Membela Bahasa Indonesia

Editor: Ivan Aditya

BULAN Juni yang akan berakhir, identik dengan bulan Bung Karno (BK). Tokoh proklamator sekaligus mantan Presiden Pertama Republik Indonesia itu, selalu konsisten menggunakan Bahasa Indonesia dalam setiap ungkapannya atau pidatonya. Termasuk saat ia menyampaikan ungkapan tentang gotong-royong adalah intisari Pancasila sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem perilaku bersama. Pertanyaannya kini, apa yang bisa kita teladani dari sosok Bung Karno itu?

Terhadap pertanyaan itu, salah satu jawaban singkatnya ialah membela bahasa Indonesia secara konsisten. Bung Karno dikenal dengan ungkapannya yang menggugah, sarat optimisme hidup, dan inspiratif. Coba simaklah pendapatnya ini: ”Gotong-royong adalah pembanting tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buah kebahagiaan semua…”

Atau, simaklah pula pendapat Bung Karno yang lain : ”Dan kita harus sabar, tak boleh bosan, ulet, terus menjalankan perjuangan, terus tahan menderita. Kita harus jantan! … Ingat, memproklamasikan bangsa adalah gampang, tetapi menyusun negara, mempertahankan negara buat selama-lamanya itu sukar… Siapa yang ingin memiliki mutiara, harus ulet menahan-nahan nafas, dan berani terjun menyelami samudera yang sedalam-dalamnya.”

Repetisi

Ungkapan-ungkapan Bung Karno sarat dengan gaya bahasa yang menarik. Salah satu gaya bahasa yang banyak ia gunakan adalah repetisi. Secara sadar, Bung Karno menggunakan repetisi pilihan kata (diksi) dan bunyi rima agar ungkapan-ungkapannya enak didengar dan menggugah. Dan, satu hal yang terpenting, Bung Karno tak pernah menyisipkan kata-kata asing (Bahasa Inggris) di dalam pidatonya. Ia, secara sadar, telah membela Bahasa Indonesia.

Meskipun Bung Karno memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, tetapi secara sadar tetap menggunakan Bahasa Indonesia di depan rakyatnya. Mungkin, ia berpandangan jika sebagai pemimpin sering menggunakan Bahasa Inggris, lantas rakyat pun akan mencontohnya. Demikian halnya dengan Bung Hatta, tokoh proklamator sekaligus mantan Wakil Presiden Pertama RI. Keduanya dikenal sebagai tokoh pembela Bahasa Indonesia hingga akhir hayatnya.

Rasa-rasanya sikap membela Bahasa Indonesia kian lama kian hilang di antara kita. Buktinya, nama perumahan, pusat perbelanjaan, dan gedung ditulis dalam Bahasa Inggris. Begitu pula pada iklan-iklan spanduk dan baliho di tepi jalan. Pendek kata, kosakata Bahasa Inggris bertaburan di ruang publik kita saat ini. Salah siapakah ini? Pemerintah atau masyarakat Indonesia? Apakah pemerintah menutup mata terhadap fenomena keranjingan bahasa Inggris itu?

Dari segi produk hukum, sebetulnya kita telah memiliki Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Melalui undang-undang tersebut, jelaslah bahwa kita dituntut untuk mengutamakan Bahasa Indonesia daripada bahasa asing. Contohnya, ucapan ’Selamat Datang’ dipasang paling atas, kemudian diikuti ’Sugeng Rawuh’ dan ’Welcome’ di bandar udara internasional di Yogyakarta.

Jika kita ingin meneladani Bung Karno, tak ayal usaha yang pertama-tama kita lakukan adalah membela Bahasa Indonesia. Saat ini, Badan Bahasa telah menerbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring yang dapat diakses di mana pun dan siapa pun melalui lamannya http://kbbi.kemdikbud.go.id.

Dua Saran

Sebagai penutup artikel ini, saya ingin sampaikan dua saran. Pertama, sikap membela Bahasa Indonesia sebagaimana ditunjukkan oleh Bung Karno hingga akhir hayatnya, selaras dengan salah satu pilar Trisakti yang digagasnya sendiri, yaitu berkepribadian secara budaya. Bahasa Indonesia merupakan bagian dari budaya Indonesia. Oleh karena itu, wajiblah bagi kita untuk merawatnya sebaik mungkin, jangan sampai merusaknya.

Kedua, sikap membela Bahasa Indonesia dapat dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, dan dari sekarang. Dalam setiap kita berkomunikasi, mari kita berdisiplin dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik menurut kaidah berkomunikasi dan benar menurut kaidah ejaan bahasa Indonesia. Jika tidak kita yang membela bahasa Indonesia, lantas siapa lagi? Dan jika tidak sekarang kita membela bahasa Indonesia, lantas kapan lagi?

(Sudaryanto MPd. Dosen PBSI FKIP Universitas Ahmad Dahlan; Pemred Tabloid Kabar UAD; Pengurus APPBIPA Jogja Periode 2015-2019. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 1 Juli 2017)

BERITA REKOMENDASI