyarakat ASEAN (ASEAN Community) semakin menguat akhir-akhir ini. Untuk merespons dinamika yang berkembang di tingkat ASEAN tersebut Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan simposium internasional yang mengundang praktisi dari kelompok bisnis, pemerintah dan masyarakat juga akademisi baik dari dalam maupun luar negeri. Simposium yang diselenggarakan selama dua hari yakni pada tanggal 16-17 November ini mengambil tema ‘Persisting Hope and Anxiety’. Tema ini diharapkan akan menghadirkan sebuah media yang baik dalam memetakan harapan dan kegelisahan dalam konteks implementasi Masyarakat ASEAN.

PSSAT merupakan pusat studi di UGM yang mendapatkan mandat dari Kemenristekdikti untuk menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) di bidang ilmu sosial sejak tahun 2016. Status sebagai PUI Perguruan Tinggi (PT) ini menjadi pendorong bagi PSSAT untuk bisa menjadi ‘tempat bertanya’ bagi pihak lain terkait dengan masalah sosial di Asia Tenggara. Sebagai salah satu upaya untuk memahami Asia Tenggara, maka PSSAT berusaha mempertemukan praktisi dan akademisi dari lintasdisiplin ilmu dalam satu forum simposium internasional.

Komunitas Epistemik

Berpijak dari forum tersebut diharapkan akan mempertemukan dan membangun apa yang disebut dengan komunitas epistemik. Menurut Peter M Haas, komunitas epistemik didefinisikan sebagai a network of professionals with recognised expertise and competence in a particular domain. Dalam konteks ini, Haas menegaskan bahwa komunitas epistemik berbicara terkait dengan keahlian seseorang dalam domain tertentu.

Kehadiran komunitas epistemik dalam konteks ASEAN menjadi sangat penting di tengah dinamika ekonomi dan politik di Asia Tenggara. Indonesia sebagai salah satu negara pendiri ASEAN dan sekaligus pasar terbesar di ASEAN akan banyak memainkan perannya dalam relasinya dengan negara-negara di Asia Tenggara. Relasi antarnegara ASEAN tentu tidak akan berjalan dengan mulus, pasti ada gejolak dan sedikit friksi dalam dinamika tersebut. Maka dalam hal ini, komunitas epistemik bisa menjadi salah satu media untuk menyelesaikan persoalan antarnegara ASEAN.

Dalam cakupan yang lebih spesifik, komunitas epistemik yang ada dalam forum simposium ini akan banyak membantu pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan segala bentuk persoalan. Persoalan-persoalan tersebut misalnya terkait dengan persoalan ekonomi, politik, sosial dan budaya yang dihadapi oleh Indonesia terkait dengan hubungannya dengan negara-negara Asia Tenggara.

Terkait dengan pentingnya fungsi komunitas epistemik dalam memecahkan persoalan antarnegara ASEAN bisa kita lihat dalam kasus memanasnya hubungan Indonesia dan Malaysia. Beberapa kasus yang sempat memanas antar Indonesia dan Malaysia adalah terkait masalah kepemilikan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Selain kasus tersebut, kasus lain misalnya Blok Ambalat, batik, angklung dan tari pendet adalah beberapa contoh kasus yang pernah mencuat yang membuat hubungan Indonesia dan Malaysia menjadi panas.

Ruang Kosong

Dalam konteks ini sebetulnya ada ruang kosong yang bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah dua bangsa yang serumpun tersebut. Ruang kosong tersebut bisa dimanfaatkan oleh komunitas epistemik baik yang ada di Indonesia maupun Malaysia untuk menyelesaikan beragam masalah dengan bijaksana. Peran strategis komunitas epistemik dalam penyelesaian perselisihan antarnegara khususnya di level Asia Tenggara bisa menjadi garda terdepan dalam merekatkan hubungan antarnegara. Hal ini karena komunitas epistemik akan bergerak menggunakan pendekatan-pendekatan argumentatif yang didasarkan atas kajian ilmiah masing-masing pakar.

Optimalisasi peran komunitas epistemik khususnya di bidang ekonomi perlu mengambil peran yang besar untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia. Peran ini menjadi sangat penting di tengah pertarungan pasar tunggal ASEAN saat ini. Untuk itu, forum-forum ilmiah perlu diselenggarakan agar bisa menjadi pusat pertemuan para ahli untuk menyelesaikan persoalan bangsa Indonesia. Maka dari itu, PSSAT sebagai salah satu pilar keilmuan yang fokus terhadap persoalan sosial Asia Tenggara mencoba memetakan bagaimana sebetulnya harapan dan kegelisahan terkait dengan implementasi Masyarakat ASEAN itu sendiri.

(Dr Phil Hermin Indah Wahyuni MSi. Kepala Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 16 November 2016)

BERITA REKOMENDASI