Membenahi Dunia Perbukuan

Editor: Ivan Aditya

AKUN facebook Tere Liye tertanggal 5 September 2017 menarik kita cermati bersama. Ia merilis kabar bahwa buku-bukunya tidak lagi diterbitkan oleh Penerbit Gramedia dan Republika per 31 Juli 2017. Sejumlah 28 buku buah karyanya tidak akan dicetak ulang. Sikap tegas tersebut tidak lahir dari ruang hampa.

Secara lugas, Tere mengeluhkan betapa para penulis buku harus ‘dicekik’ pajak 24 kali lipat lebih besar dari pada profesi pekerjaan bebas lainnya. Secara alamiah, sikap Tere menggiring kesadaran kolektif kita pada nasib para penulis buku. Menulis buku, tidaklah mudah. Tak semua orang bisa menyelesaikan satu buah buku, dengan aliran kalimat yang menginspirasi dan membuka ruang kesadaran baru. Namun di sisi lain, apresiasi terhadap para penulis, sangat minim. Hingga kini, sangat sulit kita temui para penulis buku yang sejahtera. Kenyataannya memang, apresiasi yang diberikan tidaklah seberapa, sedangkan pajak yang harus ditanggung demikian ‘menggila’. Di sisi lain, pemerintah juga belum tampak serius melindungi nasib penulis buku dari para pembajak.

Kontribusi

Karya sastra, penelitian, fiksi, atau bahkan non fiksi sesungguhnya memberikan kontribusi bagi pembangunan negara, baik dalam tataran fisik atau pun mental. Ketika berbondong para penulis memotret ketidakadilan pada perempuan, pemerintah kemudian mulai memperhatikan kesetaraan jender. Ketika bergelombang penulis memotret kesenjangan sosial, pemerintah kemudian mulai meluncurkan berbagai program pengentasan kemiskinan. Begitu seterusnya. Gerakan pena yang dilakukan para penulis secara kolektif mau tidak mau dapat menggerakkan pemerintah untuk menata kembali kebijakan publik.

Kebijakan publik selalu memiliki interaksi mesra dengan ide-ide dan narasi yang dituliskan penulis, terlebih penulis yang sudah mendapatkan posisi istimewa di hati pembaca. Dalam konteks ini, sesungguhnya penulis novel semacam Tere Liye, Asma Nadia, Dee Lestari, dan lain sebagainya tentu memberikan gagasan emas bagi pembaca, juga bagi pengambil kebijakan publik. Berkat kejujuran pena penulis mengutarakan fakta-fakta di lapangan, maka yang selama ini tersembunyi, semisal kekerasan pada perempuan dan anak, serta ketidakadilan jender menjadi muncul ke permukaan dan mendapat perhatian dari berbagai kalangan.

Penulis buku memberikan banyak inspirasi bagi pembaca. Tak jarang, mereka membekaskan nilai-nilai moral dan prinsip hidup yang baik dan kuat. Artinya, penulis buku merupakan figur tersembunyi yang mampu menanamkan sikap moral, sehingga secara tidak langsung meningkatkan kualitas hidup para pembaca. Seringkali, kisah atau pun hikmah dalam sebuah buku mampu mendorong pembaca untuk menghayati kesedihan dengan lebih bijaksana.

Para penulis merupakan sosok di balik layar yang mencoba bekerja untuk kemanusiaan. Mereka mencoba menghidupkan sisi kemanusiaan di tengah dehumanisasi era digital. Penulis bisa mengangkat pena sebagai senjata untuk melawan korupsi, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kerja menulis buku ialah kerja keikhlasan, sebab hingga kini, apresiasi yang diberikan tidaklah sebanding dengan perjuangan menuliskan fakta dan realitas sosial.

Energi Dahsyat

Penulis buku seharusnya memang tabah. Di bilah yang lain, pemerintah dan dunia literasi harus berbenah untuk memberikan apresiasi yang layak. Jika tidak, nasib dunia literasi di Indonesia akan lesu, sehingga akan sulit mencetak generasi yang kritis. Buku memang memiliki energi dahsyat. Maka, kita mesti mengamini aliran kalimat dari Mochtar Lubis : ”Senjata yang kukuh dan berdaya hebat untuk melakukan serangan maupun pertahanan terhadap perubahan sosial, termasuk perubahan nilai-nilai sosial dan kemasyarakatan, adalah buku.”

Semakin tak terbantahkan, bahwa para penulis buku telah ikut mewarnai karakter positif manusia Indonesia dengan karakter yang baik dan kuat. Meski hanya melalui pena, para penulis buku berdialog akrab dengan para pembaca, memberikan masukan, saran, dan hikmah. Jika buku begitu berarti bagi negeri ini, tak ada pilihan lain kecuali memperhatikan nasib pejuang pena dan memperbaiki regulasi di dunia literasi. Pejuang pena tak boleh dicekik dengan pajak tinggi. Sebab mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk memilih kalimat yang bijaksana untuk menebar kebaikan di tanah air.

(Nurul Lathiffah SPsi. Penulis Buku Bahan Bacaan di Balai Bahasa Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 15 September 2017)

BERITA REKOMENDASI