Membendung Urbanisasi dengan Bertani

Editor: Ivan Aditya

HIDUP sejahtera dan berkecukupan materi ialah impian hampir setiap orang. Pelbagai cara dilakukan untuk mendulang pundi-pundi rupiah. Urbanisasi ialah salah satu cara yang hingga kini dipercaya sebagian besar masyarakat Indonesia untuk meraih keniscayaan itu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi dari urbanisasi ialah perpindahan penduduk secara berduyun-duyun dari desa (kota kecil, daerah) ke kota besar.

Jakarta, Bandung, Denpasar, Yogyakarta, dan kota besar lainnya menjadi tujuan untuk meraih hidup yang lebih baik. Pascalibur panjang Idul Fitri seperti sekarang ini, biasanya banyak sekali masyarakat yang tinggal di daerah atau pedesaan berbondong-bondong menuju ke kota untuk mengadu nasib. Sebelum melakukan urbanisasi seyogianya kejelasan hidup di kota tujuan sudah harus jelas. Pasalnya jika hanya modal dengkul tanpa rencana, bekal, dan tujuan yang jelas, maka yang didapat bukanlah kesejahteraan melainkan kesengsaraan.

Dampak Urbanisasi

Urbanisasi ini bukanlah tanpa efek, kota besar yang sudah padat penduduk tentu akan semakin terasa sempit akan adanya surplus warga pendatang yang belum jelas tujuannya. Menurut catatan Bank Dunia pada 2016, laju urbanisasi di Indonesia lebih cepat dari China dan India. Laju urbanisasi Indonesia ialah yang tercepat di Asia, hal tersebut bisa dilihat dari total kenaikan populasi perkotaan dengan persentase yang cukup fantastis yaitu 4.4% atau sekitar 177 juta jiwa akan tinggal di perkotaan.

Jika melihat data di atas, maka laju urbanisasi di Indonesia sudah masuk katagori yang melampaui batas. Angka urbanisasi di Indonesia yang begitu besar akan memicu banyak sekali dampak negatif seperti kemacetan, pengangguran, pelacuran, kriminalitas, dan kesenjangan ekonomi. Urbanisasi yang awalnya diharapkan bisa menjadi solusi atas kesulitan ekonomi kini justru memperburuk perekonomian individu, daerah, dan nasional.

Begitu mengerikannya dampak urbanisasi yang tidak terkontrol, maka perlu ada upaya untuk mengevaluasi laju urbanisasi di Indonesia. Untuk mengikis angka urbanisasi yang kian melonjak, perlu kesadaran dan kerja sama dari pelbagai pihak. Jika melihat potensi daerah dan pedesaan di Indonesia yang luar biasa, seharusnya masyarakat di daerah tidak perlu lagi hijrah ke kota-kota besar.

Agraris

Selain dikenal sebagai negara maritim karena banyak wilayahnya yang berupa perairan, Indonesia juga dikenal sebagai negara agraris. Beberapa produk pertanian yang dihasilkan Indonesia, baik hasil perkebunan maupun persawahannya mampu bersaing dengan hasil pertanian dari mancanegara. Dengan kondisi tanah yang subur, dan iklim yang mendukung Indonesia akan menjadi negara yang bersahabat dengan pelbagai tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Kualitas produk pertanian Indonesia yang unggul di kancah internasional seharusnya menjadikan banyak masyarakat yang tertarik untuk menjadi petani ketimbang merantau ke kota, namun yang terjadi justru sebaliknya. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah petani Indonesia 2014 mencapai sekitar 38 juta jiwa. Angka tersebut tentu angka yang kecil jika dibandingkan angka populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 260 juta jiwa dan luasnya lahan pertanian Indonesia.Pergi ke kota tanpa bekal dan rencana yang jelas sama saja dengan memperburuk perekonomian individu, daerah, dan nasional. Mempertimbangkan untuk mengolah lahan pertanian di daerah ialah salah satu solusi untuk hidup sejahtera di kampung halaman sendiri. Meningkatnya minat bertani akan mendorong program pemerintah berdaulat dalam pangan. Indonesia tidak perlu mengimpor beras dan bahan makanan lainnya. Semua disediakan petani Indonesia yang produknya siap bersaing secara global.

Urbanisasi bukanlah satu-satunya solusi untuk mengentaskan kemiskinan, justru bisa berakibat sebaliknya. Bertani ialah salah satu alternatif untuk meraih kesejahteraan dan menjaga keseimbangan alam yang kian rusak. Munculnya generasi muda yang mau menjadi petani dan tinggal di daerah akan membantu pemerataan pembangunan nasional. Hidup sejahtera tidak hanya terjadi di kota saja, tetapi juga di desa.

(Thoriq Tri Prabowo SIP MIP. Alumnus Magister Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 6 Juli 2017)

BERITA REKOMENDASI